3 Wajah 1 Cinta bag 7 by Meysha Lestari. Acara pertunanangan Salima dan Jalal tetap akan di langsungkan meskipun Ruqaiyah keberatan. Tuan Bharmal telah mengambil keputusan dan tidak seorangpun berhak menggugatnya. Walaupun dengan sangat terpaksa dan dengan wajah yang sama sekali tidak terlihat bahagia, Ruqaiyah tetap berusaha tampil yang sebaik-baiknya. Salima berdandan ala kadarnya yang penting terlihat pantas. Dia tidak ingin terlihat bahagia diatas penderitaan Ruqaiyah.

Pukul 7 tepat, keluarga Humayun yang terdiri dari tuan Humayun, nyonya Hamida Banu dan Jalal tiba di kediaman Bharmal. Dua sahabat lama yang jarang bertemu itu saling melepas kerinduan. Bharmal memeluk Humayun, dan Menawati memeluk Hamida. Mereka terlihat bahagia di saksikan anak-anak mereka. Humayun menatap Salima dan Ruqaiyah dengan wajah sumringah. Sapanya sambil menghampiri Salima dan Ruqaiyah, “mana dari kalian yang akan menjadi menantuku?”

Salima dan Ruqaiyah terlihat tegang. Ruqaiyah dengan wajah muram dan Salima dengan wajah datar penuh kepasrahan. Salima menyambut uluran tangan tuan Humayun dan menjawab dengan lembut, “selamat datang, paman Humayun. Ayah sering bercerita tentang anda.” Humayun tertawa, “benarkah? Tapi dia sangat jarang membicarakan tentang putri-putrinya. ..” Humayun menoleh kearah Bharmal dan bertanya dengan nada mengoda, “berapa putri yang kau punya Bharmal? 3 bukan? Kenapa di sini hanya 2? Mana satu lagi?”

Bharmal melirik Menawati dengan tatapan bertanya. Dengan cepat Menawati menyahut, “dia sedang dalam perjalanan, Bhaisa. Sebentar lagi juga akan tiba. Ayo silahkan duduk….”

Begitu meletakkan pantatnya, Humayun dan Bharmal tidak bisa di ganggu lagi. Keduanya saling bertanya kabar dan bercerita. Begitu juga Menawati dan Hamida. Salima hanya menyumbang tawa kecil jika ada hal lucu yang di dengarnya. Ruqaiyah menatap Jalal dengan tatapan terluka. Jalal yang tidak tahu arti tatapan Ruq hanya membalas dengan senyum heran. Dia ingin bicara banyak dengan Ruqaiyah untuk melepas ketegangannya,  tapi tidak berani melakukan itu di hadapan ayahnya. Bagaimanapun, pertemuan ini adalah untuk menyatukan kedua keluarga, dia tak ingin mengusik dan mencoreng harga diri ayahnya dengan bersikap egois.

Jalal berpikir, “biarlah, aku mengalah untuk saat ini saja. Akan ada waktu untuk menyelesaikan semuanya. Sebelum pernikahan, aku pasti akan menemukan Jodha dan memberitahu ayah tentang semuanya.” Jalal merasa masih punya harapan, karena acara pertunangan ini masih bersifat kekeluargaan, belum di resmikan. Dia yakin dirinya masih bisa mencari cela untuk mengatakan yang sebenarnya. Tapi saat menatap Salima, dia merasa bersalah. Rasa bersalah karena akan mempermainkan perasaan Salima. Tapi Jalal belum bisa berdamai dengan hatinya. Bukan hanya belum tapi dia yakin dia tidak akan bisa berdamai dengan rasa cinta yang tersimpan hatinya. Rasa cinta yang telah dia berikan pada Jodha.

Tiba-tiba bel pintu berbunyi. Menawati terrsenyum bahagia, “itu pasti dia. Ruk, bukakan pintu untuk kakakmu!” Menawati menyuruh Rukayah pergi membuka pintu. Rukayah dengan wajah enggan hendak bangkit, tapi Jalal mencegahnya, “biar aku saja.” Lalu tanpa menunggu jawaban, Jalal segera beranjak menuju pintu.  Dia mengintip keluar melalui lubang intip, dia melihat rambut hitam tergerai lepas.  Tanpa firasat apa-apa, Jalal memutar anak kunci dan menarik daun pintu hingga terbuka. Dia hendak mempersilahkan  orang yang  berdiri di depan pintu itu masuk. Tapi lidahnya terasa kelu dan matanya terpaku tak percaya menatap wajah yang selama ini dia rindukan berdiri di depannya. “Jodha..” guman Jalal lirih.

Jodha yang berdiri menunggu di depan pintu tak kalah kaget saat melihat wajah Jalal menyembul dari balik daun pintu. Dia seperti bermimpi. Lama keduanya saling menatap dalam kebisuan. Hanya raut wajah mereka yang bicara. Ada rasa lega dan bahagia terpancar di sana. Tidak menyangkah setelah sekian lama saling mencari, akhirnya mereka di pertemukan di sini, di tempat yang tidak pernah mereka bayangkan sama sekali.  Keduanya masih saling pandang dan belum saling sapa ketika Salima muncul dan menyapa keduanya, “Jodha.. kenapa masih berdiri di depan pintu? Ayo masuklah!”  Mendengar suara Salima, Jalal segera mengeser badannya dari depan pintu.  Dengan senyum bahagia dia menyapa Jodha untuk pertama kalinya, “maaf, masuklah!”

Jodha dengan rasa tak percaya melangkah masuk. Jalal menutup pintu dengan perasaan tak menentu. Jatungnya meletup-letup riang. Salima menggandeng Jodha mengajaknya masuk kedalam. Tapi Jodha menahan tangan Salima dan berbalik menatap Jalal dengan rasa penasaran yang tak berusaha dia sembunyikan, “maaf,… tapi aku sangat ingin tahu. Bagaimana kau bisa ada di rumah ini?” Jalal hendak menyahut ketika Salima dengan rasa heran menyela, “kalian sudah saling kenal?” Jalal dan Jodha menatap Salima bersamaan. Dan seperti di komando keduanya menjawab serentak, “…di Santorini..” jalal tersenyum dan mempersilahkan Jodha menjawab. Jodha menatap Salima dengan wajah tersipu malu, “dia yang ku temui di Santorini, kak. Yang pernah ku ceritakan padamu.” Salima tersentak kaget.

Jalal pun terkejut saat Jodha memanggil Salima kakak, “kalian kakak beradik?”  Salima menatap Jalal memastikan, “kau bertemu adikku saat di Santorini? Pria yang telah…… itu kau??” Ganti Jalal yang menatap Jodha dan Salima secara bergantian. Jodha menunduk dengan wajah bersemu merah.  Tanpa membuang waktu lagi,  Salima segera menarik tangan Jodha, “kita harus segera menemui ayah ..!”  Tapi belum jauh melangkah, Salima menoleh kearah Jalal, “dan kau.. Jalal, harus menjelaskan semuanya pada mereka!  Sejelas-jelasnya! Jangan ada salah paham lagi!” Jalal sama sekali tidak mengerti dengan apa yang di katakan Salima. Tapi dia segera membuntuti Salima yang menarik tangan Jodha. Jalal tak ingin kehilangan Jodha. Setelah menemukannya, dia tidak akan melepaskan gadis itu lagi. Itu tekadnya…. 3 Wajah 1 Cinta bag 8 by Meysha Lestari.

NEXT