Di jalan raya ,,,,

Malam itu Jalal benar benar terjebak kemacetan yang membuatnya jengah karena harus berlama lama di dalam mobil sementara Atifa merasa nyaman nyaman saja karena memang keadaan seperti inilah yang dia inginkan bisa berlama lama dengan Jalal, hingga akhirnya mereka sampai di rumah Atifa

“Terima kasih, ya Jalal ,,, akhirnya sampai juga ke rumah, nggak masuk dulu ? Mungkin minum kopi atau teh gitu, kamu sendiri pasti capek kan ?” Atifa sangat berharap Jalal mau mengiyakan ajakannya, namun ternyata Atifa harus menelan kekecewaan ketika Jalal hanya menggelengkan kepalanya seraya berkata

“Terima kasih, nyonya Atifa ,,, sudah malam, Jodha pasti sudah gelisah menunggu di rumah” Jalal menolaknya dengan halus, akhirnya Atifa turun dari mobil Jalal dengan perasaan kesal

“Ya sudah, kalau begitu, saya masuk dulu yaaa ,,, terima kasih untuk tumpangannya” Jalal hanya tersenyum kemudian segera berlalu meninggalkan Atifa,  tak lama kemudian ketika sampai di rumahnya sendiri saat itu waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam, dari kamar atas Jodha bisa mendengar mobil Jalal masuk ke garasi,

sedari tadi Jodha berusaha untuk tidur namun matanya tak mampu terpejam, hanya saluran televisi yang menjadi pelampiasannya, berulang kali Jodha memindah mindahkan chanel televisi namun tidak menontonnya dengan pasti, tak lama kemudian begitu Jalal masuk ke dalam kamar, Jodha segera membalikkan badannya membelakangi Jalal,

Jalal hanya tersenyum, Jalal tau kalau Jodha marah padanya, Jalal segera berjalan berjingkat dan duduk di tepi ranjang sambil memperhatikan istrinya, sekilas Jodha melirik ke arah Jalal, Jalal semakin mengembangkan senyum manisnya, namun tidak menggoyahkan hati Jodha,

Jodha kembali berbalik membelakangi Jalal dengan perasaan kesal, Jalal mendekatkan wajahnya ke wajah Jodha dari arah belakang sambil hendak menciumnya, Jodha segera menutupinya dengan bantal begitu tau Jalal hendak mendekat kearahnya, Jalal semakin penasaran

“Kamu kenapa sih ? Suami pulang bukannya disambut, malah di kasih pantat beginian” goda Jalal sambil menepuk pantat Jodha yang lebar, dari dulu sejak pertama kali bertemu, Jalal memang sangat suka dengan bentuk pantat Jodha selain bentuk tubuh yang lain pastinya,

Jodha membalikkan tubuhnya dan menatap kearah Jalal dengan perasaan kesal “Kemana aja ? Pulang sampai larut begini ?” Jalal hanya tersenyum begitu mendengar gerutuan Jodha

“Kan aku sudah bilang dari tadi, jalanan macet, gak bergerak sama sekali, mana aku harus nganter nyonya Atifa kerumahnya terlebih dulu, baru pulang, otomatis butuh waktu yang cukup lama untuk sampai dirumah, jangan marah gini dong say ,,,, yaa sudah aku minta maaf, pleaseee maafkan aku” ujar Jalal sambil menjewer kedua telinganya dan memasang muka memelas kearah Jodha, melihat tingkah suaminya yang lucu seperti itu, akhirnya Jodha tidak jadi marah, Jodha ingin tertawa geli tapi ditahannya, Jodha tidak ingin Jalal tahu, kalau dirinya sebenarnya sudah melunak, jadi Jodha masih menunjukkan sifat kesalnya, sementara Jalal belum juga melepaskan jeweran di kedua telinganya sendiri

“Masih marah ya ? Maafin dong sayang ,,, ini kan bukan kesalahanku sepenuhnya, kalau tadi pagi kamu melarang aku pergi, aku pasti tidak akan pergi” Jodha mencibirkan bibir tipisnya sambil mulai bangun dari tempat tidur

“Oke, aku maafin ,,, tapi kamu harus tetap dihukum ! Dan hukumannya adalah beliin aku nasi goreng jawa di depan !” Jalal akhinrya menyerah dan pasrah dengan keinginan Jodha

“Oke laah ,,, nanti akan aku belikan, tapi aku mandi dulu yaa, sudah bau asem niii” ujar Jalal sambil mencium aroma tubuhnya, Jodha langsung menganggukkan kepalanya, bergegas Jalal langsung melesat masuk ke dalam kamar mandi dan melepaskan semua penatnya, tak lama kemudian setelah selesai mandi dan berdandan, ketika Jalal hendak turun untuk membeli nasi goreng, tiba tiba Jodha bangun dan berdiri dengan berlutut di atas tempat tidurnya

“Aku ikut ! Tapi gendong ! Dan pakai motor aja !” Jalal langsung tertegun

“Jo ,,, ini sudah malam, sudah jam 11 malam, lebih baik kamu dirumah saja, aku saja yang beli, kasihan anakku kalau diajak pergi malam malam” Jodha langsung menggelengkan kepalanya

“Pakum sayang ,,, sejak dini, jangan suka manjain anak, biar dia kuat dan tahan dengan angin malam, ayooo” ujar Jodha sambil mengulurkan tangannya meminta gendong, Jalal segera menghampiri istrinya itu yang biasa tidak manja seperti ini

“Apa tadi kamu bilang ? Pakum ? Apa itu pakum ?” tanya Jalal heran, Jodha hanya tersenyum sambil meletakkan kedua tangannya di bahu Jalal ketika Jalal sudah berdiri di depannya dengan rasa penasaran

“Pakum ,,, papa kumis ,,, tapi aku rasa sudah saatnya kamu memelihara jambangmu ini sayang, aku suka ,,, apalagi ketika membelai jambangmu ini” ujar Jodha sambil membelai jambang Jalal yang mulai tumbuh

“Lalu apa sebutannya kalau jambangku sudah tumbuh ? Pajam, pabang atau ,,,” Jodha menggelengkan kepalanya sambil tertawa geli begitu mendengar ucapan Jalal

“Pakum ! Tetap pakum ,,, papa kumis, ayoo cepat balik badan dan gendong aku !” akhirnya Jalal menyerah kemudian berbalik membelakangi Jodha, Jodha segera melompat dan merapat ke tubuh Jalal, Jalal menggendong Jodha di belakang sambil berjalan turun ke bawah menuju ke garasi

“Aku pikir, ada baiknya kalau kita pakai mobil saja” ujar Jalal sambil terus berjalan turun, namun Jodha tetap menolaknya

“Aku mau pakai motor saja, lebih cepat dan lagi nggak usah pake ngeluarin mobil segala” ujar Jodha manja dalam gendongan Jalal, tak lama kemudian mereka berdua sudah melesat ke warung nasi goreng langganan Jodha

Keesokan harinya, ketika mereka baru sampai di rumah sakit, salah seorang tukang parkir segera menghampiri Jalal dengan wajah panik

“Dokter, dokter Jalal ,,, lebih baik dokter jangan masuk dulu ke dalam rumah sakit” Jodha dan Jalal saling berpandang pandangan satu sama lain begitu mereka turun dari mobil, Jalal sangat penasaran dengan ucapan tukang parkir yang dikenalnya bernama Udin

“Memangnya ada apa, Din ? Kenapa aku nggak boleh masuk ke dalam rumah sakit ? aku harus memeriksa pasien pasienku di dalam” Udin berusaha mengatur nafasnya dengan hati hati

“Iyaaa, tapi saat ini gawat banget, dok ! Ada orang ngamuk ngamuk di dalam, laki laki, dia bilang kalau dokter Jalal nyembunyiin istrinya, dia nyari nyari dokter Jalal sambil teriak teriak di dalam” Jalal dan Jodha langsung saling memandang satu sama lain seperti saling tahu kalau yang dimaksud laki laki itu tidak lain adalah Salima,

Jalal segera berlari masuk ke dalam rumah sakit, Udin si tukang parkir mencoba untuk mencegahnya, namun Jalal sudah melesat seperti angin masuk ke dalam rumah sakit, Jodha pun hendak ikut mengejarnya, namun Udin kembali mencegahnya

“Dokter Jodha, lebih dokter jangan masuk ke dalam, bahaya, dok ! Orangnya menakutkan” antara bimbang dan tidak, akhirnya Jodha tetap masuk ke dalam rumah sakit untuk melihat situasi di dalam dan begitu Jalal masuk ke dalam rumah sakit, dilihatnya ada seorang laki laki yang berteriak teriak memanggil manggil namanya di lobby rumah sakit, semua orang yang menatapnya merasa ketakutan sementara security yang bertugas sudah berusaha untuk menahan orang tersebut tapi lagi lagi laki laki itu mampu berkelit dari sergapan mereka, ibarat seperti belut laki laki ini lihai sekali keluar dari sergapan para security, sehingga para security pun kewalahan menahannya

“Dimana dokter Jalal ! Dokter Jalal keluarlah ! Keluar ! Jangan pengecut kamu ! Ayooo keluar ! Hadapi aku Bhairam Khan !” teriak laki laki itu lantang dengan matanya yang nyalang dan merah

“Aku dokter Jalal yang kamu cari, siapa kamu ?” laki laki yang bernama Bhairam Khan itu segera berbalik dan menatap ke arah Jalal yang sudah berdiri disana

“Oooh jadi kamu dokter Jalal ! Aku Bhairam Khan ! Mana istriku, Salima ?” Jalal sudah menduga kalau dugaannya benar, ternyata suami Salima memang benar benar kasar dengan perangainya yang garang apalagi bau alkohol pun menyerebak dari mulutnya ketika Jalal mendekatinya

“Tuan Bhairam Khan, bisa kah kita bicara baik baik, aku rasa tidak etis kalau kita bicara seperti ini” Jalal berusaha menenangkan tuan Bhairam Khan

“Aku tidak peduli ! Aku kesini hanya untuk mencari istri dan anakku ! Mana dia ? Bawa kesini istriku, maka aku langsung pergi dari sini !” Jalal benar benar kesal karena laki laki ini memang tidak bisa di ajak bicara secara baik baik

“Dari mana anda tahu kalau istri dan anak anda ada disini ? Ini rumah sakit ! Bukan tempat penampungan, tuan !” bentak Jalal lantang

“Tapi aku yakin kalau istriku pasti menemui kamu, aku tahu kalau kamu adalah dokter langganannya ! Aku yakin sekali, dia pasti menemui kamu, dokter Jalal !” tuan Bhairam Khan juga tak kalah lantang berteriak ke arah Jalal, Jodha yang sedari tadi memang sudah disana mulai panik dan cemas, Jodha takut Jalal akan kehilangan kesabarannya

“Aku jelaskan padamu, tuan ! Istrimu tidak ada disini ! Kamu bisa memeriksanya sesuka hatimu, memang benar kalau istrimu adalah pasienku tapi bukan berarti kalau dia mendatangiku dan lagi kalaupun istrimu mendatangiku, aku tidak akan memberitahukannya padamu !” Jodha semakin khawatir begitu mendengar ucapan Jalal

dan benar saja, tuan Bhairam Khan yang sudah tidak tahan dengan perilaku Jalal, langsung menyerang Jalal secara membabi buta, Jalal berusaha untuk bertahan dan tidak menyerang balik, namun apa daya karena terus menerus menyerang,

akhirnya Jalal berbalik menyerang Bhairam Khan, duel diantara mereka pun tak terelakkan, semua orang hanya bisa menatapnya nanar, Jodha bahkan berulang kali merasa perutnya mual ketika melihat Jalal berduel dengan Bhairam Khan

“Jodha, kamu baik baik saja ?” Rukayah merasa cemas melihat Jodha yang berulang kali memegangi perutnya dan keringat dinginpun bercucuran di sekujur parasnya yang cantik,

sementara dalam benak Jodha, Jodha seperti melihat sebuah perang besar berada didepannya dimana Jalal sedang berduel dengan musuh musuhnya dan wajahnya bersimbah penuh dengan darah,

Jodha seperti benar benar melihat Jalal di masa lalu lengkap dengan baju jazirahnya, Rukayah mencoba berulang kali memanggil Jodha, namun Jodha masih terperangah melihat apa yang tidak dilihat oleh Rukayah, deja vu itu kembali muncul ,,,, NEXT