Dengan tak sabar, Tante Tular menarik Benny masuk kekamar.  Begitu pintu tertutup rapat, keduanya berjatuhan diatas tempat tidur.

“Malam ini kita bulan madu ya Ben…” bisik tante Tular sambil mengecup bibir anak muda itu.

“Kita belum menikah, masak bulan madu, tante…”

“Memang Benny mau menikah sama tante?”

“Mau. Tapi mana mungkin? Memangnya Om Tular bisa di sulap jadi papa tante?”

“Seandainya kami cerai, Ben?”

“Jangan, jangan cerai. Nggak baik. Nanti kalau di dengar wartawan, nama baik Om jadi Rusak. Jelek kedengerannya kalau seorang pejabat tinggi pemerintah rumah tangganya berantakan…”

“Ih bagus juga pandanganmu..”

“Memang begitu kok.”

Lalu keduanya kembali di sibukkan dengan aktivitas atas ranjang yang sensual. Tante tular menjilat es krim Benny. Sementara Benny sibuk melucuti pakaian tante Tular. Keduanya terlihat sangat terburu-buru.

Kini keduanya terbaring polos, bagai sepasang bayi kembar. Kegiatan selanjutnya di lakukan dengan penuh lembut dan teliti. Keduanya sedikit bicara dan banyak kerja. Masing-masing tenggelam dalam perasaan yang seru dan nikmat.

Setelah 2 jam berlalu, keduanya terbaring lusuh. Benny terlihat lunglai dan tante Tular terlihat lelah. Suasana beku dan hambar. Tapi kerinduan di hati tante Tular dan Benny masih kuat mencekam. Perasaan rindu itulah agaknya yang masih menyemarakkan pertemuan di atas tempat tidur.

Beberapa menit kedepan, keduanya mengabiskan waktu bermalas-malasan. Tubuh keduanya yang polos bagai sekawanan kerbo dalam kubangan. Saling sentuh, saling tindih namun sepi dari birahi. Lalu tante Tular bangkit, mengenalan Kimono dan berjalan keluar kamar. Dia mendengar suara mobil berhenti di halaman. Tante Tular mengintip, Doni pulang bersama seorang wanita. Tante Tular mengenal wanita itu sebagai Vera. Tanpa menunggu Doni masuk rumah, tante Tular bergegas kembali ke kamar.

Benny menyapanya, “kenapa?”

“Doni pulang.”

“Di mana dia?”

“Di kamarnya. Eh Benny, kita makan malam yuk. Laper nih…” ajak tante Tular.

“Makan apa?”

“Sate ya?”

Benny setuju, “nggak usah pakai Nasi. Sate saja dan beberapa kaleng minuman..”

Tante Tular mengiyakan permintaan Donny, “Bentar, aku suruh bang Jemble beli…”

Tante Tular bergegas ke dapur. Melihat majikannya datang, Asma tergopoh-gopoh menyongsongnya. Tante Tular menanyakan Jemble pada Asmah, “mana suamimu?”

“Di kamar, baru minta di kerok..”

“Alasan kerokan lagi. Padahal minta anu tuh..” goda tante Tular menyindir. Dengan menahan malu, Asmah memanggil suaminya. Tante Tulat segera menyuruh Jemble membeli 50 tusuk sate setengah mateng secepatnya, “awas! Jangan pakai lama!” Jemble mengangguk paham.. Bersambung

 

NB: Kisah di atas, adalah adalah halaman pertama dari Novel Politik Bercinta karya Fredy S. Novel jadul yang menggemaskan.  Jika penasaran dengan lanjutannya, silahkan Reques melalui kolom komentar FB fanpage PortalFiksi agar bisa segera di tindaklanjuti. Jika mau beli koleksi bukunya juga boleh…