Sinopsis Ashoka Samrat episode 109 by Mey Lest. Helena masih terbaring pura-pura tak sadar diatas tempat tidur dengan di kelilingi oleh Bindu, Justin, Nikator, Chanakya dan tabib. Bindu memberitahu tabib kalau dirinya telah membawa air suci untuk Helena. Tabib menyuruh mereka meminumkan air itu pada Helena. lalu dengan di bantu Justin, Bindu membantu Helena duduk dan meminumkan air suci. Tak berapa lama kemudian, Helena tersadar. Justi berteriak senang, “ibu..? Ibu?…” Chanakya mengawasi dengan tatapan curiga. Justin dengan suara penuh haru berkata, “ibu… ini suatu keajaiban..” Nikator juga menyambut kesadaran Helena dengan penuh haru. Helena menoleh kearah Bindu dan dengan tatapan khawatir bertanya, “nak, kau baik-baik saja? bagaimana dengan istri-istri dan anak-anakmu? Kebakaran itu sangat mengerikan, seperti neraka.” Bindu menjawab, “semua selamat, jangan khawatir.” Helena bertanya siapa yang melakukan ini?”  Bindu menjawab, “Raja Ji Raj.” Helena pura-pura terkejut, “Raja Ji raj? kita memberi dia kehormatan dan dia melakukan itu? i=Ini salahku. Aku menerima lamarannya. Aku akan membunuhnya! DIa telah mencoaba membunuh keluargaku. Dia tak berhak hidup!” Helena hendak bernajak dari tempat tidur, tapi Justin dan Bindu menahannya. kata BIndu, “raja Ji raj akan mendapat hukumannya di pengadilan. tapi sebelum itu akan menanyakan siapa yang menjadi rekan kejahatannya.” Helena bertanya, “apakah kau mencurigai kalau ada orang lain yang terlibat dengannya? Semua adalah anggota keluarga. Siapa yang akan melakukan itu?” Chanakya yang menyahut, “siapapun yang dia, dia sangat pintar dan besok kita akan mengetahui namanya.” Helenamenyahut, “aku berharap Raja Ji Raj mendapat hukuman yang berat.” Bindu mengiyakan, “pasti.” Bindu kemudian menyuruh Helena agar istirahat. Chanakya mengawasi Helena yang kembali berbaring sambil membatin, “bagaimana dewi Helena masih terlihat kalem setelah tahu kalau raja Ji Raj tertangkap.”

Ashoka samrat coverAshok memberitahu Ahenkara kalau ayahnya sudah tertangkap, “kau tidak akan di hukum mati sekarang. Ahenkara tertegun doiam. Ashok menyentuh pundaknya dan bertanya, “apakah kau mendengarku?” Ahenkara cepat berbalik dan menggengam jemari Ashok penuh harap, ‘aku ingin bertemudenganya, aku ingin bicara padanya.” Ashok menjawab, “ini tidak mungkin.” Ahenkara dengan berlinang airmata berkata, “aku tidak akan bisa hidup dengan label anak pengkhianat. AKu akan merasa bersalah selamanya. Aku inginbertemu denganya.” Ahenkara menangis sedih. Ashok merasa iba. Prajurot datang dan meminta agar Ashok pergi. Ashok menatap Ahenkara dengan bingung. Dia hendak bernajak ketika Ahenkara menraih tangan Ashok dan meletakan di kepalanya sambil berkata, ‘berjanjilah padaku, Ashok. Kau akan membuatku bertemu ayah sekali saja.” Ashok terlihat tegang tak tahu harus menjawab apa.

Sushim berkata pada Bindu dengan berapi-api. Katanya, “kita harus membunuh raja Ji Raj dengan cara sedemikian rupa sehingga semua musuh-musuh kita menjadi takut dan tidak pernah berpikir untuk melakukan hal yang salah. Aku meminta anda untuk membawa Raja Ji Raj ke pasar dan membakarnya di hadapan semua orang. Karena dia banyak orang terbunuh dalam kebakaran itu. karena itu dia juga harus merasakan kesakitan yang sama.” Bindu menatap Sushim dengan penuh pengerian, “aku tahu kau marah tapi harus ada batas antara kemarahan dan hukuman…” Ashok datang menemui Bindu dan memohon, “Pranam samrat. Samrat, aku mempunyai permintaan. Tolong izinkan Ahenkara bertemu ayahnya sekali saja.” Mendengar permintaan Ashok, Sushim menjadi geram, “kau tahu, ayah sudah memerintahkan kalau tak seorangpun boleh bertemu denganya!” Bindu bertanya pada Ashok dengan rasa ingin tahu, “mengapa kau ingin dia bertemu ayahnya?” Ashok menjawab, “aku mengerti kesedihannya. DIa akan kehilangan ayah. Aku tahu bagaimana rasanya kehilangan seorang ayah. Dia akan kehilangan dia. Dia hanya ingin melihat dia untuk yang terakhir kalinya.” Sushim dengan ketus berkata, “aku tidak bis amengerti mengapa kau menunjukan kepedulian pada putri seorang pengkhianat. Tunjukan rasa pedulimu pada anak-anak yang terbunuh dalam kebakaran itu. Pada prang tua yang kehilangan anaknya.” Ashok bertanya apda Sushim, “kenapa putra seorang pengkhianat di berikan hukuman? Apa salahnya? Kita telah merenggut ayahnya dari dia. Apakah itu tidak cukup?” Sushim menentang, “aku tidak setuju. Ini seperti tidak menghormati mereka yang terunuh karena raja Ji Raj. Kita tidak tahu apakah Ahenkara bersalah atau tidak. bagaimana kalau dia bertemu ayahnya dan membuat konspirasi lain?” BIndu menengahi, “melihat situasi ini, aku tidak bisa mengabulkan permintaanmu, Ashok. Untuk Magadha, aku telah mengambil keputusan kalau tak seorangpun akan menemui raja Ji Raj.” Mendengar keputusan Bindu, Sushim tersenyum puas. Ashok terlihat sedih. Dia menatap Sushim lalu peri dari sana.

Dharma sedang mematikan obor, ketika Ashok menarik tangannya. Dharma kaget, tapi sebelum berteriak, Ashok menutup mulutnya dan berkata, “ma.. ini aku!” Dharma menatap sekeliling dengan panik, “bagaimana kalau ada orang melihat kita?” Ashok dengan sedih mengadu pada Dharma kalau dirinya berada sedang bermasalah, “ma, aku seprti ingin melakukan sesuatu. AKu telah berjanji pada seseorang tapi bagaimana jika aku tidak bisa memenuhi janji itu? dan dalam prosesnya menyakiti seseorang yang tidak ingin ku sakiti.” Dharma mengingatkan Ashok kalau mengingkari janji itu tidak baik, “kalau kau tak ingin menyakiti seseorang maka kau mencari cara agar dapat memenuhi janjimu dan tidak membuat siapapun terluka.” Ashok terdiam berpikir. Tiba-tiba dia tersenyum, “ma, aku tahu apa yang harus aku lakukan.” Ashok memeluk Dharma dan segera pergi meninggalkannya di iringi tatapan cemas Dharma.

pagi harinya, Ashok mendatangi kamar Ahenkara. Dia mengalihkan perhatian prajurit dengan mengatakan pada mereka kalau dirinya mendengar suara berisik dan meminta agar prajurit itu memeriksanya.  Prajurit mengikuti saran Ashok. Begitu mereka pergi, Ashok segera menemui Ahenkara dan memberitahunya kalau ayahnya sedang di bawa ke pengadilan, “kau bisa melihatnya. Ayo ikut denganku!” Keduanya lalu m,engendap-endap meninggalkan kamar.

Raja Ji raj sedang di bawah ke pengadilan. Dia melihat Ahenkara berdiri di kejauhan dengan airmata berlinangan. Raja Ji Raj sedih melihatnya. Prajurit membawa pergi Raja Ji Raj. Ahenkara menanggis dan kembali ke kamarnya. Saat prajurit kembali, dia menemukan Ashok dan Ahenkara di sana. Ashok mengatakan apa-apa, Ashok segera meninggalkan kamar Ahenkara.

Raja Ji Raj di abwah ke pengadilan dengan leher dan tangan di rantai. DIa berdiri di depan Bindu dengan wajah sedih. Bindu dengan geram berkata, “kau ingin membunuh kami semua, raja Ji Raj. Kini kau berdiri sebagai penjahat di hadapan kami semua. Ini adalah keadilan tuhan. Dan jika kau punya sedikit rasa takut, katakan yang sebenarnya tentang konspirasi itu. Kalu kau katakan yangs ebenarnya kau tidak akan di beri hukuman mati. Tapi aku akan pastikan kalau hidupmu akan lebih menderita daripada kematian. Sudah jelas kalau kau tidak sendirian dalam menjalankan konspirasi itu, karena ini adalah rencana yang sangat besar. Siapa rekanmu? Musuh terbesar dari dirimua adalah mereka yanga da dai pengadilan sekarang ini. Katakan namanya. Katakan siapa pengecut itu, yang membuatmu berada dalam masalah. Yang mencoba menyerang keluarga besar Magadha?” Raja Ji Raj teringat pertemuannya dengan Justin.

~Kilas balik menunjukan bagaimana Justin mengatakan pada Raja Ji Raj, “apa yang membuatmu yakin kalau kau meneyrahkan diri lalu mereka akan melepaskan Ahenkara? Kau telah menyerang keluarga kerajaan Magadha. Ketika konspirasi sangat besar, maka hukumannya akan besar pula. Semua keluarga musuh akan di bunuh sehingga tidak akan timbul masalah di masa depan. Hanya aku yang bisa menyelamatkan Ahenkara.” Raja Ji menyahut dengan ketus, “kau telah mengkhianati aku. Kau masih berpikir aku akan mempercayaimu?” Juatin mengatakan kalau Raja Ji Raj tidak punya cara laijn, “kalau kau kabur, putrimu akan mati. AKu menunjukan cara yang dapat menyelamatkan putrimu. Aku tahu kau tidak punya alasan untuk mempercayai kami. Tapi kau tidak punya pilihan lain juga.” Raja Ji dengan sedih berkata, “kalau putriku tetap hidup, hidupnya pasti akan sangat sengsara, dia akan di perlakukan lebih buruk daripada pelayan. Aku ingin puteriku di bawa pergi jauh dari Magadha, hanya dengan itu aku akan tetap diam di depan samrat bindusara..” Kilas balik berakhir.~

Bindu dengan taks abar menyuruh Raja Ji Raj mengatakan yang sebenarnya…. Sinopsis Ashoka Samrat episode 110 by Mey Lest