“Betul kata Mas-mu Ti. Mendiang bapakmu duku bekerja terus sampai ajalnya. Tidak pernah ada waktu untuk ibu maupun kalian berdua. Uang hasil kerjanya pun di timbun begitu saja, tak sempat di nikmati.”

“Kalau aku punya saham dan tabungan sebanyak yang di miliki Abi, aku juga akan berhenti kerja. Aku mau tinggal di rumah saja, memperbaiki mobil-mobil tua.”

“Ah, simpanan apa? Sebanyak-banyaknya tabungan kalau tak ada pemasukan lama-lama, ya, ludas.”

“Itu kan tergantung pengaturannya. Saya yakin bunga bulanan yang kau terima sudah cukup untuk membiayai hidup kalian sekeluarga. Sementara itu nikmati saja suamimu selagi, belum ludas, “ goda Mas Tok.

Ati tak mengerti mengapa Mas Tok dan ibu bisa berpandangan sedemikian anehnya. Seminggu lamanya ia tak mau bicara dengan suaminya. Tidak juga pada Mas Tok maupun ibu.

Abi sendiri tenang-tenang saja. Bahkan tampak semakin ceria. Setiap harinya ia menyibukkan diri dengan melukis, berkebun, dan bermain dengan si Kembar.

Abi memang tak seberapa pandai melukis. Tetapi ia tak perduli. Setiap pagi ia duduk di kebun menghadapi kanvas dan cat minyaknya. Objeknya juga tak jauh-jauh. Ada kupu-kupu lewat, kupu-kupulah yang dilukis. Ada hujan turun, hujanlah yang di lukis. Akhirnya jadilah kupu-kupu yang kehujanan.

“Kalau tidak betul-betul berbakat, lebih baik kembali kerja di kantor saja,” sindir Ati setiap kali.

“Di kantor pun saya tidak betul-betul berbakat, Ti,” sahutnya sambil terus melukis. “Kebetulan saja jasa yang waktu itu saya jual sesuai dengan yang sedang di butuhkan perusahaan. Kebetulan saja profesi saya adalah yang paling banyak dicari di zaman ini. Kalau sekarang zaman perang, atau zamannya orang-orang sudah pada maju sehingga kebutuhan mereka beralih pada seni atau filsafat, tentu jasa saya sama sekali tak laku.”

“Tetapi kenyataannya kamu bisa mencapai posisi setinggi itu di kantormu dahulu, pasti karena kamu punya bakat besar.”

Abi menggeleng sedih. Dilayangkannya pandangannya ke arah langit. Sengaja tak ingin bertatap muka dengan istrinya.

“Semasa kuliah, saya tak pernah jadi mahasiswa terpandai. Banyak teman saya yang lebih berbakat daripada saya.”

“Tetapi apa dari bekas teman-temanmu yang pandai itu ada yang sesukses kamu pada usia tiga puluh lima tahun.”

“Mungkin ada, mungkin tidak. Tergantung keberuntungan masing-masing dalam menjual diri. Kamu tidak pernah bekerja di luar rumah, kamu tak tahu bagaimana lelahnya orang berjual diri. Sepuluh tahun lamanya saya memakai topeng, tak pernah dapat mengutarakan isi hati saya, yang sebenarnya, harus selalu menyenangkan semua orang….semua orang, kecuali diri saya. Mumpung diri saya belum sepenuhnya jadi barang dagangan, saya ingin kembali jadi manusia sebelum saya mati.

“O, jadi yang namanya manusia adalah yang duduk menganggur sepanjang hari, pura-pura jadi pelukis?”

“Ei, Ti. Siapa tahu kalau saya mati nanti lukisan saya, bakal jadi rebutan para pelakor.”

“Huh, maunya,” cibir Ati dengan kesal. “Jangan mimpi.”

“Semuanya tergantung pada faktor keberuntungan,” guman Abi sambil tiba-tiba menyerang kanvasnya dengan serentet garis-garis merah tak beraturan. “Kalau seorang revolusioner berhasil, ia akan di puja sejarah dan di beri gelar “negarawan ulung”. Tetapi kalau tidak? Kalau tidak berhasil? Ia akan mati kriminal. Begitu pula dengan seniman dan lain-lain profesi. “Jenius” dan “orang gila” pada dasarnya hanyalah dua sisi dari mata uang yang sama.”

Ati segera meninggalkan suaminya. Tak mau mengajaknya berdebat lebih panjang lagi. Ia teringat akan hari pertama ia mengenal Abi dan memakinya orang gila. Kini ia menikah dengan orang gila itu.

TAMAT