Selubung Gurat hati bag 2 by Benny Rhamdani. Tidak tahu sampai betapa lama lagi aku bisa bertahan begini. Mencari, menunggu, mengejar bayanganmu yang hilang entah kemana. Sementara sisi hatiku telah hampa begitu lama. Akankah kamu salahkan aku bila saat ini sebuah nama hadir mengisi kehampaan itu? Tidakkah kamu akan meruntukku tak setia dan mengutukku agar mengalami luka itu lagi?
Kalau saja tidak kulihat lagi kelebat bayangmu belakangan ini, aku sudah memasukan namanya pada hari-hariku.

selubung gurat hati

Arlan menutup buku hariannya. Buku yang isinya melulu tentang Rani dan sejuta harapan yang menggurat di hatinya. Hampir 2 tahun penantian itu terjadi.
Ia beranjak untuk bersiap ke gelangang olah raga. Rani…Ratri…nama itu terus mengiringi desah nafanya. Satu sisi hatinya ingin agar Arlan segera memberi kepastian kepada Ratri tentang hubungan yang mereka jalin. Sementara di sisi lain hatinya justru ingin mempertahankan kasih Rani.

Brtifing yandg diberikan pelatih menjelang pertandingan final invitasi antar klub bola basket se Bandung nyaris tak di gubris Arlan. Begitu  masuk ke sisi lapangan matanya langsung mengintari tribun penonton.
“Nyari pacarmu itu, Lan?” usik di Jangkung, Oki.
“Sembarangan. Ratri bukan pacarku,” kilah Arlan.
“tapi setia banget ya. Cuma kali ini kayaknya telat lagi.”
Arlan cuma nyengir. Bangku yang biasa di duduki Ratri sudah diisi orang lain. Tapi bangku di sudut lain itu masih kosong. Tempat favorit Rani bila menyaksikan Arlan bertanding.

Prit…!!! Pluit wasit memanggil peserta berbunyi. Arlan bersama timnya langsung memenuhi lapangan. Rebutan bola segera du mulai seiring tiupan pluit.
lawan kali ini cukup tangguh. Lima menit pertama nyaris di lalui Arlan hanya dengan mengover bola. baru kemudian di akhirnya ia mendapat bola tanpa di hadang. Ada kesempatan untuk menciptakan three point. Cuma saat bola itu  diangkat matanya menangkap sosok gadis bergaun biru di tempat duduk kosong itu. Tempat yang sama di duduki gadis itu saat babak penyisihan dulu.

Lemparan bola Arlan tak sampai ring, untungnya sempat di raih tio. tapi pluit wasit berbunyi lantaran pelatih klub Rajawali meminta time out.
“Kosentrasimu kacau sekali, Lan!” hardik Mas Aji saat timnya mendekat.
“Sorry Mas, di ganti dulu deh,” usul Arlan.
“Pacarnya belum datang sih, Mas,” celetuk Tio.
Mas Aji setuju. Ia memanggil Alford yang tingginya 185 centi. Pertandingan di mulai lagi.

Arlan langsung mengarahkan pandangannya ke tribun penonton di seberangnya. Agak sulit juga untuk menyelidiki wajah gadis yang masih terduduk di sana itu. Apalagi wajahnya menunduk, seolah tahu sedang di amati Arlan.
Gadis itu berinsut ke pinggir dan berjalan cepat meninggalkan tempat duduknya. Arlan refleks berdiri.
“Mas, saya pamit ke belakang sebentar,” izin Arlan.”Mas, saya pamit ke belakang sebentar,” izin Arlan.
“Dasar beser! Baru main beberapa menit!”
Arlan bergegas mengayunkan langkahnya. Cewek itu pasti keluar. Siapakah dia? Ranikah? Mengapa begitu misterius?
Sampai di ambang pintu keluar, Arlan masih sempat menangkap kelebat bayangan cewek itu menuju tempat parkir mobil. Arlan menyusul. Tapi napasnya tertahan sewaktu melihat cewek itu meluncur dengan Katana biru.
“Arlan!” suara khas itu mengejutkan Arlan.
Ratri baru hendak keluar dari Lancernya.
“Jangan turun. Antar aku,” Arlan langsung menyerbu masuk ke dalam mobil. Suatu kebetulan yang menguntungkan.
“Ada apa ini?” Ratri bingung melihat Arlan panik.
“Kamu lihat Escudo tadi, kan? Tolong disusul.”
“Orang di dalam mobil itu beberapa kali menguntitku. Aku penasaran. Kurasa kita belok kiri, Rat. Nah, itu mobilnya!” Arlan mengarahkan jarinya ke depan, nyaris menembus kaca.
Mobil yang mereka kejar melaju kian kencang, masuk ke jalan agak besar. Ratri membelokkan mobilnya tiba-tiba. Arlan tercengang.
“Kenapa membelok, Rat?” tanya Arlan.
Ratri tak menjawab. Ia malah membawa mobilnya ke jalan yang agak sepi sampai akhirnya ke pelataran parkir sebuah kompleks pemakaman umum. Suasana hening menyergap mereka.
“Ada yang ingin kuutarakan padamu, Lan. Barangkali aku terlalu lancang….” Ratri menggantung kalimatnya, menunggu reaksi Arlan.
Tahu Arlan hanya membisu, Ratri keluar dari mobil. Tubuhnya lantas bersandar pada badan mobil. Arlan dihinggapi sejuta tanya. Belum terpecahkan persoalan yang satu, sudah muncul soal lainnya.
“Barangkali aku harus menceritakannya dari pertama padamu,” Ratri membuka mulutnya lagi. “Dimulai dari perkenalan kita. Terus terang kamu langsung menyita perhatianku begitu kukenal. Tentu saja aku punya batasan untuk mengungkapkan perasaanku itu.”
Arlan merasakan hal itu.
“Cara yang kulakukan untuk menarik perhatianmu kupikir sudah tepat. Tapi rupanya ada selubung misteri yang menutupi hatimu. Segala upaya kulakukan untuk memancingmu, tapi kamu seperti enggan membukanya. Katakanlah, kenapa, Lan?”
“A-aku… aku tak bisa menceritakannya….”
“Kurasa kini memang tak perlu lagi, Lan. Waktu yang membelaku memberitahukan itu semua. Satu bulan lalu aku main ke tempat Oom-ku. Kutempati bekas kamar sepupuku. Tanpa sengaja aku menemukan tempat rahasia menyimpan buku harian sepupuku itu, Lan. Isinya banyak bertutur tentangmu dan cerita cinta rahasia kalian berdua….”
“Rani? Dia sepupumu? Di mana dia sekarang?”
“Setahun yang lalu dia telah meninggalkan kita,” nada suara Ratri melemah.
Arlan mendongakkan kepalanya ke langit. Gara-gara kecelakaan itukah?
“Kamu tak perlu merutuki dirimu sendiri, Lan. Tanpa kamu ketahui, sebenarnya kesehatan Rani memang rapuh. Itu sebanya Papanya amat ketat mengawasi. Ada kanker di otaknya. Dulu pernah dioperasi di Belanda, tapi kemudian tumbuh lagi. Operasinya yang kedua gagal.”
Arlan menahan airmata yang hampa keluar.
“Setelah tahu itu semua, aku masih bersabar diri, Lan. Aku ingin satu bentuk kejujuran darimu. Sebagai orang yang dekat, tadinya kupikir kamu mau mengungkapkan itu semua. Tapi harapanku sia-sia. Dan itu menimbulkan ide gila untuk menganggumu….”
“Cewek bergaun biru itu?”
“Ya, cewek itu bagian dari permainanku. Tapi ternyata aku tak sanggup untuk terus mempermainkanmu. Tuntutan untuk jujur kepadamu amat menyiksaku,” Ratri berupaya untuk tetap tegar mengeluarkan kata-katanya.
“Kamu….”
“Apa pun pandanganmu padaku saat ini akan kuterima. Tapi beri aku kesempatan untuk mengantarkanmu melihat makam Rani,” Ratri mulai tak kuat menahan isaknya. Ia tahu resiko apa yang paling berat yang akan diterimanya. Bisa saja Arlan membencinya lantas menjauhinya tanpa secuil maaf.
Tanpa diduga Arlan malah merengkuh Ratri ke pelukannya. Tentu saja isak Ratri makin tak terbendung. Ia tumpahkan gundah yang mengganjal perasaannya selama ini.
“Aku yang salah, Ratri. Aku bukan cuma nggak jujur pada hatiku sendiri. Aku telah mendustai banyak hal. Kesalahanku amat banyak. Aku harus menebus sakit hati yang kubuat padamu. Aku… mencintaimu, Ratri. Sesungguhnya perasaan itu timbul sudah lama. Tapi aku terlalu takut menghadapi resiko. Aku takut gurat luka yang ada di hatiku menganga lagi,” tutur Arlan sambil mengusap uraian rambut Ratri.
Ratri mengangkat mukanya. Jarinya menghapus airmata yang masih keluar. “Sebaiknya kita segera ke makam Rani. Berdoa sejenak di makamnya barangkali akan menenteramkan hati kita berdua. Lagipula, kamu kan harus kembali bergabung dengan timmu itu,” kata Ratri kemudian.
Arlan terperangah. Ia baru menyadari dirinya masih memakai kostum klub basketnya. Segera dirangkulnya bahu Ratri dengan tangan kanannya.
“Ayolah, kita bergegas. Mudah-mudahan aku masih sempat membuat three point. Tembakan itu akan kubuat spesial untukmu,” ucap Arlan dengan kelegaan yang tiada tara. Entah ke mana larinya selubung yang menutup rapat hatinya. Entah ke mana hilangnya gurat luka itu.

THE END