Ketika Hati Bicara by Tita Tjindarbumi. Pernahkah kamu berpikir untuk berpaling dari masa lalu? Berjalan dengan tegap menatap hari esok yang-barangkali-bisa lebih cerah dari hari lalu? Berkali-kali Nata mencoba untuk menata kembali hari-hari yang pernah dilaluinya.Lebih banyak duka ketimbang suka. Lebih banyak nestapa ketimbang bahagia. Tetapi toh ia masih mampu untuk tegar.
“Kamu adalah petualang yang belum mengenal kata lelah,”kalimat itu begitu singkat.Tetapi mampu menusuk hatinya.
“Kritik seperti terkadang kuperlukan.Setidaknya untuk evaluasi diri.Sungguhkah itu.Atau kamu hanya mengada-ada.Terlalu mendramatisir keadaan.”
Nata terlalu pandai memilih kata-kata.Dengan begitu tak seorang pun betapa hatinya terluka. Terpojok. Nata paling benci dengan julukan ‘Petualang’. Di telinganya istilah itu berkonotasi negatif.
“Hampir semua mata menilaimu cewek pongah.Yang selalu mampu melakukan apa-apa sendiri.Yang dalam perjalan hidupnya tak memerlukan lagi uluran tangan orang lain.”
Valen masih saja nyerocos. Kalimat demi kalimat yang dilontarkannya seolah memang di peruntukkan menyakiti hati gadis itu.
”Mereka baru menilaiku dengan mata. Bukan dengan hati. Padahal baik mata baik hati harus sama-sama berbicara. Itu baru penilaian yang obyektif, Val. Ku harap kamu tidak takut terpengaruh oleh mereka. Kamu teman ku, sahabat ku… kuharap kamu tidak mempunyai penilaian sama tentang diriku. Okey?”
Tak ada nada amarah dalam kalimat Nata yang panjang itu. Nadanya terlalu tenang hingga mampu memendam kemarah yang sudah membara di dadanya. Bagaimana tidak? Valen hampir setiap hari bersamanya. Hampir semua aktivitasnya selalu berhubungan dengan cowok itu. Baik kulikuler maupun ekstra kulikuler. Nata berharap Valen bisa menyelami siapa dirinya.
”Sorry… aku tak maksud mengkritikmu. Hanya menyampaikan apa yang aku dengar selama ini. Sungguh….”
Ada penyesalan di bola mata Valen yang biru. Anak indo ini tidak pernah mampu berbohong. Nata bisa melihat kejujuran di matanya yang bagus itu.
Sayang. Nata menarik napasnya sedikit agak panjang. Sesungguhnya Valen sangat menarik. Tetapi ia telah memberikan harapan pada cowok lain. Seseorang yang sama sekali tak pernah muncul bersamanya. Seseorang yang selama ini berada di balik layar.
”Kamu tahu, Ta. Mereka yang menilaimu kebanyakan adalah mereka yang tak pernah mendapat perhatian mu. Barang kali mereka merasa tak di perhatikan oleh mu,” ujar Valen lagi, seolah ingin memperbaiki ucapan-ucapannya tadi.
”Mereka boleh-boleh saja begitu. Aku tidak keberatan kok. Lagian itu hak mereka.”
****

jjm
Perpisahan memang sulit untuk di elakkan. Ia datang begitu saja. Seperti halnya dengan perjumpaan. Terjadi tanpa ada yang merencanakan.
“Aku akan belajar di Surabaya, Ta,” ujar Valen suatu siang di tengah hiruk pikuk kota Jakarta.
“Ngapain kamu di sana?Jakarta saja sudah begini panasnya. Apalagi di Surabaya. Ogah des,” Nata berusaha menyembunyikan rasa terkejutnya. Mengapa begitu mendadak?
“Mau ngapain kamu di sana?”
Valen tertawa ngakak. Ditunjunya punggung Nata. Tidak sungguhan, tentunya.
“Ya kuliah, Non, emangnya aku mau ngapain? Pertanyaanmu kok aneh?”
“Habis aku heran. Di sini saja Perguruan tinggu berjubel, eh malah kabur ke kota lain. Kalau nggak ada penyebabnya nggak munfkin des kamu senekad itu. Please….ceritakanlan padaku.”
Kendati Nata telah berusaha mengorek keterangan dari berbagai pihak, toh tak ada jawaban yang melegakan perasaannya. Semua oihak seolah sengaja tutup mulut. Sengaja membiarkan Nata diliputi berbagai pertanyaan.
Kepergian Valen memang merupakan teka-teki. Tetapi Nata tidak terlalu memusingkan. Baginya itu urusan Valen dan keluarganya. Apalagi nampaknya Valen tetap merahasiakan sebab musababnya.

****
Nata menyusuri pantai. Dibiarkannya air membasahi bagian bawah jeansnya. Sore ini Nata benar-benar ingin menikmati panorama pantai. Menikmati keindahan yang masih begitu asri.
Biasanya ia selalu menyukai panorama pantai. Mendengar debur ombaj mengingatkannya pada tanah kelahirannya. Di pantai pula ia pertama kali mengenal cinta kasih dari seorang cowok yang selama ini dengan rapi bersemayam di hatinya. Cowok yang telah menabur benih kasih di dadanya. Cowok yang belakangan ini selalu mengusik ketengangannya.
“Apa yang kita harapkan dari laut dan pantai ini, Ta.”
Demikian pernah ia ucapkan. Seolah tanpa maksud apa-apa.tetapi Nata tahu, cowok itu mulai bosan dengan lingkungan di sekitarnya.Mulai enggan dengan keasrian tanah leluhurnya.
“Banyak orang yang merindukan suasana seperti ini. Tetapi kamu malah bersikap sebaliknya,” uar Nata mengingatkan cowok terkasihnya. Ada jarak terentang kendati hubungan mereka sudah berjalan cukup lama. Danial—cowok tegap berkulit gelap itu—tetap saja dikenalnya sebagai coek tertutup. Nata selalu berusaha mengerti Danial tidak mudah percaya pada orang lain. Garangnya lautan dan sesekali badai yang menerjangnya, membuat Danial kelihatan begitu sulit diselami.
Pada awalnya Nata merasa kesulitan memulai pembicaraan dengan cowok itu. Apalagi mengingat satus ekonomi mereka begitu jauh berbeda. Danial hanyalah salah seorang outra dari nelayan yang sehari-harinya bekerja di laut. Sedangkan Nata?Ia cucu dari saudagar di kampung nelayan itu. Sebenarnya bukan karena kedudukan sosial yang membuat Nata enggan memulai persahabatan dengan Danial. Hanya karena Danial begitu pencuriga dan terlalu hati-hati dalam bergaul sajalah yang membuat Nata ragu-ragu untuk melangkah.
“Tidak semua orang harus kita curigai, Iyal,”ujar Nata ketika pertama mereka berbincang akrab. Sebenarnya Nata dan Danial sudah lama saling mengena. Ketika kecil Nata mengunjungi sang kakek di kampung nelayan itu. Hanya saja mereka tumbuh di tempay yang berbeda. Itu saja yang membuat mereka tampak berbeda.
“kamu jangan salah menafsirkan sikapku, Ta. Salah kalau aku bersikap lebih hati-hati,” jawabnya dengan pandangan jauh ke depan. Rupanya laut begitu memukaunya.
“Berhati-hati sih boleh-boleh saja. Tetapi nggak berarti kamu harus menutup diri,” Nata mencoba mengoreksi.
“Apa bedanya?Tokh tidak ada yang tertarik padaku. Aku ini apalah?”
Danial begitu rendah diri. Atau hanya biasan kerendahan hatinya?
Walau pun seorang anak nelayan, Danial memiliki wajah yang tampan. Kulitnya yang hitam malah merupakan daya tarik tersendiri bagai Nata. Setidaknya di mata Nata Danial lebi kelihatan jantan dibandingkan dengan cowok-cowok yang berkulit bersih.
“Kamu terlalu merendahkan dirimu, Iyal. Aku tahu banyak gadis-gadis di sini yang bernasib sama. Mereka begitu sulit mendekatimu. Seoalah mereka tak menarik di matam,” ujar Nata setengah bercanda.
“Apa yang mereka harapkan dariku. Aku hanya anak nelayan yang tidak memiliki apa-apa.”
Nata meninju Danial. Ini sengaja ia lakukan. Selama ini Danial selalu merentangkan jarak. Jangankan bersikap manis, memandangnya saja ragu-ragu. Sepertinya ada keinginan tetapi tidak memiliki keberanian. Cara satu-satunya yang harus Nata lakukan adalah bersikap lebih agresif.
“Kamu memiliki wajah yang tampan. Selain itu kamu juga memiliki masa depan. Bukan hanya sebagai pewaris kerajaan lautan ini,”Nata menggoda. MAtanya yang hitam membulat,”Kalau kuliahmu selesai kamu bisa mengelola usaha keluargamu dengan cara yang lebih modern, jadi jangan pesimis. Pandang dan sambutlah hari esok dengan penuh optimis,”Ujar Nata lagi, entah dari mana kalimt-kalimat itu. Bersama Danial ia merasa lebih bebas berpendapat. Sekali pun cowok itu hanya diam dan diam.

*****

Kalau Nata mau jujur, ia lebih suka berada dekat Valen. BUkan karena Valen lebih modern pandangannya. Tetapi karena bersama Valen ia bisa berdebat hebat. Sedangkan bersama Danial?Cowok itu terlalu pendiam. Baginya dial berarti emas. Dan ini nampaknya sudah mendarah daging dalam kehidupannya. Padahal dengan diam sepanjang hari belum tentu akan menyelesaikan persoalan.
Apalagi persoalam yang kini terjadi. Danial memang tidak punya hati. Ia pun tidak bernyali. Terlalu lama menunggu hati cowok itu merusak lukisan cinta kasihnya, adalah perbuatan yang tak termaafkan. Setidaknya untuk detik ini.
“Aku nggak nyangka kamu bisa bersikap begitu,” Darah Nata sudah sampai di ubun-ubun. Selama ini ia selali bersikap mengalah.Mencoba mengerti bahwa Danial memang tidak sama dengan cowok-cowok lain yang pernah dikenalnya. Tidak seperti Valen yang ceria. Yang selalu siap meniolongnya. Dan juga menghiburnya. Tetapi tidak menghancurkan perasaannya seperti sekarang ini.
“Saya Tidak punya pilihan lain, Nata.”Cuma itu yang keluar dari mulutnya.Nata membayangkan Danial akan mengemukakan beribu alasan mengapa ia menerima tawaran sang bapak yang akan merpertunangkan dengan anak dari saudagar kapal dari kampuung nelayan dimana Danial dan orang tuanya tinggal.
“Kamu kan seorang laki-laki yang dapat menolak dengan alasan yang tepat,” ujar Nata lagi setengah berteriak.
“Nggak ada jalan lain, Ta .Hanya itu. Orang tuaku terlibat hutang dengan mereka. Ini jalan satu-satunya yang mereka tawarkan. Aku tak mau dibilang anak durhaka. Lagi pula apa yang bisa aku lakukan selain menerima?”
Duh! Bagai disambar petir Nata mendengarnya.Tidak disangkanya Danial sepicik itu. BAgaimana mungkin, ia mempertaruhkan segalanya hanya karena untuk membayar lunas semua hutang orang tuanya. Di jaman yang modern ini, yang katanya era globalisasi, masih ada orang yang berpikiran kolot begitu. Dan Danial begitu hanyut dalam rangkuman tradisi. Melunasi hutang dengan menukar putranya. Hah, sinting!
Nata sadar selama ini ia hanya hanyut dalam lamunannya. Terbuai dalam mimpi-mimpi kosong. Yang membuahkan kepahitan.
“aku harap kamu bisa mengerti. Mengerti akan keadaanku. SEbenarnya aku ingin berontak. Tetapi setelah kupikir berhari-hari, aku tak menemukan penyelesaian yang tepat selain menerima semua ini.”
“Barangkali memang itu jalan yang harus kamu tempuh.Setidaknya dengan begitu kamu tak perlu memikirkan apa-apa lagi. Kamu memang lebih tahu apa yang terbaik bagi dirimu.”
Akhirnya Nata mau mengerti. Mempertahankan seseorang yang sama sekali tidak pernah mengharapkan diirnya adalah perbuatan dungu.Walau pun ia begitu menyayangi Danial. Begitu berharap hubungannya yang selama ini dianggapnya istimewa dan berakhir manis. Nyatanya…..
******

Galeria Matahari selalu ramai. NAta mencoba lebur di dalamnya. Sebetulnya ia tidak punya rencana berbelanja. Tetapi pikirannya sedang kalut. Ia ingin melupakan peristiwa dengan Danial. Melupakan segalanya. Berharap Danial berubah pikiran adalah pekerjaan sia Seperti pungguk merindukan yang bulan.
Nata tersenyum. Teringat kembali masa-masa bersama cowok berkulit gelap itu. Berjalan-jalan di tepi pantai sambil memandang birunya laut. Menikmati kicau burung camar yang riang berterbangan. Dan sesekali sengatan matahari. Semua itu menciptakan pesona sendiri bagi diri Nata.
Kini semuanya telash berakhir. Seringkali Nata mencoba merenung dan merenung. Dalam doanya ia berharap Danial akan kembali padanya. Setidaknya menyadari betapa ia mencintai cowok itu lebih dari apa yang diperkiakannya. Barangkali selama ini Danial tidak bernai melangkah sejajar di sisinya karena status sosial dan kesenjangan sosial yang ada di antara mereka?
Puih…benar-benar picik.Bagaimana mungkin di jaman yang telah maju ini….
“Hei…kalau ngelamun jangan di jalan dong.”
Tiba-tiba saja seseorang telah berada persis di depannya. Memandangnya dengan tatapan penuh arti.
Nata menggeser tubuhnya. Dari mana datangnya cowok perkasa ini?mengapa tiba-tiba berdiri di depanku? Dan…hm rupanya ia sengaja menabrakku. Walau pun aku berjalan sambil melamun, tetapi mataku masih awas kalau hanya untuk melihat seseorang atau barang-barang yang berada di sekitarku. Ia pasti sengaja menabrakku!
“Hei…kamu tidak mengenaliku?”
Serta merta cowok itu emnarik lengan Nata. Menepi. Seperti dihipnotis, NAta ikut saja.
“Kamu memang sombong,Ta,”cowok itu membuka kaca mata hitamnya.
Mata Nata membelalak. Ya, Tuhan….
“Sorry…kulitmu mengapa menjadi hangus begitu? dan rambutmu itu…hii,” Nata mengedik.
“Kamu kelihatan dekil dan tak terurus!”Komentar Nata spontasn. Siapa yang mengenalimu, Val, keadaanmu begitu jauh berubah. Valen yang kukenal dulu begitu halus dan rapi. Kini…..
“Aku ingin terlihat lain di matamu. Aku sudah lama tahu bahwa cowok berkulit halus, berbibir merah jambu dan terlalu necis bukan tipemu,”ujar Valen lagi dengan berapi-api. Ia tidak peduli apakah Nata akan menghardiknya.Atau bahkan mengusirnya!
“Jiwa petualangmu masih kental,” kata Valen lagi seperti tidak peduli kalau mereka baru saja bertemu setelah sekian lama berpisah.
“ya, tetapi aku kini petualang yang telah kalah, Val,” jawabnya bagai sebuah pengaduan.
“Aku sudah tahu. MAtamu telah banyak berbicara. Anak nelayan itu telah membuatmu jatuh terpuruk?”
“Dari mana kamu tahu?”
Mata gadis itu membulat.Sebersit kecurigaan memasuki rongga dadanya. Rupanya Valen tahu banyak tentang “rahasia”nya. Siapa yang begitu lancang membocorkan rahasianya?
“Aku sudah lama mengetahui hubunganmu dengananak nelayan itu. Pada mulanya kupikir itu hanya salah satu bentuk kegilaanmu belaka.Cuma pelampiasan jiwa petualangmu. Tetapi setelah kuselidiki, ternyata kamu sungguh-sungguh mengagumi anak nelayan itu. Malah aku sempat berpikir bahwa kegilaanmu itu membabi buta.Apalagi setelah kuketahui sendiri bagaimana pribadi anak nelayan itu. Maaf…sejak awal sudah kuduga, anak nelayan yang bernama Danial itu tidak akan berani menyambut perhatianmu. Sekali pun kamu benar-benar menginginkannya. Anak nelayan itu….”
“Stop, Val. Aku tak mau mendengarkan ocehan konyolmu itu. Semua telah berakhir. Biarkan semuanya menjadi bagian dari masa laluku. Itu kalau kamu masih ingin bersahabat denganku,” potong Nata cepat. Kalau dibiarkan Valen akan ngoceh terus, tidak ada hentinya. Ia memang kadang cerewet!
Wajah Valen yang kini berubah kehitam-hitaman itu tersenyum. NAta berusaha menghindar dari tatapan coowk itu. Walau pun hatinya sedang terluka akibat ulah Danial, rasanya tidak adil menjadikan Valen yang manis sebagai pelampiasan kemarahannya.
Tidak akan pernah, Val. Sebab tak ada yang lebih berharga selain belajar dari masa lalu. Percayalah, aku bukan petualang seperti yang kamu pikirkan. Anak nelayan itu memang pernah menjadi bagian dari masa laluku yang terluka. Setidaknya aku masih mampu mendengar suara hatiku, gumam Nata dalam bisu. (‘tuk kenangan yang membelajarkan dan mendewasakanku.)

THE END