Di situ tertera…

TELAH MENIKAH, Setyati Purnomo (Ati) dengan Abraham Mamusung (Abi)

Mas Tok tertawa terkekeh-kekeh. Istrinya mengikik geli. Dan ibu Cuma bisa geleng-geleng kepala. Mas Pur dulu melamar dalam pakaian yangs angat necis dan dengan keringat dingin, kenang ibu kembali. Sungguh berbeda dengan anak-anak zaman sekarang.

“Gimana Ti? Bersedia, kan? Daripada saya besok harus memasang iklan lagi, mengatakan bahwa kita telah bercerai, setelah baru sehari menikah.”

Semua tersenyum lega mendengar penerimaan Ati itu. Mas Tok langsung memberi salam pada Abi, “hebat sampeyan!” serunya sambil meninju lengan Abi.

“Berkat sanpeyan juga,” sahut Abi mengingat kebaikan Mas Tok sejah hari pertama dulu. “Juga berkat ketulusan ibu menerima saya selama ini,” tambahnya lagi.

“Sayang sekali saya hidup sebatang kara, kalau tidak hari ini juga Ati akan saya pamerkan pada semua kerabat…”

Hujanpun turun semakin deras.

Dua minggu kemudian di surat kabar yang sama tertera lagi iklan yang serupa. Namun kali ini tertulis: Betul-betul telah menikah, tanggalnya di sesuaikan dengan tanggal sebenarnya. Dan di luar kehendak Abi, Ati memaksanya untuk membubuhkan gelas Drs di depan nama Abi serta gela B.A di belakang namanya sendiri.

“Untuk apa sih Ti? Yang menikah kan manusianya bukan seorang sarjana dengan sarjana muda.”

“Biar semua dosenku tahu, meskipun saya tak lulus dalam ujian lisan, saya cukup pandai untuk bersuamikan seorang sarjana penuh.”

Abi Cuma bisa menghela nafas sambil mengelus dada.

Mereka berbulan madu di Irian Jaya. Bukan untuk melihat apa-apa, tetapi hanya karena Ati mengambil lintingan lotre buatan Abi yang di dalamnya kebetulan tertulis Irian Jaya.

“Saya tak mengerti, sungguh tak mengerti, kenapa kamu begitu bersikeras hendak menapatkan saya,” tanya Ati yang berbaring dalam pelukan Abi di salah satu kamar hotel.

“Saya juga tak mengerti, sungguh tak mengerti kenapa kamu begitu bersikeras hendak menolak saya, “tiru Abi sambil berbaring tertelungkup memandang Ati.

“karena kamu selalu memburu saya.”

“Karena kamu selalu menghindari saya.”

Mereka sama-sama tertawa terpingkal-pingkal mengenang masa-masa sebelum mereka tinggal bersama.

“Tapi kamu menyesalkan, bersuamikan saya?” tanya Abi sambil menelusuri paras cantk istrinya.

Ati menggeleng, “kamu adalah manusia yang paling beraani dan paling jenius yang pernah saya temui,” bisik Ati seraya menyusupkan wajahnya ke dalam lengan Abi.

“Hei..hei..hei, nanti dulu, gelar-gelar kehormatan apa pula itu?” Hanya karena saya akhirnya berhasil, maka saya di sanjung sedemikian rupa. Kalau kamu sekarang ada dalam pelukan orang lain, lain lagi ceritanya. Kamu akan berkata pada si Roy, si Agus, enrah siapa. Dulu saya di kejar-kejar orang gila yang bernama Abi…”

“Kenapa sih kamu selalu menyebut Roy dan Agus? Memangnya…”

“Lho, itulkan Cuma misalnya. Sst, dengarkan dahulu. Berhasil aatau tidak berhasil mendapatkan kamu, saya kan tetap saja saya. Tetapi kenapa kalau berhasil saya do sebut jenius, sedangkan kalau tak berhasil di namakan orang gila?” guman Abi, lebih pada dirinya sendiri.

“Abi, jangan ngomong gitu dong…” rengek Ati dengan manja.

“Sungguh, ini membuat saya sangat prihatin…”  ***

10 tahun lamanya masalah itu menghantui pikiran Abi. Suatu hari di saat kariernya sebagai direktur utama bagisan sales di sebuah perusahaan raksasa sedang menanjak, ia berhenti kerja. Ya, begitu saja berhenti kerja.

Ia pulang dengan wajah berseri-seri. Di parkirnya mobilnya agak jauh sedikit dari rumah supaya kedatangannya tidak terdengar oleh Ati. Di ciumnya kedua putranya yang menyambut di pagar. Sambil berjingkat-jingkat di sergapnya Ati dari belakang, begitu tiba-tiba sampai panci Supriya panas di tangan Ati jatuh terlepas.

“Tidak apa-apa Ti,” kata Abi seraya mengangkat istrinya tinggi-tinggi. “Tak usah masak lagi. hari ini kita semua makan di luar.”

“Holee…! Holeee!” teriak si Kembar berdua.

“Karena hari ini adalah hari kemerdekaan saya.”

Ati memandangnya dengan curiga.

“Mulai nanti malam saya akan selalu berada di rumah menemani kami dan anak-anak.”

Sore itu juga, Ati bergegas kerumah ibunya. Ingin minta bantuan ibu dan Mas Tok untuk menyadarkan Abi.

“Ia baru saja di tawari untuk memimpin sebuah filial. Akan dapat 2 mobil baru. Dan gajinya bakal di naikkan menjadi….”

“Nanti dulu , Ti,” sela Mas Tok. “Aku rasa keputusan Abi sangat bijaksana. Ia berhenti kerja tepat pada waktunya. Kalau tawaran menggiurkan itu ia terima, ia tak akan bis aberhenti. Sampai mati ia akan terus di perbudak oleh pekerjaaannya.” NEXT