HAPPY FIGHT 2. Aku sudah siap ke sekolah. Seperti biasa, Ishima akan menyisir rambutku dan mengikatnya, sementara Papa akan memasangkan dasi dan memakaikan sepatuku. Papa berkata kalau dia melakukan yang terbaik. Aku dan Ishima membiarkan Papa melakukan itu. Meski sebenarnya, Papa melakukannya dengan tidak benar. Jika Papa yang memasangkan dasi, maka dasiku akan menjadi pendek dan terlihat aneh. Tapi kami diam saja, karena kami tak ingin membuat papa patah hati. Tapi begitu sampai dimobil, Ishima akan mengikat ulang dasiku.

Ishima selalu berkata kalau kami harus menjaga Papa, “dia sangat kuat, dan bisa menghajar orang jahat. Tapi Papamu akan bersedih kalau tidak ada kita yang di jaganya. Jadi biarlah dia berpikir kalau dia menjaga kita, tapi kita yang akan menjaganya, okay..?” Aku selalu setuju dengan setiap ucapan Ishima, karena dia sangat bijak.

Ishima dan Papa adalah dua contoh orang tua yang sangat memperhatikan anak-anaknya. Meski keduanya sangat aneh jika menyangkut mereka sendiri. Aku tidak pernah memahami keduanya. Sesaat mereka terlihat begitu mesra, dan sesaat lagi akan ribut seperti Tom & Jerry. Bahkan tanpa alasan yang jelas.

Seperti pagi itu. Aku sedang menuruni tangga ketika aku mendengar suara barang-barang di letakan dengan keras di dapur dan Ishima bicara dalam bahasa Tamuil yang cepat. Bibi Simmi terlihat menganggukkan kepalanya seolah-olah mengeri segalanya. Padahal, tak ada seorangpun yang mengerti bahasa Tamil di rumah ini, kecuali Ishima. Papa dan aku hanya tahu sedikit, karena kami baru belajar. Tapi aku sama sekali tidak paham apa yang di ucapkan Ishima dalam kedongkolannya itu. dan saat ini dia benar-benar terlihat kesal.

Aku lihat Paman Romi terkikik. Dia selalu terkiki geli setiap kali melihat Ishima marah-marah seperti ini. Karena dia sangat senang melihat wajah papa yang binggung. Aku tak tahu apa maksud paman Romi, tapi aku tak perduli, karena jika Paman Romi gembira, dia akan memberiku coklat.

Aku melangkah ke meja makan dan melihat segelas susu untukku. Ugh…. aku tak suka susu, tapi terpaksa meminumnya. Karena hari ini Ishima sangat kesal, dan aku tak boleh mengatakan apapun, kalau tidak ingin membuatnya bertambah kesal. Semua ini pasti karena Papa.

Ku lihat Papa bicara di telpon dengan Paman Mihir. Dia menarik kursi dan duduk sambil masih bicara ditelpon. Ishima datang dengan wajah marah. Aku juga ikut memberi papa tapapan marah karena membuat Ishima Marah. Papa menatap kami bergantian dengan heran dan bertanya, “ada apa?”

Ishima tak menjawab. AKu memutuskan untuk mendukung Ishima. Karena aku tahu, selama ini kalau mereka bertengkar, pasti Ishima yang benar. Jadi aku hanya mengendikkan bahu dan memulai sarapanku. Papa terbelalak menatapku dan keluarlah kata-kata favoritku dari mulutnya, “kau mirip sekali dengan Ishima…” AKu tersenyum dan mengedipkan sebelah mataku padanya. AKu sangat suka kalau ada yang mengatakan aku mirip Ishima. Karena semua orang mengatakan aku tidak mirip Ishima. Jadi aku sangat senang jika papa mengatakan aku mirip Ishima, karena puteri seharusnya mirip mama nya kan?? Dan Ishima adalah mama ku.. hanya Ishima..

Papa siap untuk sarapan. Ishima datang dengan tatapan dingin yang tajam. Aku hapal tatapan seperti itu, karena Shravu kalau mau mengganguku pasti akan menatapku seperti itu dulu. Papa terdiam melihat tatapan Ishima dan apa yang di bawanya. Ishima menghampiri papa dan meletakkan sehelai roti Paratha gosong di piringnya. Semua orang terkikik geli.

Karena Ishima dan Papa bertengkar, mereka lupa kalau belum menyiapkan aku kesekolah. Akhirnya bibi dan paman yang menyiapkan aku. Sementara Papa dan Ishima asyik berdebat. Paman berbisik kalau mereka akan melihat pertandingan tenis. Aku menatapnya heran. paman menunjuk kearah papa dan Ishima yang bersahut-sahutan. Aku menoleh ke arah papa ketika dia bicara, lalu menoleh kearah Ishima saat dia bicara. Seperi menonton pertandingan tenis.  Mereka berdua sangat lucu dan aneh. Mereka saling mengejek dan menyebut dengan panggilan kesayangan mereka saat marah. Papa akan memanggil Ishima Orang Gila dari Madras, sementara Ishima akan menyebut papa Kadva Punjabi. Paman dan Bibi serta yang lain hanya tersenyum dan tak ada yang coba menengahi. Kalau begitu, aku akan terlambat ke sekolah.

Aku memutuskan untuk mengakhiri pertengkaran itu. Aku berdiri di atas kursi dan berteriak seperti nenek, “hoooi! Ada apa ini? mengapa kalian berdua bertengkar??” Papa dan Ishima terkesima dan menatapku. Keduanya berebut menjelaskan. Ishima memelototi papa. Papa terdiam. Ishima berkata lembut padaku, “…kami tidak bertengkar, kami hanya berdebat..”

Kalau sudah begitu, Papa akan bangkit, meraup Paratha dari piring paman dan melangkah pergi. Lalu IShima akan pergi kedapur, mengambilkan Paratha yang baru dan tidak gosong untuk paman. Setelah itu, Ishima akan menyuruh bibi SImmi mengambilkan tas ku dan mengajakku berangkat kesekolah. Aku membuntutinya. Dan aku mendengar Ishima berguman, “Raavan Kumar, apa dia pikir dirinya itu? Ruhi lebih mencintaiku daripada dirinya. Aku akan menunjukkan padanya…”

Ternyata…. Papa dan Ishima bertengkar karena aku, mereka berebut siapa yang paling kusayangi. Aneh bukan?? Itu bukanlah sebuah masalah untuk di pertengkarkan. tapi mereka benar-benar bertengkar. Jika sudah begitu, aku akan menarik tangan Ishima dan menyuruhnya sarapan lebih dulu sebelum mengantarku. Saat dia sarapan, aku naik keatas untuk menelpon Papa dan mengingatkannya agar sarapan dengan benar. Papa akan balik bertanya, “apakah IShima sudah sarapan?” Aku mengangguk bahagia.

Sebenarnya, Papa dan Ishima sangat saling mencinta. Dan saling memperhatikan. Tapi kadang kala, mereka benar-benar keras kepala dan tidak masuk akal. AKu bertekad untuk menunjukan pada keduanya bahwa aku menyayangi mereka berdua. Kedua-keduanya sangat penting bagiku. Meski terkadang mereka lebih fokus pada pertengkaran mereka daripada aku. Walalupun pun, itu bukan pertengkaran yang “bertengkar”, tapi pertengkaran yang ‘Happy Fight!‘(IF/Mujna)