Takdir bag 4 by Tahniat

Takdir bag 4 by Tahniat.   Jodha terpaku tak percaya. Dia sama sekali tak menyangka kalau pria yang di nikahinya adalah Jalal. Banyak pertanyaan berkecamuk dalam benaknya. Bagaimana hal ini bisa terjadi? Dia kan seharusnya menikah dengan Samshir, lalu bagaimana bisa menikah dengan Jalal? Melihat wajah pucat Jodha dan kebingungannya, Jalal tersenyum licik dan berbisik, “kau sekarang telah menjadi istriku, menjadi nyonya Jalaluddin Muhammad. Manusia tidak bermoral yang pernah kau tampar. ~Jalal menyerigai masam~ Karena perbuatanmu itu, kau harus membayarnya dengan hidupmu! Kau menjadi milikku sekarang. Ayo ikut aku!” jalal meraih pergelangan tangan Jodha, menariknya agar berdiri. Jodha menahan tarikan itu dan berkata, “tunggu sebentar! Aku tidak mungkin menikah denganmu. Lepaskan aku!” Jalal dengan lembut membentak, “diam! Apanya yang tidak mungkin? Kau tidak ingat kalau kita baru saja melakukan pheras dan mengucapkan janji perkawinan? kau milikku Jodha! Tidak ada yang akan menghalangiku! Ayo cepat berdiri, kau harus ikut aku!”

Jodha terpaksa mengikuti Jalal, tak ingin memnarik perhatian orang. Jalal membawanya menghadap Ram dan Mninawati. Pada Ram, Jodha dengan sedih bertanya, “ayah, kenapa begini? Bagaimana bisa aku menikah dengannya?” Ram tersenyum kecut, dan dengan ketus berkata, “jangan berbuat macam-macam, Jodha. Jangan membuat malu keluargamu. Kau sudah menikah menikah sekarang, turuti apa kata suamimu!” Jodha dengan berlinang air mata memeluk Mainawati, “ibu…” Maina hanya bisa mengelus kepala Jodha dan menangis sedih. Maina melepas pelukan Jodha, tapi Jodha masih bergayut padanya. Jalal menarik tangan Jodha, dengan kalimat perintah yang tegas tapi lembut, Jalal berkata, “hentikan semua sandiwara ini, Jodha. Dan ikutlah denganku.” Jalal berpamitan pada Ram, Mainawati, dadisa dan semua anggota keluar tanpa melepaskan cekalannya di tangan Jodha. Dengan berlinang air mata, Jodha terpaksa mengikuti apa maunya. Jalal menyeret Jodha ke mobilnya, di sana sudah menunggu sopir dan mesin mobil yang sudah menyala. Jalal mendorong tubuh Jodha masuk kedalam mobil. Lalu dia mengikutinya. Dengan cepat dia mengunci pintu mobil dan menyuruh sopirnya jalan. Tangan Jalal masih memegang pergelangan tangan Jodha. Jodha mencoba menepis tangan itu. Tapi Jalal malah mempererat pegangannya. Jodha protes, “biarkan aku pergi! kalau tidak aku akan berteriak!” Jalal tertawa, “membiarkanmu pergi? Kau gila? Berteriaklah kalau kau mau! Tapi tidak ada seorangpun yang dapat menghentikan aku sekarang. Kau adalah istriku!”

Jodha masih mencoba berontak untuk melepaskan diri dari pegangan Jalal, “lepaskan aku! kau menyakitiku. Aku tak akan kabur!” Melihat Jodha meringis kesakitan, dan juga berpikir kalau Jodha tak mungkin nekat loncat dari mobil yang melaju kencang, Jalal akhirnya melepaskan pegangannya. Tapi matanya sedetikpun tak hengkang dari wajah Jodha. Jodha segera memalingkan wajah. Melihat trafik yang begitu padat, dan tak juga sampai ketujuan, dengan penasaran Jodha bertanya, “kau akan membawaku kemana?” Jalal menjawab, “ke nerakamu!” Jodha dengan cepat berpaling menatap Jalal dengan marah dan geram, “untuk apa kau melakukan ini semua?” Jalal menyerigai, “balas dendam!” Jodha menatap Jalal tak mengerti. Jalal mengalihkan tatapan dari wajah Jodha, “kau lupa kalau kau pernah menamparku?” Jodha terbelalak tak percaya, “untuk sebuah tamparan kau menikahiku?” Dengan nada marah jalal berkata dengan lantang, “sebuah tamparan? Bagimu itu hanya sebuah tamparan, tapi bagiku itu penghinaan. Tidak ada seorangpun yang boleh menghina Jalaluddin Muhammad Akbar. Tidak seorangpun.” Jodha membalas dengan nada penuh sesal, “kau bisa membalas menghinaku atau menamparku, apa perlunya menikahiku?” Jalal tertawa, “bukan begitu caraku membalas dendam. Pembalasan harus lebih kejam dari perbuatan. Dengan balas menamparmu, kau hanya merasa sakit sekali. Tapi dengan menikahimu aku bisa menyakitimu sepanjang hidupmu! Mambuatmu menderita hingga kau akan menyesalinya seumur hidupmu.” Jodha berguman dengan geram, “dasar orang gila.” Jalal menyerigai marah, “kau telah menikah dengan orang gila itu sekarang, dengan manusia tidak bermoral itu, jadi bersiap-siaplah…!”

Setelah beberapa lama, mereka sampai di tujuannya, sebuah mansion megah di kawasan yang tenang dan damai. Sopir menghentikan mobil di halaman. Jalal membuka pintu mobil dan menarik Jodha keluar. Dengan langkah bergegas jalal menyeret Jodha memasuki rumah, seolah-olah dia tidak ingin kalau ada orang yang melihat kelakuannya. Jalal membuka pintu rumah, menyentakan Jodha masuk kedalam, mengunci pintu dan menutup korden.  Lalu dengan langkah perlahan tapi pasti dia menghampiri Jodha. Mengamati wajahnya sambil menyerigai jahat dan berucap, “selamat datang di nerakamu, Jodha!”…. Takdir bag 5

NEXT