Duka Sekeping Hati bag 2 by Yanti Ilmi. Jodha tertunduk, coba meresapi kata-kata salima. Dia ingin mengakui kalau apa yang di katakan Salima adalah benar adanya, tapi dia ragu. Melihat keraguan di wajah Jodha, Salima melanjutkan, “Kalau kau memandangnya sebagai seorang raja kau pasti akan merasa kecewa dengan perbuatannya karena ketidak adilan dan kesemena-menaannya. Kalau seorang raja melakukan kesalahan pada siapa lagi kita akan meminta keadilan? Memang tak pantas kalau seorang raja membunuh orang-orang yang tak berdosa dan itu dilakukannya di medan perang. Karena perbuatanya itu rakyat akan beranggapan kalau membunuh orang-orang yang yang tak berdosa adalah hal biasa karena yang mulia raja melakukannya. Tapi ratu jodha, anggaplah yang mulia raja adalah seorang manusia biasa yang pernah melakukan kesalahan dan kewajiban kita lah sebagai istri membimbing yang mulia raja, ratu jodha. kita patut bersyukur dia telah menyadari kesalahannya. Dia telah kembali pada jalal sewaktu bersama mu. Aku tak dapat membayangkan kalau dia masih pada jalal yang tak punya perasaan… dosa apa lagi yang akan dia perbuat. Ratu jodha terkadang kita merasa kecewa yang teramat dalam pada seseorang kerena pengharapan kita pada orang tsb yang begitu besar. ini terjadi karena ketidak siapan kita menerima bahwa apa yang kita harapkan dari orang tsb tidak terwujud. Aku tahu itulah yang kau rasakan pada yang mulia raja. Ratu jodha, kuharap cukuplah hukuman mu untuk yang mulia raja… semenjak kau abaikan jelas terlihat kesedihan diwajahnya… dia telah mendapatkan hukuman atas kesalahannya sendiri… ketidak tenangan dalam menjalani hari-harinya…. Dan tentang yang mulia raja mendirikan tenda dibelakang istana, saya rasa yang mulia raja pasti mempunyai maksud tertentu.”

vlcsnap-2014-12-04-07h14m55s44Ada sedikit ketenangan di hati jodha setelah mendengar perkataan ratu salima. Jodha berusaha berdamai dengan perasaannya… Jodha ingin bertemu dengan jalal. Dia berjalan sedirian ke tenda belakang istana. Sebelum memberikan salam jodha melihat jalal berdiri termenung di depan jendela. Jodha mengucapkan salam. Jalal menoleh dan sedikit terkejut melihat kedatangan jodha tapi dia tidak membalikkan badannya. Jodha menghampiri jalal dan menanyakan bagaimana keadaan jalal. Dengan suara datar jalal mengatakan kalau dia baik-baik saja dan meminta jodha agar tidak mencemaskannya. lalu jodha menanyakan kenapa jalal melepaskan obat yang dia pasangkan kemaren malam. Masih membelakangi Jodha, jalal menjawab kalau dia hanya ingin lebih lama dengan luka ini karena setiap dia merasakan kesakitan sekurang-kurangnya dia akan ingat dan merasakan sakitnya orang-orang yang tak bersalah meregang nyawa dengan pedangnya walaupun dia tahu rasa sakitnya tak akan pernah sebanding dengan para korbannya. Jodha ikut terluka mendengar penjelasan jalal.. lama jodha memandang punggung jalal dengan perasaan sedih.. jodha ingin menyentuh pundak jalal tapi terhenti ketika jalal berkata “Ratu jodha aku sedikit lelah dan ingin beristirahat bisakah kau meninggalkan aku sendirian?”

Jodha memahami maksud jalal. Setelah memberi salam dengan berat hati Jodha meninggalkan tenda Jalal. Ketika melangkah pergi, jodha melihat moti berjalan kearah tenda jalal. jodha menayakan apa yang moti lakukan. moti menjelaskan kalau yang mulia raja memintanya untuk membuatkan obat untuk lukanya. jodha bertanya kepada moti mengapa harus kau moti? mengapa yang mulia raja tidak meminta ku? Seolah mengetahui perasaan sahabatnya, moti meminta jodha untuk tenang, mungkin yang mulia raja tidak ingin membuat mu merasa bersalah… moti berkata pada jodha kalau dia harus segera memberikan obat ini pada yang mulia raja dia takut kalau yang mulia raja menantikan obat ini.

Jodha berjalan menjauhi tenda jalal. tiba-tiba jodha membalikan badan dan bergegas kembali menuju ketenda jalal. ada keraguan ketika memasuki tenda jalal. dia melihat jalal bertelanjang dada duduk di pinggir sofa. Jodha memperhatikan Jalal yang nelangsa sambil mengoleskan sendiri obat yang dibuatkan moti. Jalal memandangi jari-jari tangannya yang terluka. Jelas terlihat raut kesedihan diwajahnya. setelah selasai mengoleskan obat jalal mencoba beberapa kali membalut lukanya sendiri dengan sehelai kain tapi dia kesulitan melakukannya. karena terlalu banyak bergerak membuat lukanya berdarah lagi. jalal menyentuh lukanya… dia menarik nafas dengan berat dan sedikit mendesah ketika menghembuskannya. dia berniat memanggil pelayan untuk membantu membalutkan lukanya dan alangkah terkejutnya jalal ketika dia melihat jodha berlinangan air mata menatapnya.. jodha menutup mulutnya dengan dupattanya agar jalal tidak mendengar tangisnya. Dengan perasaan sedih jalal menatap jodha. Sedangkan jodha menatap jalal dengan perasaan iba. jodha berjalan menghampiri jalal dia duduk bersimpuh di hadapan jalal tanpa berkata apa-apa. Dia membersihkan kembali luka jalal dan membalutnya dengan sehelai kain. Setelah selesai membalut luka jalal, jodha menangis tersedu di pangkuan jalal. jodha berkata “maafkan aku shahensha maafkan aku memperlakukan mu seperti ini. setiap melihat mu hati ku hancur… aku kecewa sekaligus marah pada mu… aku tak bisa menguasai emosi ku bila melihat mu” jalal menatap jodha di pangkuaannya dengan perasaan terluka karena telah menyakiti orang yang paling dicintainya. Sambil membelai rambut jodha untuk menenangkannya. jalal menjelaskan kalau dia tahu jodha terluka bila melihatnya. Karena itu dia memutuskan untuk menjauh dari jodha. “Ratu jodha aku sengaja menepi membuat tenda di belakang istana agar kau tidak melihat ku, dan harapan ku agar kemarahan mu mereda pada ku. Ratu jodha, aku pun tersiksa dengan perbuatan ku. setiap hari aku mengutuk diri ku sendiri atas dosa yang ku lakukan. Ketika aku mendapatkan cobaan yang begitu berat karena kehilangan anak-anak kita aku tak sabar dan tak iklas menerimanya. Aku menjauh dari jalan – NYA. Aku melakukan perlawanan pada – NYA. Jalan yang ku pilih untuk menyelesaikannya yang membuat ku menderita… aku tersiksa.. berapapun banyak kebaikan yang ku lakukan rasanya tak akan mampu menghapus dosa-dosa ku.”

Jalal mengatur nafasnya, mencoba menahan sesak di hatinya, “ratu jodha setelah perang chittor aku tak pernah hidup dengan tenang. Bayangan dan jeritan orang-orang yang tak bersalah terus melintas di fikiran ku dan jeritan orang-orang minta tolong terus bergema di teliga ku… aku tak berdaya menghadapi semua itu… aku tak sanggup… aku ingin berlari sejauh mungkin untuk bersembunyi… kemanapun… asalkan aku bisa melupakan semuanya…. Terkadang aku berharap kau datang mengibur ku untuk meringankan beban ku, terkadang aku berharap kau memeluk ku sekedar untuk menenangkan ku agar aku mampu melewati semuanya.. Aku lelah ratu jodha… aku lelah… terkadang aku ingin tidur dipangkuan mu dan kau membelai ku hingga ku tertidur walaupun hanya sesaat.. tapi kenyataannya kau menjauh dari ku. Kau mengabaikan aku.. Aku tahu ini adalah hukuman bagi ku.” Jalal menarik nafas dalam-dalam menghembuskan sambil menahan tangisnya… dia tersedu….

Jodha mengangkat kepalanya lama dipandangi wajah suami yang dicintainya.. air mata jalal bercucuran… kesedihan, kepedihan terlihat dari wajahnya yang penuh beban… jodha berkata “shahensha, aku tak tahu kalau kau menderita begitu besarnya. Sekalipun, ya walaupun hanya sekali aku tak pernah mencoba memahami kesedihan yang kau rasakan… shahensha, aku tak menyangka ternyata kau terluka lebih dari yang aku banyangkan.. Aku terlalu egois hanya memikirkan perasaan ku terhadap kaum ku dan mengabaikan trauma yang kau rasakan. maafkan aku shahensha, maafkan aku terlambat datang pada mu untuk berbagi penderitaan.. mereka berpelukan ~menangis tersedu~ saling meringankan beban dihatinya. Setidaknya kini dia tahu, bukan hanya sekeping hatinya saja yang terluka, tapi ada sekeping hati lain yang ikut merana karena dia berduka….END