Epilog Takdir by  Rheplie Arie Daffa. Jalal kaget melihat seorang pria yang dengan tiba tiba langsung menyerangnya. Dengan sigap ia menangkis serangan senjata yang dihujamkan kearahnya hingga senjata tersebut terlempar jatuh kelantai. Jalal dan pria tersebut bergumul saling menghajar satu sama lain. Sementara di lantai bawah, Moti yang belum tahu apa yang sedang terjadi, terlihat membukakan pintu untuk tamu yang baru saja memencet bel pintu. Moti terkejut saat melihat lima orang pria tegap berseragam polisi langsung merangsek masuk kedalam rumah Jalal sambil bersiaga dengan pistol ditangan mereka masing masing.

“Ada apa ini pak? Bapak bapak ini siapa dan mau apa disini?” Moti terlihat ketakutan. “Maaf bu, kami sedang mencari buronan yang bernama Syarifuddin yang kemarin baru kami tangkap kemudian melarikan diri. Dan menurut tim kami yang menyelidiki keberadaannya, ia terlihat sedang berada di sekitar rumah ini,” ucap sang polisi menjelaskan sambil masih bersiaga memeriksa satu persatu ruangan rumah Jalal. Tiba tiba terdengar suara gaduh dari arah kamar Jalal. Insting para polisi tersebut langsung menangkap hal yang tidak beres terjadi disana dan dengan waspada serta berhati hati mereka segera menuju lantai atas untuk memastikan apa yang sedang terjadi. Sementara Jalal masih baku hantam dengan pria yang ternyata adalah Syarifuddin yang sedang memakai penutup wajah hingga Jalal belum bisa mengenalinya. Jalal berhasil meraih senjata yang dibawa Syarifudin dan hendak menghujamkan kearah pria itu namun tiba tiba para polisi telah berhasil masuk dan mencegah Jalal. “Tuan Jalal!! Hentikan!! Biar kami yang menanganinya,” ucap salah satu anggota polisi tersebut. Polisi tersebut langsung meringkus dan memborgol Syarifuddin dan membuka tutup kepalanya. Betapa terkejutnya Jalal saat melihat siapa pria yang mencoba membunuhnya itu. “Syarif!!!” Jalal hendak melayangkan tinjunya kewajah Syarifuddin namun lagi lagi ditahan oleh salah satu anggota polisi. “Dengar Syarif!! Kupastikan padamu, bahwa kali ini kau akan membusuk dipenjara seumur hidupmu!! Camkan itu!!” Jalal masih geram dan rahangnya mengeras melihat Syarifudin digeret para polisi dengan tangan yang terborgol. Sementara Moti, sedari tadi sudah memeluk Jodha yang jatuh pingsan tak sadarkan diri. Moti menangis mengkhawatirkan keadaan tubuh Jodha yang sedari tadi tidak bergeming. Jalal segera menoleh kearah Moti dan langsung membelalakan matanya terkejut melihat Jodha yang terkapar pingsan diatas lantai. Jalal segera membopong tubuh Jodha kedalam gendongannya dan secepat kilat membawanya menuju mobil. Moti mengikuti Jalal dari belakang dan ikut masuk kedalam mobil. Jalal lomba  epilog takdirmemasukkan tubuh Jodha kedalam mobil dan menaruh kepala Jodha dipangkuan Moti. “Bertahanlah sayang, kumohon,” Jalal berulang kali mengucapkan hal itu sambil sesekali melirik kearah spion namun tetap fokus melajukan mobilnya menuju rumah sakit. Sesampainya dirumah sakit, Jodha segera dibawa keruang penanganan pertama untuk diperiksa lebih lanjut. Terlihat Jalal yang sedari tadi mondar mandir didepan ruang penanganan, khawatir dan cemas akan keadaan Jodha dan bayi mereka. Berulang kali Jalal menggumamkan kata “Kau akan baik baik saja,” untuk menenangkan hatinya namun hal itu tak cukup membantu. Jalal tetap merasa khawatir dan ketakutan memikirkan kondisi Jodha. Selang beberapa menit kemudian, Seorang dokter keluar dan tanpa menunggu lagi Jalal segera menghampiri dokter tersebut untuk menanyakan kondisi Jodha saat ini. “Dokter, bagaimana keadaan istri saya, dok” tanya Jalal dengan tampang cemasnya. “Istri anda saat ini harus segera ditangani secepatnya tuan, ia dalam kondisi shock berat dan itu berpengaruh pada kondisi bayi yang sedang dikandungnya. Kami memutuskan untuk secepatnya dilakukan tindakan operasi untuk menyelamatkan bayi yang dikandungnya. saya menemui anda untuk meminta persetujuan anda sebagai suaminya,” dokter tersebut menjelaskan. “Saya menyetujuinya dok, apapun yang terbaik untuk istri dan anak saya, saya bersedia melakukannya. Selamatkan mereka dok, kumohon,” Jalal benar benar dilanda kepanikan saat ini. “Akan kami usahakan tuan, anda berdoalah untuk mereka,” dokter tersebut kembali masuk kedalam ruangan untuk menyiapkan proses operasi. Satu jam lebih proses operasi berlangsung. Orang tua Jodha dan Nyonya Hamidah telah datang setelah Moti memberi kabar kepada mereka. Mereka semua turut khawatir dan juga mencemaskan keadaan Jodha. Jalal masih belum bisa menenangkan diri dari kecemasan dan ketakutannya hingga saat dokter membuka ruang operasi dan menyatakan proses operasi telah selesai. “Tuan Jalal, operasi telah selesai kami lakukan. Anak anda telah lahir berjenis kelamin laki laki. Anda bisa melihatnya sekarang,” Jalal langsung bergegas masuk kedalam ruangan. Jalal melihat seorang perawat yang sedang membersihkan bayinya dan membungkus bayinya dengan selimut bayi. Menoleh ke kanan, ia melihat tubuh Jodha yang masih belum sadarkan diri. Segera Jalal menghampiri dan menggenggam tangan Jodha dengan erat. “Sayang, bangunlah,” airmata Jalal mengalir deras membasahi wajah tampannya. “Tuan, ini bayi anda. Silahkan,” seorang suster menyerahkan bayinya kepada Jalal dan segera Jalal menggendong bayi mungil buah cintanya dengan Jodha. Jalal melafalkan adzan ditelinga bayinya sambil berurai airmata. Airmata haru dan kesedihan bercampur menjadi satu. Jalal mendekatkan bayi mereka kepada Jodha yang masih terbaring tak sadarkan diri. Jalal menempelkan pipi sang bayi ke pipi Jodha dengan perlahan. “Sayang, lihatlah anak kita, dia begitu mungil dan lucu. Wajahnya tampan sepertiku dan untungnya tidak mirip denganmu yang chubby itu. Bangunlah sayang, apa kau tak ingin melihat dan menyusuinya?” Jalal tersenyum sambil masih berurai airmata. Tiba tiba bayi mereka menangis kencang dan Jalalpun menjadi panik, namun selang beberapa detik kemudian bayi mereka kembali terdiam dibarengi dengan sebuah keajaiban dimana jari jemari Jodha mulai bergerak pelan. Jalal takjub melihat peristiwa tersebut, Jodha mulai membuka matanya perlahan dan mengerjap ngerjap. Merasakan pipinya menempel oleh sesuatu, ia mencoba menoleh. Ia melihat bayi mungil yang sedang tertidur disampingnya. Seketika ia mendongak dan matanya langsung menatap kearah Jalal yang sedang memandangnya dengan tatapan kerinduan. “Jalal…dear….,” Jodha ikut meneteskan airmatanya. “Sayang, kamu sudah bangun. Lihatlah sayang, anak kita laki laki. Dia tampan sepertiku. Dia sedang haus sekarang,” airmata Jalal semakin deras membasahi wajahnya. Kali ini adalah airmata bahagia yang dikeluarkannya. Jodha pun ikut menangis terharu. “Dear, apa kau baik saja?” Jodha berubah khawatir melihat wajah jalal yang lebam lebam bekas baku hantam dengan Syarif tadi. “Tenanglah, aku baik baik saja,” jawab Jalal sambil mencium punggung tangan Jodha.

Jodha mulai menyusui bayi mungilnya dengan perlahan dibantu oleh Jalal. Terlihat senyum terus mengembang dibibir Jalal manakala melihat kedua orang yang dicintainya selamat dan dalam keadaan sehat. Tak hentinya Jalal mengecup kening Jodha karena bahagia. “Kau akan memberi dia nama apa, dear?” Tanya Jodha. “Akan kuberi dia nama Salim Humayun Akbar,” ucap Jalal mantap.                                  

*********

2 tahun kemudian…..
“Salim, ayo cepat kemari! Mama capek mengejar Salim terus. Ini makanannya belum dihabiskan,” Jodha mengusap keringatnya kelelahan mengejar Salim. “Hoek..hoek,” terdengar suara Jalal yang sedang muntah muntah didalam kamar mandi. Jodha yang mendengarnya bergegas menghampiri. “Dear, are you okay?” Jodha terlihat khawatir. Jodha memapah Jalal dan mendudukkannya di sofa. Membantu memijat tengkuk Jalal dan memberikannya teh hangat agar lebih baikan. “Sayang, pagi ini sudah yang ketiga kalinya aku muntah muntah seperti ini. Rasanya sangat tidak nyaman,” keluh Jalal sambil merebahkan kepalanya di sandaran sofa. “Sepertinya kali ini dia-lah yang merasakan ngidam,” gumam batin Jodha. Jodha bergegas menuju lemari yang ada dikamarnya kemudian kembali turun kebawah menemui Jalal. “Dear, sepertinya aku tahu mengapa kau selalu muntah muntah seperti ini” Jodha menyerahkan alat test packnya kepada Jalal. Semula Jalal sedikit bingung, hingga akhirnya ia membelalakan mata melihat dua garis merah yang tertera disana. “Sayang, kamu hamil!!” Seru Jalal sambil menatap kearah Jodha. Jodha menjawab dengan anggukan mantap. Segera Jalal meraih tubuh Jodha kedalam pelukannya dan memeluknya dengan erat, “terima kasih sayang, terima kasih. I love you so much,” Jalal melepaskan pelukannya kemudian mengecup perut Jodha yang masih rata, mencium kening, mata, pipi dan terakhir mengecup lembut bibir Jodha yang lama kelamaan berubah menjadi lumatan penuh hasrat. Mereka melepas tautan bibir mereka dengan nafas yang terengah engah saat mendengar derap langkah dari kejauhan menuju kearah mereka. “Wait! Bisa kau jelaskan padaku, apa hubungannya kehamilanmu dengan keadaanku yang selalu muntah muntah setiap pagi?” Jalal meminta penjelasan. “Hmmh, kurasa di kehamilanku saat ini kaulah yang mengalami ngidam. Sudah banyak kok yang seperti ini, Istri yang hamil, suaminya yang ngidam. Seperti semalam kau tiba tiba ingin makan mangga muda itu. Dan sepertinya kau harus bertahan hingga dua bulan kedepan karena usia kandunganku baru menginjak bulan pertama,” sahut Jodha bernada menggoda. “Kyaa?? Dua bulan??? Ya Khuda!!” Jalal menepuk jidatnya diiringi kekehan tawa Jodha. “Papaaaa….. Calim mau juga dipeluk kayak mama,” tiba tiba Salim menghampiri mereka dan langsung naik ke pangkuan Jalal. “Oh, ternyata jagoan papa ini yang sedari tadi menimbulkan kegaduhan dengan derap langkah kakinya,” Jalal memeluk putranya penuh kasih sayang. “Mama, peluk Calim juga dong,” dan Jodhapun ikut mendekap Salim dan Jalal. Ketiganya berpelukan dengan erat seperti takkan terpisahkan. “Terima kasih sayang, terima kasih untuk semua yang telah kau berikan. Aku mencintai kalian melebih nyawaku sendiri. Percayalah, apapun yang akan terjadi nanti dan berapapun banyaknya kesakitan yang kita alami, kita memang telah ditakdirkan untuk bersama hingga mautpun takkan bisa memisahkan kita. Dikehidupan kita yang berikut berikutnya, Jalal dan Jodha memang akan selalu ditakdirkan bersama,” Jalal berbisik di telinga Jodha. “Ya dear, aku percaya padamu dan pada takdir kita ini,” Jodha semakin mengeratkan pelukannya. Takkan ada yang bisa melawan takdirnya sendiri. Bila kau telah ditakdirkan untuk hidup bersama seseorang, maka betapa pun kau menghindar, ribuan kalipun kau membantah, berapa banyak pun kesakitan yang kau alami, percayalah, takdirmu akan menemukan jalannya sendiri. Selesai.