Jalal tertawa, “kau naif sekali. Apakah kau pikir, kau bisa menikahi orang lain setelah menolak ku? Tidak! Karena aku tidak akan melepaskanmu. Dan lagi, pria mana di india ini yang berani menikahi wanita milik raja? Kau telah tinggal di harem, itu artinya kau milikku. Jika aku buat pengumuman kalau kau pernah tinggal di istana dan melayaniku, kau pikir akan ada pria yang mau menjadikan dirimu sebagai istrinya?” Mendengar ancamam Jalal, Jodha tertawa, “bagiku lebih baik menjadi perawan seumur hidup dari pada menikah denganmu!”

Jalal dengan marah mengangkat telunjuknya di depan Jodha, “hati-hati… kalau bicara Lakshmi! Kau hanya pelayan di sini. Aku menghormatimu, karena kau pelayan ibuku. Kalau tidak…” Jodha dengan menantang bertanya, “kalau tidak kenapa, Yang Mulia?” Jalal benar-benar hilang kesabaran dibuatnya.

Dengan marah Jalal meraih pergelangan tangan Jodha, “kau akan tahu akibatnya. Tidak ada wanita yang merasa diriku tidak layak untuknya. Aku telah memintamu baik-baik. Kalau kau tidak mau, maka aku  akan memaksamu. Kau akan menjadi milikku… apapun yang terjadi. .. kalau perlu malam ini juga.”

Jalal menarik tangan Jodha dan menyeretnya masuk ke kamar dan melemparkannya ke tempat tidur. Lalu tanpa membuang waktu dia menindih tubuh Jodha tapi tidak- benar-benar menyentuh, karena lengannya yang berotot menahan bobot tubuhnya, “lihatlah Lakshmi, apa yang bisa kulakukan padamu. Aku akan memilikimu malam ini.. dan tidak akan ada yang berani melarangku.”

Jodha dengan wajah pucat sambil menahan rasa takut berkata, “kau seorang raja yang terhormat, kau tidak boleh menyentuh wanita dengan paksa..” Jalal tertawa, “siapa yang membuat pertauran itu? Aku raja, siapa yang berani melarangku?” Jalal melipat lengannya sehingga tubuhnya otomatis menyentuh tubuh Jodha.

Jalal menyentuh pipi Jodha lembut dan membelainya, “kau tahu Laksmi, tidak akan ada yang bisa menghentikan aku sekarang. Aku telah memberimu pilihan, menjadi istriku atau…”

Jodha tanpa pikir panjang menyahut cepat, “ya, Yang Mulia. Aku mau menjadi istrimu!” Jalal tertawa, “kenapa kau tiba-tiba berubah pikiran?” Jodha dengan suara bergetar menjawab, “lebih baik aku menikah denganmu dari pada kau …..”

Jalal mencium bibir Jodha lembut. Jodha yang tak menduga kalau Jalal akan menciumnya tak sempat mengelak.  Jalal tertawa, dia meraih tangan Jodha dan membantunya bangun dari tempat tidur, ” “gadis pintar! Baiklah, pernikahan akan di lakukan 3 hari lagi. Aku akan menahan diri selama tiga hari demi dirimu. Sekarang kau boleh pergi!”

Tanpa membuang waktu lagi, Jodha segera berlari pergi kembali ke kamarnya dengan menangis. Dia sangat benci pada dirinya sendiri. Jalad itu telah menyentuh tubuhnya dan mencium bibirnya lagi. Jodha masuk kekamar mandi dan mencuci bibirnya yang tersentuh bibir Jalal dengan bersih. Dia tahu, sebanyak apapun yang dia gunakan, tidak akan dapat menghilangkan bekas ciuman itu. Selamanya dia akan menjadi wanita yang pernah di cium Jalal. Dan dia tidak bisa membiarkan hal seperti itu terjadi lagi. Jodha memutuskan kalau malam ini adalah malam terakhirnya dan Jalal tidak akan bisa menyentuhnya lagi. Karena dia akan pergi dari istana ini, ” Aku tidak akan menikah dengannya.. tidak akan pernah! Aku akan memastikan kalau sentuhan ini adalah sentuhan terakhirnya“.

Episode 1