SUMUR KEBERUNTUNGAN. Beberapa Tahun yang lalu, regu Pramuka dari sebuah sekolah dasar sedang berkemah di tepi hutan bukit barisan. Pramuka di sekolah itu sangat aktif, setiap 1 bulan sekali mereka pasti akan mengadakan perkemahan. Mereka biasa berkemah di mana saja, kadang di pantai, di tanah lapang dan tak jarang di tepi hutan seperti saat itu. Hanya saja, lokasi yang mereka datangi kali ini, belum pernah mereka singahi sebelumnya.

Singkat cerita, dalam regu pramuka itu ada salah satu anggota yang sangat nakal dan susah di atur, namanya Stanley. Dia memiliki kecenderungan untuk menentang dan melanggar aturan. Tak perduli berapa kali kakak pembina menegur dan memberinya peringatan, Stanley tetap tak mau dengar. Begitu pula saat berkemah di tepi hutan itu, pembina memberi peringatan pada anggotanya agar tidak pergi ke lembah i bawah perkemahan mereka apapun yang terjadi. Intruksinya bukan lagi peringatan, tapi larangan keras. Semua anggota regu mengangguk patuh. Kecuali Stanley yang diam-diam melirik ke lembah menghijau di bawahnya dengan serigai nakal.

Saat pembina dan anggota lain mendirikan tenda, Stanley dan gangnya duduk di rumput. Mereka terlalu malas untuk membantu rekannya. Mereka terlihat bosan dan terpikir untuk melakukan sesuatu yang menantang. Stanley melirik ke arah lembah dan melihat kalau di dasar lembar ada lokasi yang di pagari dengan kawat berduri. Di salah satu sudut pagar berduri itu, dia melihat sebuah lubang yang sekelilingnya di batasi dengan tumpukan batu-batu besar. Sumur itu di kelilingi oleh rumput ilalang yang tinggi dan menghijau. Sepertinya tempat itu sudah lama di telantarkan dan tidak di injak manusia.

Stanley mengajak teman-temannya menuruni lembah dengan diam-diam. Saat mereka melintasi jalan setepak, mereka berpapasan dengan petani dan anjingnya. Stanley menyapa petani itu dan bertanya, “apa yang ada di lembah Yang di pagari dengan kawat berduri itu..?”

Petani menjawab, “itu Sumur Keberuntungan. Tapi kalian tidak boleh pergi kesana. Kalau ingin mandi dan mengambil air, kalian harus pergi ke sungai atau ke pancuran umum yang ada di sebelah sungai..”

“Sumur keberuntungan?” tanya Stanley penasaran. “Artinya kalau kita bisa melempar koin kedalam sumur itu lalu memohon sesuatu?”

Petani mengangguk, “ya, kurang lebih seperti itu. Tapi sumur itu sudah terbengkalai sejak lama. Tidak ada orang yang mau mendekatinya. Aku juga tidak pernah. Aku tak tahu mengapasumur itu di berinama Sumur keberuntungan. Tapi saranku, jangan sekali-kali pergi kesana..”

Stanley penasaran, “memangnya kenapa?”

Petani menjelaskan, “sumur itu berhantu. Bahkan binatang ternak tidak mau mendekat kesitu. Anjungku ini juga tidak mau pergi kesitu. Jadi kalau kalian pintar, kalian juga jangan pergi kesana!”

“Hantunya seperti apa?” tanya teman Stanley.

“Hantu menyeramkan. 3 wanita dan satu pria…” jawab petani.

Stanley tambah penasaran, “siapa mereka itu sebenarnya?”

Petani menggeleng, “aku tidak tahu. Kejadiannya sudah sangat lama, sebelum aku datang kesini. Katanya mereka meninggal dalam sumur itu.. aku pernah melihat hantu-hantu itu sekali.  Menjelang senja, anjingku juga melihatnya. Mereka keluar dari semak-semak dan merangkak menuju sumur, mereka semua ada 4. Menyeramkan, tubuh mereka hanya tinggal tulang. Aku masih ingat suara tulang-tulang mereka beradu. Sungguh mengerikan….”

Anak-anak bergidik ngeri mendengar cerita petani. Stanley bertanya, “lalu apa yang terjadi?”

Petani menunjuk anjingnya, “aku tidak tahu. Anjingku berlari dan menyertku pergi. Jadi aku menaasehati kalian, jauhi sumur itu dan jangan mendekatinya. Kembalilah ke atas sana, ke perkemahan kalian. Dan ambillah air dari sungai, jangan kesini. Itu yang terbaik!” Setelah berkata begitu, petani melangkah pergi. Anak-anak menatap keperian petani dengan wajah tegang.

Melihat itu Stanley tertawa, “omong kosong apa itu? Hari ini percaya hantu? Aku tak percaya sama sekali!”

Sorenya, Pembina melakukan apel sore dan mengabsen anggota regunya. Semuanya hadir kecuali satu orang, Stanley. Pembina bertanya pada anggota regu yang lain, tapi tak ada yang melihatnya. Salah satu anak yang ikut stanley bicara pada petani berkata, “mungkin dia pergi ke sumur keberuntungan, Kak..”

Wajah pembina menjadi pucat, “Sumur Keberuntungan? Tapi kalian kan sudah di larang keras untuk turun kesana!” Anak-anak nakal itu terdiam.

Dengan cemas, Pembina segera beranjak ke tepi lembah. Dia menatap kebawah, dimana terlihat dengan jelas lembah yang datar menghijau berikut pagar berduri dan umpukan batu-batu yang mengelilingi sebuah lubang. Matahari senja sudah hampir tenggelam. Tapi masih cukup terang untuk bisa melihat apa yang terjadi di bawah lembah di dekar sumur tua itu.

Pembina dan anak-anak yang berkumpul di tepi lembah menatap sekeliling mencari sosok stanley. Pembina bertanya, “apa kalian melihatnya?” Mereka mengedarkan pandangannya menyuusuri lembah dan jalan setapak. lalu salah satu anak berteriak, “itu dia, di jalan menuju ke sumur..”

Anak-anak yang lain ikut berteriak, “ya.. itu dia. AKu ingat jaketnya…”
Anak lain menyahut cemas, “oh..tidak! Dia menuju ke sumur itu…!”

Pembina sangat panik dan kesal, “dasar anak nakal!” lalu Pembina berteriak memanggil Stanley, menyuruhnya kembali. Tapi Stanley tak mendengar. Lalu terdengar riuh ketakutan dan jeritan kengerian saat anak-anak melihat sesuatu merangkak keluar dari semak belukar.

Salah seorang anak berteriak histeris, “ya tuhan, itu.. rambutnya panjang! Tidak! Jangan biarkan aku melihatnya!”

Pembina dan anak-anak yang lain juga melihatnya. Stanley tidak menyadari itu karena asyik berjalan. Pembina menghentikan kepanikan itu dan berpesan, “jaga diri kalian baik-naik, aku akan turun untuk membawa Stanley kembali. Rio, anton, kalian pergilah ke rumah terdekat dan cari bantuan. yang lain diam di sini, jangan bergerak!!”

Setelah berkata begitu, pembina segera berlari menuruni lembah. Anak-anak menatap dari tempatnya berdiri dengan wajah di selimuti rasa takut dan khawatir. Lalu serentak mereka berteriak ngeri saat sosok-sosok lain bermunculan dari balik semak dan merangkak kearah Stanley. Anak-anak menangis histeris sambil memanggil Stanley, menyuruhnya menjauh dari sana. Mereka menjerit dan berteriak sekuat tenaga untuk menarik pertanian Stanley.

Stanley menghentikan langkahnya. Sepertinya dia mendengar jeritan teman-temannya dari atas lembah. Stanley menoleh ke atas dan melihat teman-temannya melambai. Stanley balas melambaikan tangan. Sosok-sosok mengerikan semakin dekat kearah Stanley. Suara tulang beradu terdengar mencubit telingan. Stanley menoleh kearah sumber suara. Lalu jeritan keras keluar dari mulutnya ketika sosok-sosok mengerikan itu mengerubutinya. Anak-anak yang mendengarkan jeritan Stanley terpaku diam. Mereka tertegun kaku dan shok. Mereka menyaksikan dengan ngeri bagaimana sosok-sosok itu mendorong dan menarik Stanley. Stanley menjerit ketakutan dan kesakitan saat duri-duri pagar menyayat kulitnya. Sosok-sosok itu melemparkan Stanley kedalam pagar dan mengerubutinya. Lalu mereka menjatuhkan diri ke dalam lubang sumur bersama Stanley. Jeritan Stanley yang menyayat hatipun lenyap seketika.

Lalu terlihat pembina tiba di dekat kawat berduri. Tubuhnya mengejang kaku melihat apa sosok-sosok itu mencabik-cabik Stanley. Lalu petani dan polisi serta warga desa datang. Mereka membawa obor dan benda-benda tajam serta senapan. Tapi jejak makhluk-makhluk mengerikan itu tak ada. Hanya ada sobekan-sobekan jaket Stanley yang menyangkut di kawat berduri.

Malam itu juga, anak-anak di evakuasi dan dibawa kembali ke sekolah. Banya dari mereka yang mengalami trauma dan shock. Pembina dan polisi serta beberapa warga tinggal sepanjang malam di tepi sumur itu. Esok paginya, mereka melihat rumput ilalang di sekitar sumur menghitam oleh percikan darah kering. Dari dalam sumur, tim evakuasi mengeluarkan apa yang tersisa dari Stanley. Orang tuanya membawa sisa jasad Stanley pulang untuk di kuburkan. Mereka sangat sedih dan shock mengetahui anak mereka meninggal dengan cara sangat mengenaskan.

Setelah kejadian itu, petani menambah kawat duri di sekeliling sumur itu dan menuliskan tanda peringatan di papan yang cukup besar. Tanda peringatan itu sangat jelas dan terang. Di sana tertulis, “BAHAYA” dan “JANGAN MENDEKAT” dengan tinta warna merah menyala.

Sejak saat itu, tidak ada lagi kegiatan perkemahan ataupun aktivitas apapun di dekat Sumur Keberuntungan itu. Penduduk sekitar berkata kalau sumur keberuntungan itu sekarang di hantui oleh 5 bayangan buruk. 3 wanita, 1 pria dan seorang anak. (@Larasati)