Sinopsis Ashoka Samrat episode 173 by Sally Diandra.  Di kerajaan Magadha, Noor terlihat sedikit gelisah dikamarnya, dia meminta pelayannya untuk segera mengemasi barang barangnya secepatnya, pelayan yang lain datang mengabarkan kalau Bindusara ingin bertemu dengan dirinya, kemudian para pelayan itu pergi meninggalkan Noor ketika Bindusara datang “Rani Noor, bagaimana kesehatanmu ?” ujar Bindusara “Selamat, Samrat ! Anakmu yang pertama telah memenangkan pertandingan, kamu pasti bangga !” ujar Noor “Jika kamu mau memberikan restumu ke Sushima di depan semua orang, maka aku akan sangat bahagia, tapi kamu harus membujuk Siamak, dia itu masih sangat muda” ujar Bindusara lagi “Kamu memang benar, Samrat ,,,, sebagai seorang istri seharusnya aku berada disana tapi aku juga seorang ibu, aku tidak bisa melihat anakku menderita jadi aku tidak bisa menghadiri perayaan kemenangan pangeran Sushima” ujar Noor dengan nada memelas “Lalu dimana Siamak ?”, “Dia sangat sedih, dia butuh istirahat, aku tahu kalau ayahku telah melakukan tindak kejahatan dan seharusnya dia memang tidak di beri ampun tapi aku juga seorang anak, aku tidak bisa begitu keras padanya, dia memang salah tapi pada kenyataannya adalah dia itu ayahku ! Aku tidak mempunyai siapa siapa lagi” ujar Noor sedih sambil menangis “Aku akan membebaskannya” Noor pura pura kaget “Aku tidak memintamu untuk membebaskannya, Samrat ,,, tapi aku mempunyai beberapa tanggung jawab sebagai seorang anak, aku ingin pergi ke Avrat ! Itu adalah daerah untuk berziarah para Khurasani, aku ingin berdoa pada Dewa Khurasan untuk meminta maaf, apakah aku boleh pergi kesana ?” pinta Noor dengan mengiba “Baiklah, aku akan meminta Aakramak untuk menyiapkan perjalananmu nanti” ujar Bindusara, kemudian berlalu meninggalkan Noor, sepeninggal Bindusara, Noor segera menyeka airmata kepura puraannya sambil tersenyum sinis

Di kamar pribadi Ashoka, saat itu Dharma menawari ladu untuk Ashoka namun Ashoka menolaknya dan berkata “Ibu, aku telah kalah tapi kamu tetap menawari aku ladu ? Bukankah kamu sedih karena aku kalah ?” ujar Ashoka sedih “Kamu mungkin kalah tapi kemenangan sejati adalah kamu telah mengutarakan semua pemikiran pemikiranmu seperti orang yang hebat dan saudaramu telah bekerja keras juga untuk itu, makanya dia menang” ujar Dharma “Aku tidak sedih kalau aku kalah dari saudaraku, ibu ,,, aku tidak menang untuk diriku sendiri tapi juga untuk Siamak” ujar Ashoka tulus “Apa perbedaan diantara saudara saudaramu ?”, “Siamak itu sangat baik dan dia juga bisa menjadi Samrat yang baik daripada Sushima” ujar Ashoka “Tapi dia belum cukup dewasa dan ibu yakin kalau Sushima pasti telah menunjukkan penampilannya yang terbaik tadi, itulah mengapa dia yang terpilih, Sushima mungkin tidak mengambil langkah pertama tapi kamu bisa, jika dia tidak bisa hidup dengan saudaranya dalam keadaan damai maka mengapa kamu tidak melakukan hal itu ? ini akan baik untuk Ahenkara juga, ibu tahu kalau kamu khawatir sama Ahenkara, kamu pikir kamu harus bertanggung jawab padanya tapi seharusnya kamu tahu dimana batasanmu, dia telah menjalin hubungan dengan Sushima dan kamu seharusnya menghargai hal itu, Ashoka” ujar Dharma panjang lebar “Jangan khawatir, ibu ,,, aku tidak akan melakukan hal apapun yang akan melukai Ahenkara” kemudian mereka berdua saling menyuapkan ladu satu sama lain sambil saling tersenyum senang

Ashoka samrat coverSementara itu di kamar Sushima, Sushima sedang berdua bersama ibunya, Charumitra “Selama ibu bersama dengan diriku maka tidak akan terjadi apa apa pada diriku, ibu” ujar Shusima “Ibu hanya takut, Sushima ,,, bagaimana jika ada seseorang yang merenggut kebahagiaanmu ini, kita ini baru saja memulai, kerajaan Magadha telah menunggu kamu” keduanya tersenyum senang

Di ruang sidang kerajaan Magadha ,,, ritual aarti untuk Sushima telah selesai di lakukan oleh para brahmana namun Ahenkara terlihat tidak bahagia, para brahmana yang ada disana berkata pada Sushima “Pangeran Sushima, seorang Samrat yang baik adalah yang memikirkan bangsanya dibanding dirinya sendiri” kemudian salah satu brahmana menyuruh Bindusara untuk memberikan tempatnya pada wakil Samrat, Bindusara turun dari tahtanya dan memanggil Sushima untuk mendekat, Sushima segera berdiri dan berjalan ke arah Bindusara, lalu Bindusara mengenakan mahkota kerajaan pada Sushima, Ashoka yang melihatnya terlihat senang, Bindusara memberikan sebuah pedang untuk Sushima, Sushima berlutut di depan Bindusara dan menerima pedang tersebut, Bindusara menunjuk singgasana kerajaan pada Sushima, Sushima segera berlalu dan duduk di singgasana tersebut dengan senyum kemenangan, Charumitra dan Khalatak juga tersenyum senang, semua orang yang hadir disana mengelu elukan nama Sushima “Hidup pangeran Sushima ! Hidup pangeran Sushima ! Hidup pangeran Sushima !” Charumitra sangat senang dan bangga melihat anaknya berhasil duduk di singgasana kerajaan “Dia hanya menunjukkan banyak kesombongan untuk menjadi seorang Samrat dan tahta akan di rebut darinya segera !” bathin Helena dalam hati sambil tersenyum sinis “Aku telah membuatnya menjadi Samrat sementara dan mulai sekarang aku akan memastikan dirinya menjadi Samrat selama lamanya” bathin Charumitra dalam hati, kemudian Bindusara berkata pada Chanakya

“Guru, kamu selalu menunjukkan pada kami jalan yang benar, kamu telah memberikan kami sebuah visi, maka aku meminta padamu untuk menunjukkannya beberapa pada pangeran Sushima” pintu Bindusara “Pangeran Sushima, ingat posisi ini tidak akan selama lamanya, jadi jangan menjadi seorang yang egois, kamu memiliki tahta ini sampai Samrat Bindusara kembali lagi ke istana Magadha tapi itu bukan berarti kamu tidak bisa melakukan apa apa selama kurun waktu tersebut, ibaratnya sama seperti hujan yang telah membuat para petani bahagia dengan membantu menyuburkan ladang mereka tapi ada juga badai yang akan datang yang bisa menghabiskan semuanya, sekarang kamu harus memutuskan, mau jadi apa kamu ini ? Hujan atau badai ?” ujar Chanakya lantang, Sushima hanya terdiam mendengarkan ucapan Chanakya, sementara itu Bindusara mencoba menyenangkan hati Ashoka “Ashoka, kamu memang tidak menang tapi itu bukan berarti kamu tidak mempunyai pekerjaan apa apa disini, kamu harus bisa menunjukkan pada Sushima jalan yang benar dan juga melindungi keluargamu” Ashoka tersenyum seraya berkata “Aku tidak akan mengecewakan kamu, ayah” ujar Ashoka “Aku telah mendapatkan apa yang aku inginkan dan sekarang Ashoka akan membayar semua yang telah dia lakukan selama ini” bathin Sushima dalam hati “Sushima mungkin bisa saja mempunyai tahta kerajaan tapi tahta Chandragupta ini ada pada tanganku dan aku tidak akan membiarkannya menghina hal ini !” bathin Ashoka dalam hati

Dalam perjalanan menuju ke Avrat, rombongan Noor berhenti di tengah jalan, Noor pura pura melihat peta yang menuju ke daerah tersebut, tiba tiba ketika Noor hendak masuk ke tandunya, Noor pura pura bersandiwara “Prajurit, aku seperti mendengar sebuah suara, coba cek suara apa itu ?” beberapa prajurit langsung mengecek suara yang didengar oleh Noor, sementara sisanya bertahan di tempat untuk keamanan Noor sendiri, namun dengan sigap Noor malah membunuh mereka satu per satu dan berlari dari sana, ketika prajurit yang mencoba mengecek datang, mereka semua heran “Apakah ada seseorang yang menyerang mereka ? Lalu dimana Rani Noor ?” ujar prajurit itu pula, tiba tiba Noor muncul dari arah belakang dan membunuh prajurit sisanya “Sangatlah tidak mudah untuk menemukan Dastan, sang raja Khurasani tapi aku harus menemukan dia ! Ini semua demi tujuan Siamak !” ujar Noor sinis, kemudian Noor berlalu dari sana dengan mengendarai kuda

Di kerajaan Magadha, ketika Ashoka sedang tertidur Ashoka bermimpi dimana dirinya terjebak diantara beberapa laki laki yang mencoba untuk menyerangnya, Ashoka juga melihat singgasana kerajaan di penuhi dengan ular, tiba tiba Ashoka terbangun seraya berkata “Kenapa aku selalu bermimpi tentang hal ini terus menerus ?” ujar Ashoka cemas,

Keesokan harinya, Ashoka menemui Radhagupta di koridor istana dan berkata “Radhagupta, beberapa hari ini aku bermimpi, aku melihat diriku sendiri terjebak dalam dunia yang penuh teka teki dan juga aku melihat singgasana kerajaan di penuhi dengan ular, apa artinya itu ?” ujar Ashoka “Aku tidak bisa mengatakan padamu apa artinya mimpi itu” tepat pada saat itu Helena tiba tiba muncul di depan mereka dan berkata dengan santainya “Itu berarti ada sebuah bahaya yang akan datang, ular di kenal dengan sebutan pengkhianat dan mereka biasanya di gunakan untuk menunjukkan tanda bahaya, itu artinya ada bahaya di sekitar singgasana kerajaan, Ashoka” ujar Helena santai kemudian berlalu meninggalkan mereka, Ashoka dan Radhagupta hanya tertegun “Apakah itu artinya ayahku sedang dalam bahaya ?” tanya Ashoka cemas.. Sinopsis Ashoka Samrat episode 174 by Sally Diandra

.