Sinopsis Chandra Nandini episode 6 by Meysha Lestari. Kembali ke rumah, Chandra di hajar oleh ayah angkat habis-habisan karena pulang tanpa membawa uang. Kanika coba melerai. Ayah angkat berkata, ” Aku telah menghabiskan begitu banyak pada anak ini! Sekarang siapa yang akan mengembalikan uang itu padaku?”  Chanakya datang sambil berkata, “Aku yang akan membayarmu. Aku akan membeli anakmu.” Kanika dan Ayah angkat kaget. Tanpa basa basi, Chankaya mengeluarkan sejumlah uang dan memberikannya pada ayah angkat.  Chanakya mengajak Chandra pergi bersamanya. Kanika mencegahnya, “apakah kau akan meninggalkan ibumu? Apa kau tidak menyayangi aku?”

Chandra menyahut, “aku menyayangi ibu. Tapi aku tidak suka dengan perasaan cinta yang membelitmu…” Chandra mengambil uang di tangan ayah angkatnya dan memberikannya pada Kanika, “simpan uang ini,  ayah tidak akan menyakiti ibu lagi.” Kanika menerima uang itu. Lalu Chandra menatap ayah angkat dengan tajam dan mengancamnya, “Jangan berani memukul ibuku lagi! Aku akan membunuhmu jika kau menyentuhnya!” Setelah berkata begitu, Chandra mngambil berkat dari ibunya dan pergi bersama Chanakya.

Chandra bertanya apa yang di inginkan Chanaknya darinya? Chanakya mengunkapkan keinginannya, dia ingin Chandra melakukan apa yang baru saja dia lakukan, “menjauh dari cinta di hati dan pikiran, karena sejak hari ini, aku adalah segalanya bagimu dan tujuan hidupmu adalah kerajaan Magadha. Dengan tubuhmu dan pengetahuanku, kita akan mengubah Magadha. Hatimu tidak boleh menguasai tindakanmu. Aku akan mengajarimu Kausalya Niti untuk menciptakan hal baru…”
Ibu pertiwi berkata, “sejak hari itu, Chanakya dan Chandragupta mulai bersatu padu…”
Di istana magadha, Amatya Rakhaas sedang mengajari Pangeran  memanah. Nand menyaksikan latihan itu. Anak panah tepat mengenai sasaran. Nand sangat gembira. Amatya berbalik menatap Dhananand dan kaget karena Dhananand belum belepas anak panah. Semua orang binggung. Lalu terdengar gemerincing gelang kaki. Nandini datang dengan busur. Amatya bertanya, “apakah tuan puteri yang melepaskan anak panah barusan?” Nandi mengangguk. Nand sangat gembira dan bangga, “lihat Amatya,  Putriku akan memerintah Bharat! Dia lebih pintar dari putra-putraku. Kau juga harus mengajarinya”  Dengan halus Amartya menolak, “Maaf, tapi prinsipku tidak mengizinkan hal itu”
Nand tidak terima penolakan itu dan mengancam, “Aku akan membunuhmu jika kau mengatakan tidak! Aku adalah segalanya bagi Nandni. Untuk Nandni-ku, aku akan mengajarinya.” Dia mencium dahi Nandni dan pergi bersamanya. Nandni mengambil berkat Padmanand, “Kau adalah guruku sekarang.”
Di saat bersamaan, Chanakya mulai mengajari Chandra. Kata Chanakya, “Nilai pengetahuan melebihi segala sesuatu, bahkan melebihi cinta!”
Di magadha, Nandini berkata, “Ayahand raja, bagiku cinta adalah segalanya dan dengan cinta ini aku akan memerintah Bharat!”
Ibu Pertiwi,  “Chandra dan Nandni tidak menyadari bahwa pikiran mereka akan segera di persatukan…”
Nand melatih Nandini. Nandini berhasil mengalahkan Nand. Chanakya juga melatih Chandra, dan Chandra berhasil mengalahkan Chanakya. Chanakya memujinya,  “Sasaran yang bagus. Tapi kau juga harus menyerang hati!” Chandra menyerang dada Chanakya. Chankarya menangkis serangan itu..
Di sungai, Chanakya mengajari Chandra berjala di atas daun teratai. Chandra merasa kalau itu mustahil. Chanakya menyuruh Chandra mencoba, “kau pasti bisa. Lihatlah!..” Chanakya melempar batu ke air dan batu tenggelam. Chanakya menjelaskan, “..batu itu tenggelam karena dia tidak memiliki kecepatan..”  Lalu Chanakya melempar batu untuk kedua kalinya, kali ini dengan kecepatan tinggi. Batu terlempar meloncati air seperti menari dan tiba di seberang sungai.  Chanakya menjelaskan, “Jadilah seperti batu ini! Selama kau tidak menguasai teknik ini, kau tidak akan tidur! Ingat kecepatan sangat penting untuk prajurit!”
Chandra mulai berlatih. Awalnya gagal. Tapi dia tidak putus asa. Dia terus berusaha dan akhirnya berhasil melewati daun lotus di atas air. Chandra sangat gembira…..
Beberapa tahun kemudian…..
Chandra tumbuh menjadi pria dewasa yang gagah dan tampan. Dia melihat prajurit Magadh yang menyiksa rakyat. Dia datang hendak  menolong mereka. Prajurit mengambil tombak mereka dan menyerang Chandra.
Chandra mengelak dan dengan satu hentakan tangannya, dia berhasil mengalahkan prajurit yang mengelilinginya. Chandra segera membebaskan orang-orang yang diikat.  Mereka berterima kasih kepada Chandra dan pergi.  Chandra mendengar langkah kaki mendekat. Ia mengambil pedang dan mengarahkan pedang di leher orang itu, ujung pedang menggores lehernya. Orang itu terbelalak kaget. Chandra terkesiap..
Orang itu pergi menemui Chanakya bersama Chandra. Dia bernama maliketu. Maliketu mengadu atas apa yang terjadi. Dia menunjuk lehernya tergores pedang Chandra. Chandra memberitahu yang sebenarnya, “aku pikir dia adalah prajurit, aku terkejut saat melihat dia..” Chanakya melayangkan tamparannya dan bertanya, “mengapa kau tidak membunuhnya?” Maliketu terkesiap, “Achary, apa Anda ingin aku mati?”
Chanakya menyahut geram,  “Aku memintamu untuk bersama Chandra tapi kau pergi menemuinya seperti seorang pengecut!”
Chanaky mengingatkan chandra, “… aku mengirimmu untuk menyelamatkan adivasi (orang-orang suku). Kau menyelamatkannya tapi Maliketu mencoba untuk mengambil pujian. Jadi dia akan mendapat hukuman hari ini, dia tidak boleh makanan!”  Setelah berkata begitu, Chanakya pergi. Maliketu menatap Chandra dengan kesal.
Chandra sedang makan bersama murid lain. Maliketu datang dan menatapnya marah “Aku tidak akan mengampunimu!”
Temannya memberikan surat cinta dari seorang putri. Maliketu sangat gembira. Dia berkata, “Lihat! Aku mendapatkan surat cinta seorang puteri, tapi Chandra ini? Ketika aku kembali seluruh prajurit akan berada di kakiku dan Chandra tidak akan memiliki siapapun!” Mereka pergi.
Teman Chandra bertanya “Apa kau tidak jatuh cinta?” Chandra menyuarakan pendapatnya,  “Cinta? Aku benci kata ini. Jangan pernah jatuh untuk itu!”
Nandni yang telah tumbuh menjadi gadis cantik luar biasa  mendengar kakak-kakak iparnya sedang berbicara mengenai pernikahannya. Ia berlari keluar istana dan melompat ke dalam sumur.
Kakak ipar Nandni memberitahu kakak-kakak Nandni bahwa Nandni melompat ke dalam sumur setelah mendengar pernikahan. Semua orang kaget. Nand marah, “Diam! Beraninya kau mengatakan ini kepada putriku! Dia tidak akan pernah melakukan hal seperti itu. Aku tidak bisa hidup tanpa dia!”
Nandini datang dengan pakain basa kuyub. Mereka semua berbalik menatapnya. Nandni tersenyum. Padmanand memeluknya gembira dan bertanya, “Mengapa kau melompat?”
Nandini berkata “Ayah, aku melompat ke dalam air untuk menyelamatkan seekor kambing..”
Kilas balik terlihat bagaimana Nandni menyelamatkan seekor kambing.
Padmanand heran dengan perbuatan Nandini, “Mengapa kau melakukan itu? Mengapa kau menyelamatkan seekor kambing?”  Nandini menunjukkannya buah asam di tangannya, “Aku pergi untuk mengambilkanmu ini.” Padmanand sangat senang dan mengatakan, “Inilah putriku! Dia sangat mencintai ayahnya!”
Nandni memberitahu kakak iparnya bahwa dirinya tidak akan pernah menikah, “Aku akan tinggal bersama ayahku!” Kakak ipar berkeras, “Tidak! Kau harus menikah.” Nandni berkata,  “Untuk menikah, aku harus mencintai seseorang lebih dari ayahku dan itu tidak mungkin!”
Di tempat lain,  Chandra terlihat sedang  berpikir, “Jika aku pernah menikah maka keputusan itu berasal dari otak, bukan dari hati!’
Nandni menyahut, “Keputusan pernikahan akan diambil dari hatiku setelah mengetahui jika semua itu adalah karena cinta…”