Selubung Gurat hati bag 1 by Benny Rhamdani.  Pluit Time out di bunyikan wasit di sisi lapangan. Pertandingan itu berhenti sejenak. Klub Rajawali yang menempati sisi kanan kelihatan agak tegang. Mereka sudah memimpin angka sejak awal pertandingan, namun klub lawan kini mulai mengejar.
“Arlan, kamu diganti dulu sama Cali,” pelatih yang keringatan hampir menyamai pemain itu memberi intruksi sesuai dengan yang di rencanakan.
Arlan mengangguk. Ia mengambil tempat duduk di barisan untuk pemain cadangan. matanya terarah ke sudaut tribun penonton. Mencari sesosok yang memporakporandakan kosentrasi bertandingannya tadi.
gadis berambut panjang dengan blus itu tak ada lagi di tempatnya.
“Permainanmu kacau sekali,lan” komentar Mas Aji yang tahu-tahu sudah duduk di sebelah Arlan. ia agak senewen melihat permainan muridnya tadi. Tembakan 3 point yang biasa di hasilkan semuanya gagal.
“janji deh, nanti kalau di pasang lagi nggak bakalan kayak tadi,” timpal Arlan. ia meneguk sebagian air mineral miliknya. “Pamit sebentar mau ke belakang ya, mas.”
pelatih itu cuma mengangguk sambil memandang ke tengah lapangan. Pertandingan kian seru.
Arlan berjalan cepat. yang di tujunya bukan kamar kecil, ia malah menembus pintu ke luar. Matanya terus mencari-cari gadis yang di lihatnya di tribun tadi. Kalau ia menghilang dari tribun itu mestinya ia pergi ke luar.
“Arlan! Kamu bukannya lagi bertanding? Kok di luar sih?” suara tanya itu mengejutkan Arlan. Seorang gadis manis berambut sebahu mendekatinya.
“Aku lagi nggak kepake dulu. ya, keluar cari angin sebentar kan nggak di larang. bagaimana rapat senat tadi?” Arlan teringat kesibukan Ratri sore ini.
“Agak tersendat di bandingkan sebelumnya. makanya aku telat datang ke mar.” jawab Ratri. ia menjajari langkah Arlan ke dalam gelanggang olah raga.
“Kamu duduk di sini saja. Biar nggak susah aku nyari kamu nanti. Eh, mau nunggu sampai aku pulang, kan?” tanya ARlan sambil membiarkan ratri duduk di barisan paling depan.
“Iya. Asal kamu main bagus!” Ratri tersenyum.
Arlan kembali ke bangki cadangan bergabung dengan tim lainnya. Baru sepuluh menit kemudian ia sudah di panggil lagi untuk mengisi lapangan. Sebuah tembakan three point di ciptanya semenit kemudian.
Ratri terpekik girang melihat aksi Arlan. Matanya terus melekat pada sosok cowok itu. Bukan pada permainan basket yangs ebenarnya memang tak pernah ia sukai.
***

selubung gurat hati

Duduk di taman kecil depan perpustakaan kampus kerap di lakukan Arlan bila tak tahu apa yang harus di kerjakannya sambil menunggu kuliah berikutnya. Mengedarkan pandangan sambil melamun memang jadi keasyikan tersendiri buatnya.
Tidak jarang matanya terumbuk pada sosok gadis cantik. Tapi hatinya buru-buru menyisihkan hasrat yang kemudian timbul. Sebuah nama di masa lalu telah menciptakan kenangan yang menggurat di hatinya..

Maharani jadi siswa baru kela dua. Ia langsung pouler dengan kecantikannya di tambah lagi mobil mewah yang bergantian mengantar-jemputnya. Banyak cowok yang berusaha mendekatinya, tapi semua harus puas dengan mimpi mereka saja tanpa hasil memujudukannya. Sementara sebagian dari mereka mimpipun sudah tak berani, termasuk Arlan yang duduk di belakang rani dalam satu kelas.

Hingga suatu siang saat pulang sekolah. Sewaktu Arlan hendak menghidupkan motornya, rani mengejutkannya dengan  bertanya, “Arlan, kamu mau menolong aku?”
“Asal aku sanggup!” jawab Arlan.
“Aku harus buru-buru kerumah. Tapi jemputanku belum datang juga. Aku…”
“Mengantarmu dengan motorku ini? Apakah kamu nggak risi?”
“Sudahlah. Mau apa nggak?”
Arlan langsung menyambar helm yang tergantung di stang motor di sebelahnya. Ia menyodorkan helm itu pada Rani, “ayolah. tapi kalau kamu masuk angin, aku nggak tanggung ya..” Arlan kemudian menghidupkan motornya dan membiarkan Rani memboncengnya.

Teryata momen itu jadi sebuah awal dari jalinan manis antara mereka. Beberapa kali Rani membonceng Arlan. Sampai akhirnya Arlan merasa perlu mengungkapkan isi hatinya.
“kamu mau jadi pacarku, Ran?” tanya Arlan sehabis mengajak Rani menyaksikan pertandingan basket antar kelas.
Rani mengangguk dan tersenyum, “Tapi dengan syarat, kamu jangan sampai datang kerumahku,’ katanya kemudian.
“Kenapa?”
“Papa melarang aku pacaran.”
“Backstreen juga okelah,” angguk Arlan mantap, siapa tahu waktu wmngubah hal itu.

Tapi ternyata waktu tak pernah memberi kesempatan untuk megubah hubungan mereka menjadi lebih baik. Lima bulan berlalu, tetap saja mereka harus pacaran umpet-umpetan. Malah tiba-tiba waktu mengubahnya menjadi amat pahit.
Arlan membonceng Rani sepulang sekolah. Dan kecelakaan yang tak pernah di inginkan siapapun terjadi. Arlan luka gores di tangan dan kaki. Tapi Rani sampai gegar otak. Langit buat Arlan benar-benar runtuh kemudian. rani menghilang entah kemana. Usaha yang di lakukannya cuma  membuat panjang kepedihannya….

Rani….
Arlan tersentak dari lamunannya. Sekelebat ia melihat bayangan punggung seorang gadis. ia berambut panjang. Dan gaun biru yang di pakai itu sama persis dengan yang di belikan Arlan di hari ulang tahun rani ke tujuh belas. Atlan berlari mengejar sosok itu kedalam perpustakaan. Tapi di pintu masuk langkahnya tertahan.
“Arlan, aku cari-cari kamu dari tadi,” Ratri langsung mendekatinya. “Bagaimana dengan final invitasi antar klub itu?”
“Jadi besok malam. Kamu mau nonton?”
“kebetulan nggak ada kegiatan. Sudah makan siang? Ke Gelael yuk. Lapar nih.”
Arlan menurut saja. Sulit untuk menolak setiap ajakan Ratri. Gadis ini memang seperti hampir kebanyakan anak orang berada, semua kemauanny aharus di turuti. Meski Ratri berusaha menutupinya dengan berorganisasi di senat tapi sifat manjanya masih tetap di rasakan Asrlan. Tepi lepas dari semua itu, Arlan lagi-lagi harus bersyukur bisa dekat dengan gadis yang diincar banyak temannya. Seperti dulu..seperti Rani..
Arlan mendesah mengingat nama itu. Dan siapakah gadis bergaun biru itu?
“Kamu kelihatan gelisah, Lan?” Tanya Ratri.
“TIdak apa-apa,” sembunyi Arlan.
“Sungguh?”
“Sungguh!” Arlan menatap bola mata Ratri agar lebih menyakinkan. Dan hatinya senantiasa bergetar usai menatap binar bola mata itu. Binar itu mirip sekali dengan milik Rani.

Arlan kemudian masuk ke Lancer merah Ratri. Sambil menghidupkan mesin Ratri berujar, “dulu kamu pernah cerita SMA kamu SMA 5 kan?”
“Iya. Lumayan ngetop di Bandung sini. Kalau SMA di Jakarta barangkali bisa di samain dengan SMA kamu ini.”
“Biasanya sekolah ngetop, pada cakep-cakep ceweknya.” lanjut ratri.
“Memang.”
“Masak sih kamu benar-benar nggak punya pacar di sana?”
Arlan tak menjawab. ia memang selalu berupaya merahasiakan jalinan cintanya dengan Rani.
“Pasti kamu pernah patah hati ya sampai akhirnya kebawa ke masa kuliah. Patah hati sih boleh aja, asal jangan jadi dingin, lan.”
“Dingin?”
“Lho, kamu nggak ngerasa kalau kamu tuh cowok yang dingin? Nggak pernah ngobrol dengan siapapun di kampus elain aku. Mainnya aja cuma sendirian di taman perpustakaan.
Arlan cuma tersenyum. Ia yakin Ratri tengah memancingnya untuk cerita soal masa lalunya. Sudah sering Arlan membaca gelagat itu. “Belum..belum tiba saat untuk itu semua,” Arlan membatin.

bersambung Selubung gurat hati bag 2