Deja Vu bag 27 by Sally Diandra.  “Hamida, bukankah itu Jodha ?” pak Humayun merasa heran dengan kehadiran Jodha di rumahnya kembali, sementara Hamida tersenyum melihat kebersamaan Jodha dan Jalal, begitu pula Bhaksi Bano dan suaminya, Syarifudin

“Iya, itu Jodha, ayah ,,, kenapa ayah kaget seperti itu ?” ibu Hamida melirik ke arah suaminya yang masih diam mematung memandang Jodha dari kejauhan

“Memangnya mereka masih pacaran, bu ?” Bhaksi Bano juga ikutan penasaran, ibu Hamida mengangguk sambil tersenyum kearah anak sulungnya kali ini

“Yaaa ,,, begitulah anak muda sayang, putus nyambung putus nyambung putus nyambung lagi” ujar ibu Hamida sambil melihat Jalal dan Jodha yang sedang berpegangan tangan dan berjalan ke arah mereka, sementara Jodha merasa canggung harus memegang tangan Jalal kembali, pikirannya menerawang teringat pada Shivani, adiknya yang sangat tergila gila dengan laki laki di sebelahnya ini yang sebentar lagi akan menjadi suaminya.

Pada awalnya Jodha bingung bahkan hendak mengurungkan niatnya untuk tidak menceritakan pada Shivani tentang rencana pernikahannya dengan Jalal, namun bagaimanapun juga Shivani harus tahu, agar dia tidak salah faham dan marah ke Jodha

“Shiva, kamu sudah tidur ?” semalam Jodha memang sengaja masuk ke kamar adik bungsunya

“Aku belum tidur, kak ,,,, masuklah” tanpa menunggu lama, Jodha langsung memasuki kamar adiknya dan duduk di tepi tempat tidur, sementara Shivani terduduk di tempat tidur sambil mengutak atik laptopnya

“Kamu lagi banyak PR ya ?” Shivani menggeleng ketika dilihatnya kakak sulungnya ini merasa bersalah karena sudah mengganggu jam belajarnya

“Aku cuma nyalin beberapa materi kuliah kok, kak ,,, memangnya ada apa ?” kali ini Shivani dilihatnya begitu tenang, tidak ada perasaan kesal dan marah seperti tempo hari ketika Jodha melarangnya berhubungan lagi dengan Jalal

“Shiva, ada sesuatu yang ingin kakak katakan padamu” ujar Jodha sambil memegang tangan Shivani, Shivani segera menutup laptopnya dan membalas tatapan Jodha

“Ada apa sih, kak ? Kok kayaknya serius banget” kali ini Shivani mulai penasaran dengan ucapan Jodha

“Apakah kamu mau tahu kenapa kakak melarang kamu berhubungan dengan kak Jalal ?” Shivani tersenyum manis sambil mengangguk, Jodha merasa heran dengan perubahan sikap adiknya kali ini

“Kamu tahu ? Dari mana kamu tahu ? Tunggu tunggu tunggu ,,, apakah kak Jalal yang menceritakannya padamu ?” Shivani masih terdiam sambil tetap tersenyum kemudian merangkul leher Jodha erat sambil berbisik

Deja Vu“Aku tau sendiri, kak” Jodha segera melonggarkan rangkulan Shivani sambil menatapnya heran

“Maksud kamu ?” Shivani akhirnya menceritakan kedatangannya ke rumah sakit Jalal tempo hari dan menceritakan bagaimana dia mengetahui hubungan Jalal dan Jodha, Jodha terperangah tidak percaya

“Jadi dia masih menyimpan foto kakak ?” Shivani menganggukkan kepalanya sambil tersenyum

“Aku bisa ngerti kok, kak ,,, kenapa kak Jodha melarang aku agar tidak berhubungan dengan kak Jalal, selain usia kami memang terpaut jauh, aku juga merasa kalau kak Jalal masih mencintai kak Jodha, buktinya dia masih menyimpan foto kakak dan lagi kayaknya nggak etis lah ,,, berhubungan sama mantan pacar kakak sendiri” Jodha terharu mendengarnya, Jodha segera memeluk Shivani erat kemudian mengacak ngacak rambut Shivani sambil berkata

“Kakak nggak nyangka, kalau adik kecil kakak ini ternyata sudah dewasa, terima kasih yaa sayang ,,, kakak kira kamu akan sedih atau marah sama kakak tapi ternyata kamu bisa menyikapinya dengan bijak, kakak salut sama kamu” ujar Jodha sambil membelai belai rambut adiknya

“Aku tahu, kak ,,, kalau cinta itu tidak bisa dipaksakan, aku tidak mungkin memaksa kak Jalal untuk mencintai aku dan lagi aku sudah mendapatkan pengganti kak Jalal kok” ujar Shivani polos

“Oh iya ? Siapa dia ?” Shivani tersipu malu ketika mau mengungkapkannya “Namanya ,,, Mirza Hakim, dia adik kandung kak Jalal” Jodha terkejut ketika Shivani menyebut nama Mirza

“Mirza ? Adik Jalal ? Yang bener ?” Shivani hanya mengangguk sambil menahan malu

“Kalau dia kakak tau banget, kakak kenal juga dengan Mirza” kedua bola mata Jodha berbinar terang

“Tapi ada sesuatu yang mau kakak katakan ke kamu, Shiva” kali ini dahi Shivani berkerut

“Apa itu, kak ?” sesaat Jodha terdiam sambil tertunduk

“Kakak mau menikah dengan kak Jalal” Shivani terperangah tidak percaya sambil menutup mulutnya kemudian memeluk Jodha erat

“Betul itu, kak ? Waaah ,,, aku seneng banget, aku seneng kalau akhirnya kak Jodha kembali lagi sama kak Jalal dan menikah lagi ! Selamat yaaaa, kak” Shivani kembali memeluk Jodha erat, sedangkan Jodha malah jadi bingung dan hanya tersenyum getir, Jodha tidak tahu apakah ini memang takdirnya untuk bersatu lagi dengan Jalal atau hanya sebuah kebetulan belaka, perasaan Jodha tidak menentu, terutama malam ini ketika dia harus bertemu dengan profesor Humayun, salah satu profesor killer di kampusnya dulu yang menjadi salah satu inspirasinya, sementara pak Humayun langsung menyeringai senang menyambut dokter muda favouritenya ini

“Jodha ! Apa kabar nak ?” pak Humayun segera mengulurkan tangannya ke arah Jodha, Jodha menyambutnya dengan senyum manisnya

“Kabar saya baik baik saja, profesor Humayun” pak Humayun senang melihat Jodha tapi begitu diliriknya Jalal yang berdiri di sebelah Jodha, raut wajah pak Humayun segera berubah kesal seraya berkata

“Ada apa dengan kamu ini ? Punya pacar secerdas Jodha tapi masih bertingkah tidak beradab !” suara pak Humayun terdengar kesal, pak Humayun memang masih marah dan kesal dengan Jalal, bahkan sejak insiden perkelahiannya, pak Humayun tidak ingin bertemu dengan Jalal, namun malam ini pak Humayun akhirnya harus face to face dengan Jalal

“Aku minta maaf, ayah ,,, waktu itu aku khilaf, aku ,,,” belum juga Jalal menyelesaikan kalimatnya tiba tiba Jodha menyela pembicaraan mereka

“Aku yang menyebabkan hal itu, prof” Jalal terperangah mendengar ucapan Jodha sambil menaikkan sebelah alisnya “waktu itu, kami bertengkar hebat ,,, tapi aku nggak nyangka kalau imbasnya akan seperti itu, tapi saat ini kami sudah baikkan lagi, bukan begitu sayang ?” ujar Jodha sambil melirik ke arah Jalal dengan senyum manisnya, Jalal hanya mengangguk angguk membenarkan ucapan Jodha

“Jadi kalian ini masih pacaran ?” Jodha dan Jalal berpandang pandangan satu sama lain kemudian tersenyum sambil menganggukkan kepalanya kompak

“Kan ibu tadi sudah bilang kan, ayah ,,, kalau mereka ini putus nyambung putus nyambung, mereka itu LDR, long distance relationships, benar begitu ?” ibu Hamida ikut menyela pembicaraan mereka

“Iya, ayah ,,, Jodha kan baru selesai PTTnya di Kalimantan” Jalal melirik ke arah Jodha yang masih tersenyum ke arahnya dengan senyum penuh kepura puraan

“Wow ,,, jadi kalian LDR Kalimantan Papua ? Waaah ,,, salut ! Kalau jodoh emang nggak kemana ya, walaupun sudah pisah jauh jauh sampai beberapa tahun tapi kalau emang sudah jodoh ya balik lagi, iya kan ?” suara Bhaksi Bano terdengar riang sementara yang lainnya tertawa kecil

“Kalau begitu, ayooo kita masuk ke dalam, masakan ibumu keburu dingin nanti” pak Humayun menyuruh semua anak anaknya untuk masuk ke dalam rumah.

Setiap kali memasuki rumah itu, Jodha selalu merasa nyaman, seperti ada daya magis yang menjeratnya untuk berlama lama disana, selain seluruh anggota keluarganya yang sudah familiar, rumah yang mereka diamipun sangat nyaman untuk Jodha, Jodha merasa rindu untuk kembali ke rumah ibu Hamida, Jodha masih ingat di setiap sudut sudut rumah ketika dirinya bercengkrama dengan Jalal atau ketika menemui ibu Hamida selama Jalal berada di Papua, semuanya seperti slide film yang berputar di benaknya, hingga akhirnya ketika makan malam usai, Jalal meminta waktu untuk mengutarakan maksudnya

“Ayah, ada sesuatu yang hendak aku katakan” semua mata langsung tertuju kearah Jalal

“Kebetulan ayah juga ingin mengatakan sesuatu padamu” ujar pak Humayun sambil mengaduk aduk teh non fat-nya, ibu Hamida hanya bisa menahan nafas

“Ayah, aku bermaksud hendak melamar Jodha menjadi istriku” Bhaksi Bano dan suaminya, Syarifudin terperangah lalu tersenyum sambil menatap adiknya itu, sementara pak Humayun hanya menatap Jalal dingin dan sesekali melirik ke arah Jodha, Jalal dan Jodha saling berpandang pandangan satu sama lain

“Apakah kamu sudah memikirkan hal ini baik baik, dokter Jodha ?” Jodha terkejut ketika pak Humayun malah bertanya padanya “kamu tidak akan menyesal nantinya ? Aku yakin kamu tahu kan, apa yang barusan dialami oleh Jalal” Jodha mengangguk membenarkan ucapan pak Humayun

“Saya percaya sama dokter Jalal, prof ,,, saya yakin dia pasti tidak akan mengulanginya lagi” jawaban Jodha sedikit membuat ibu Hamida lega, sedangkan Jalal tersenyum ke arahnya sambil memegang tangan Jodha

“Tapi itu bukan berarti, dia bisa bebas dari hukumannya, dokter Jodha” Jodha melirik ke arah Jalal seraya berkata “Kami sudah membicarakan hal ini, prof ,,, kami sudah siap menerima konsekwensinya karena kesalahan yang dilakukan oleh dokter Jalal adalah kesalahanku juga jadi kami siap menanggungnya” ibu Hamida nampak menahan nafas kembali

“Lalu kapan kalian akan menikah ?” Jalal dan Jodha kembali berpandang pandangan, ibu Hamida juga ikut tegang menatapnya

“Secepatnya, ayah ,,, rencananya kami akan melamar Jodha dulu ke Kalimantan, baru setelah itu menentukan tanggal pernikahan kami” ujar Jalal

“Bagus ! Kalau begitu lebih baik kalian menikah tiga atau empat bulan yang akan datang karena Jalal harus di skors selama 3 bulan untuk tidak praktek dimanapun !” semuanya nampak tegang begitu mendengar ucapan profesor Humayun

“Lalu bagaimana dengan pencopotan gelarnya, ayah ?” secara hati hati ibu Hamida bertanya dengan perasaan yang cemas

“Tenang, Hamida ,,, anakmu masih bisa memakai gelarnya setelah masa skorsingnya berakhir, yang pasti selama 3 bulan itu dia harus menunjukkan perilaku yang baik dan tidak mengulangi lagi perbuatannya, bukan begitu Jalal ?” Jalal mengangguk mantap sambil melirik ke arah ibunya, ibu Hamida tersenyum sambil mengangguk ke arah Jalal, saran ibunya ternyata benar, ayahnya langsung luluh begitu Jalal mengungkapkan niatnya untuk menikahi Jodha

Beberapa hari kemudian ,,,

Jodha akhirnya menguatkan dirinya untuk menolak lamaran dokter Suryaban, siang itu Jodha sengaja mengajak Suryaban makan siang di rumah makan langganan mereka berdua

“Apa kamu bilang ? Kamu menolak lamaranku ?” Suryaban benar benar terkejut begitu mendengar penolakan Jodha atas lamarannya

“Apakah karena aku kurang sempurna di matamu, Jodha ? Apa yang kurang dari aku sehingga kamu tidak bisa berpaling padaku, Jodha” suara dokter Suryaban terdengar parau karena ditahannya agar tidak terdengar oleh para pengunjung yang lain yang juga sedang menikmati makan siang disana, sementara Jodha hanya terdiam dengan kedua tangannya menyangga dahinya yang terasa pening saat itu

“Dokter Suryaban, aku minta maaf ,,, ini demi kebaikan semua orang, aku tidak bisa menerima lamaranmu” dokter Suryaban merasa heran dengan ucapan Jodha

“Apa maksudmu, Jodha ? Apa ,,,” belum juga dokter Suryaban selesai dengan perkataannya, tiba tiba Jodha memotong ucapannya

“Aku mohon jangan paksa aku, dokter Suryaban ,,, karena aku tidak mungkin membuat hati adikku terluka” dokter Suryaban semakin merasa bingung dengan ucapan Jodha

“Dokter Suryaban, adikku Sukaniya mencintai kamu dan aku sudah tahu hal ini dari dulu, jadi mana mungkin aku bisa melukai hati adik kandungku sendiri, aku tidak bisa membayangkan bagaimana dirinya nanti kalau aku menerima lamaranmu, dokter Suryaban ,,, jadi aku mohon mengertilah” dokter Suryaban kembali terperangah tidak percaya kalau ternyata adik Jodha, Sukaniya mencintai dirinya

“Dan lagi aku sudah menerima lamaran dokter Jalal” ujar Jodha kemudian

“Apa ? Dokter Jalal temanmu itu ?” Jodha mengangguk sambil menatap dokter Suryaban dengan senyumnya yang getir, dokter Suryaban benar benar merasa terpojok, tidak ada celah yang bisa di laluinya untuk bisa mendapatkan Jodha

“Dari dulu aku sudah mengira ,,, kalau diantara kalian berdua pernah ada hubungan special”

“Dia mantan pacarku, dok ,,, dan sekarang dia ingin kembali padaku dengan mengajak aku menikah dan memperbaiki hubungan kami yang sempat renggang dulu, aku mohon kamu bisa mengerti, dok” dokter Suryaban hanya bisa mengangguk anggukkan kepalanya dan berusaha menerima semua ini dengan lapang dada

Satu minggu kemudian ternyata Jalal dan keluarganya tanpa menunggu waktu lama, segera terbang ke Kalimantan untuk melamar Jodha pada kedua orang tuanya, pak Bharmal dan ibu Meinawati sangat senang dan langsung bisa menerima keluarga profesor Humayun dengan tangan terbuka, hingga akhirnya lima bulan kemudian pernikahan Jalal dan Jodha pun berlangsung, selama lima bulan sebelumnya hubungan Jalal dan Jodha bukannya semakin membaik tapi malah tidak pernah berkomunikasi sama sekali, Jodha sendiri malah bersyukur ketika di 3 bulan pertama pada masa skorsingnya Jalal malah memutuskan travelling keliling Indonesia sendirian sebagai seorang backpacker, Jodha tidak peduli Jalal mau kemana dan bersama siapa, Jodha malah semakin tenggelam dengan pekerjaan barunya di rumah sakit profesor Humayun dan mempersiapkan diri untuk mengambil specialis dokter anak

Dua bulan sisanya ketika Jalal sudah kembali bekerja, Jodha juga selalu berusaha untuk menghindar dari Jalal, meskipun mereka bekerja pada rumah sakit yang sama namun intensitas pertemuan mereka sangatlah terbatas karena Jodha memang sengaja melakukan hal itu, Jodha enggan untuk berbasa basi dengan Jalal, tidak seperti dokter lainnya yang berusaha untuk kenal lebih dekat dengan Jalal.

Hingga akhirnya ketika mereka menikah, banyak orang yang terkejut dengan keputusan mereka karena banyak orang yang mengira kalau dokter Jalal tidak pernah berhubungan dengan dokter Jodha, hal itu sedikit membuat rancu banyak orang.

Dan mulai hari ini, Jodha resmi menyandang predikat sebagai istri dokter Jalal selain gelar dokter yang dimilikinya, babak baru kehidupan rumah tangga Jodha baru saja dimulai ,,, … NEXT