Aku dan Bestfriend ku chatting di WA.  Dia mengomentari status FB ku yang kebanyakan abal-abal dan tidak sesuai kenyataan. Terkadang aku memang memposting gambar masakan dari Google dan ku kasih captions seolah-olah aku sedang memasak itu. Atau terkadang aku bilang bikin status liburan di pantai, padahal sebenarnya aku Hiking bersama anak-anak di bukit depan rumah.

Teman ku ini merasa ku kesal dengan statusku yang selalu berbeda 180 derajat, menurutnya. Karena itu dia sempatkan diri untuk komplain. Maka terjadilah percakapan berikut ini:

Dia, “status kok abal-abal..”
Me, “lhaaaa? Katanya jgn sampai apa yg kita lakukan di ketahui publik. #bhy, krn bisa memicu rasa iri, dengki, niat buruk & kejahatan, baik kejahatan jasmani, finansial, mental dan spiritual. Jdi ya harus di kamulfase dikit..”
Dia, “boong itu dosa!”
Me, “eith yg boong siapa?? Boong itu baru bisa di bilang boong klu kenyataannya ketahuan. Klu kebenarannya tidak di ketahui, gmn bisa di bilang boong? Untuk menuduh seseorang boong harus ada bukti kan?”
Dia, “itu namanya menipu diri sendiri..”
Me, “wah nggak merasa tertipu tuh. Yg bikin status diriku. Yg tau kebenarannya juga diriku. Ya nggak mungkinlah diriku tertipu.. 😬🙊
Ingat ya Say, selamanya, sejak zaman nabi Adam hingga Kid zaman now,
👉 setiap orang yg tahu kebenaran tidak akan tertipu.
Jadi biar g tertipu apa – apa itu harus di ketahui kebenarannya dulu, jangan di sebarkan dulu… ”
Dia, “hmmm kok jadi kampanye UUIte hoax… 😕”
Me, “tuh kaaan, yg suka nyebarin hoax g terima… 🙊”

Dan…. Konversasi itupun berakhir dgn peluncuran piring terbang….