Epilog Takdir by Eny Maryani II. Dalam keadaan terkejut Jalal berhasil menghindar dari tikaman pria itu,yang tak lain adalah Syarifudin yang berhasil kabur dari penjara.Bakuhantam pun terjadi antara Jalal dan Syarifudin.Mendengar suara keributan dari kamar tuannya,Moti segera menghampiri dan didapatinya Jodha tergeletak didepan kamar mandi,sedangkan Jalal tengah menghajar Syarifudin,melihat keadaan itu Moti berinisiatif menghubungi polisi dan segera kembali menghampiri Jodha.Moti berusa membangunkan Jodha “Jodha,,bangun Jodha,,” panggil Moti menepuk lembut pipi Jodha.Moti berusaha memapah Jodha tapi tenaganya tak mampu membantu Jodha berdiri,”ya..Tuhan..apa yang harus aku lakukan” jerit Moti dalam hati dan meletakan kepala Jodha dipangkuannya.Jalal telah berhasil melumpuhkan Syarifudin dan berhasil menyingkirkan belatinya.Jalal segera menghampiri Jodha yang belum sadarkan diri dan mengambil alih dari pangkuan Moti,”Jodha,,,Jodha,,,bangun sayang,,,” panggil Jalal disertai kecupan didahi dan pipi Jodha,hingga Jodha tersadar “Jalal,,,” lirih Jodha membelai lembut wajah Jalal,”iya..sayang..aku disini..” jawab Jalal menggenggam tangan Jodha yang menelusuri wajahnya,air mata Jodha menetes tak tertahan disudut mata indahnya.Jalal menggelengkan kepala,menghapus air mata Jodha dengan ibu jarinya dan berkata “ssstt..jangan menangis sayang..aku tidak apa-apa,aku baik-baik saja..kau lihat sendiri bukan?” Jodha tersenyum getir melihat luka lebam diwajah suaminya.Ketika Jodha menyentuh sudut bibir Jalal yang lebam Jalal pura-pura meringis kesakitan “sshh..” Jodha pun segera menarik kembali tangannya dan ikut meringis “ssshh..maaf..sakit ya?” tanya Jodha dengan penuh penyesalan.Jalal tersenyum,menahan tangan Jodha dan kembali menggoda Jodha seolah mau menggigit ibu jari Jodha.Jodha berusaha menarik kembali tangannya tapi Jalal menahannya disertai seringai jahilnya,ahirnya mereka tersenyum bahagia.

lomba  epilog takdirTanpa aba-aba Jalal membopong tubuh Jodha keluar dari kamarnya,namun ketika Jalal baru melangkah,tiba-tiba Jalal mengerang kesakitan “aaarrrgghh…” Syarifudin yang telah sadarkan diri mengambil kembali belatinya,dilemparnya kearah Jalal dan berhasil menancap dipunggung Jalal sebelah kanan.Jodha histeris melihat belati yang menancap dipunggung Jalal dan memeluknya erat “Jaalaall..hiks..hiks..” Jodha menagis pilu.Syarifudin hendak menerjang tubuh Jalal namaun tanpa diduga sebutir peluru berhasil bersarang dikakinya.Polisi segera menggelandang Syarifudin ke kantor polisi,Jodha segera membawa Jalal ke Rumah sakit didampingi Moti dan seorang anggota polisi.

Tak tersa waktu begitu cepat berlalu.Satu sore Jalal dan Jodha duduk santai di balkon,Jodha menyandarkan kepalanya dibahu Jalal “dear..” “hmm..” Jodha membuka obrolan hangat mereka, “aku tidak bisa membayangkan seandainya waktu itu…” Jodha tidak sanggup melanjutkan kata-katanya dan malah semakin membenamkan wajahnya didada Jalal.Jalal pun semakin mengeratkan pelukannya pada Jodha dan berkata “Tapi kenyataannya Tuhan menyelamatkanku dan masih memberiku kesempatan untuk membahagiakanmu dan anak-anak kita kelak” Jalal tersenyum,meraih dagu Jodha perlahan,keduanya saling bertatapan intens,Jalal memiringkan kepalanya perlahan mengecup lembut bibir Jodha penuh kerinduan,semakin lama semakin dalam dan semakin menuntut.Tiba-tiba Jodha mengerang “Aaarrgghh..dear..sepertinya ini sudah waktunya aku melahirkan..” ucap Jodha terbata- bata menahan nikmatnya kontraksi,dengan sigap Jalal membopong Jodha kemobil dan segera melajukan mobilnya menuju Rumah sakit.Setibanya di Rumah sakit Jodha langsung dibawa ke ruang persalinan,selama proses persalinan Jalal tidak pernah sedetikpun melepas genggaman tangan Jodha “Ayo,,sayang,,kita lahirkan anak kita bersama sama..tarik nafas perlahan dan hembuskan..” ucap Jalal memberi semangat pada Jodha.Tak lama kemudian terdengar ” Oeee..ooee…” tangisan malikat kecil mereka menggema,”Selamat Mister..Mrs..putra anda berdua telah lahir sehat dan sangat tampan” ucap Dokter yang membantu persalinan Jodha setelah menyelasaikan penanganan terahir pada Jodha, “Terimakasih Dokter..” ucap Jalal menyalami Dokter,”Sama-sama Mister..saya permisi”.Tanpa sadar Jalal meneteskan air mata saat pertama kali menggendong Salim dalam dekapannya,dengan perlahan Jalal berjalan menghampiri Jodha yang masih terbaring diranjang perawatan,Jodha nenerima Salim dalam dekapannya dengan penuh bahagia.”Terimakasih Jodha,kau telah melengkapi hidupku dengan penuh kebahagiaan yang tak pernah terpikirkan olehku sebelumnya..” ucap Jalal memeluk Jodha dan Salim disertai kecupan lembut didahi dan pipi Jodha.

Takdir memang tak bisa diduga ataupun diramalkan apalagi dirubah sesuai keingin manusia,begitu juga cinta Jalal dan Jodha sekuat apapun godaan dan cobaan yang datang silih berganti,berusaha memisahkan mereka berdua tapi Tuhan telah menuliskan takdir mereka untuk selalu bersama dalam ikatan cinta yang suci maka itulah yang akan terjadi.