Kasuari & Kera Putih

Aku menerima surat itu. Surat izinnya begitu antik dan mengelitik, tapi membuatku sangat kesal. Isinya singkat, padat tapi menyakitkan,

“hai Kasuari, kamu tetap cantik kan? Aku suka sekali sama kamu, ee… maksudku sama rambutmu yang berjambul itu. Hahaha! Mohon di tulis ‘S’ di buku absen ya. Thanks.”

AKu memang kesal, karena selalu di panggil Kasuari. Tapi anehnya, saat melihat Absen, aku tak tega untuk menuliskan hurup ‘A’ di sana, dengan berat hati aku menuliskan ‘S’ seperi yang dia minta. Dan sepulang sekolah aku bertekad untuk menjenguknya, bukan untuk meyambangi karena dia sakit, tapi karena ingin tahu apoakah diua memang sakit atau hanya malas sekolah.

Aku menyusuri jalan di kompleks perumahan Purnawirawan ABRI dengan motor kesayanganku. Sampai di depan sebuah rumah yang kuyakini sebagai rumahnya, aku turun turun dan melangkah ke pintu. Sebelum sempat mengetuk, seorang wanita setengah baya muncul dan menyapaku dengan ramah.

AKu balas menyapanya, “selamat siang, tante. Boga ada? Saya temannya..”
Si wanita menyahut cepat, “ada..ada!” Si wanita mempersilahkan aku masuk. AKu memberitahunya niat kedaatanganku.
Si wanita merasa heran, “Lho, apa Boga tak mengirim surat izin?”
“Sudah Tante, tapi dia tidak bilang sakit apa..”

Si wanita yang ternyata adalah ibu Boga menggeleng-nggelengkan kepala, “dia memang anak badung. Ayo masuk, nak. Dia ada di halaman belakang. Biasa, Maagnya kambuh. Ayo masuk saja, jangan sungkan..” AKu mengangguk dan mengikuti langkahnya yang menuju halaman belakang. Di pintu ibu Boga berkata, “itu dia…” lalu dai teriak memanggil Boga, dan memberitahunya kedatanganku.

Aku melangkah mendekati Boga yang duduk di bangku di samping kolam. Dia menoleh dan menyerigai lebar melihat kedatanganku. Ibu Boga pamit kedalam. Boga menatapku dengan serigai lebarnya dan menyapa, “apa kabar Kasuari Manis? sudah terima suratku?”

Aku menjawab dengan kalem, “kabar baik, Kera Putih..” Sesaat aku melihat dia terkejut mendengar jawabanku. AKu tersenyum penuh kemenangan.

Boga melihat itu dan berkata, “senyummu manis sekali, persis senyum Angelina Jolie..”

Pipiku di jalari rasa panas mendengar ucapannya. Aku coba menenangkan diri dan berusaha membalas dengan kalem, “senyummu juga mirip serigai Kera Putih..”
Kulihat Boga tertawa geli, “mending cuma mirip. Daripada kamu, kayak Angelina Jolie, padahal Kasuari betulan.”

Aku matu kutu mendengarnya, “Hah??”  (@Ririn Salamah)