Sinopsis Ashoka Samrat episode 18 by Sally Diandra.

Sinopsis Ashoka Samrat episode 18 by Sally Diandra. Dharma sedang mengobati luka luka di tubuh Ashoka, melihat anaknya termenung, Dharma bertanya “Ashoka, apa yang sedang kamu pikirkan ?”, “Aku sedang memikirkan tentang Acharaya Chanakya, disatu sisi dia sering menjauhkan aku dari ibu dan sekarang di lain sisi, dia selalu menyelamatkan aku dari semua permasalahan yang aku hadapi, aku tidak bisa menghadapinya” Dharma teringat ketika Acharaya berkata “Kedamaian bukan berarti kalau Ashoka harus selalu diam” Ashoka yang kali ini melihat ibunya sedang merenung berbalik bertanya “Ibu, apa yang ibu pikirkan ?” tepat pada saat itu Bindusara menghampiri mereka, Dharma langsung menutupi wajahnya “Aku dengar kalau temanku saat ini sedang berada di balai pengobatan, itu mengapa aku datang menemui kamu” ujar Bindusara, Ashoka senang melihat kedatangan Bindusara kemudian mendekat ke arahnya dan memberi salam, sementara Dharma terkejut “Siapa temanmu, Samrat ?”, “Ini dia Samrat dari Vanraj ! Dia telah menjadi temanku sejak kemarin” Dharma tersenyum senang mendengarnya “Bagaimana kondisi kesehatannya ?”, “Samrat, tabibmu ini benar benar menakjubkan, dia telah mengobati aku dengan baik” ujar Ashoka sambil menunjuk ke arah Dharma “Ashoka adalah anak yang hebat, dia itu pemberani, dia juga selalu tersenyum meskipun sedang menderita, anak seperti dia pasti membuat orang tuanya bangga” Dharma ikut angkat bicara “Ashoka, kamu telah jauh dari ibu kamu dan Dewi (Dharma) juga telah jauh dari anaknya, mengapa kalian berdua tidak tinggal di istana saja bersama sama ? Aku telah membicarakan mengenai hal ini dengan Acharaya tentang tempat untuk Ashoka didalam istana kerajaan, kalian berdua akan bisa menghabiskan waktu bersama sama juga tapi jika kalian berdua tidak menginginkan maka aku tidak akan memaksa kalian berdua” ujar Bindusara “Tidak tidak Samrat, permintaanmu adalah perintahku, ini adalah sebuah ide yang sangat bagus” Ashoka menimpali “Aku harus memikirkan tentang temanku” ujar Bindusara sambil mengulurkan tangannya ke arah Ashoka, Ashoka pun menyambut uluran tangan Bindusara sambil melirik ke arah Dharma, anak ayah yang saling tidak mengenal itu tampak semakin kompak, Dharma sangat senang melihatnya namun sesaat Dharman memikirkan sesuatu dan berkata dalam hati “Bagaimana jika ada seseorang yang tahu bahwa Ashoka itu sebenarnya adalah anak kandungku sendiri ?”
 
Sushima sedang berada di kebun istana, dia meletakkan sebuah jeruk di atas kepala seorang anak dan sedang bersiap siap hendak memanahnya dengan anak panahnya akan tetapi temannya yang bernama Inderjeet berkata “Semua orang bisa memanahnya dengan mata terbuka, apakah kamu bisa memanah apel itu dengan mata tertutup ?” Sushima tersenyum sinis “Indrajeet, aku terima tantanganmu !” Sushima segera menutup matanya dan mulai bersiap memanah jeruk tersebut, tiba tiba salah seorang temannya datang dan menginformasikan ke Sushima “Pangeran Sushima, Samrat Bindusara sangat terkesan dengan Ashoka, dia telah memberikan sebuah kamar untuknya di istana dan dia diminta tinggal bersama seorang perempuan yang jadi tabibnya Samrat, dia juga telah memutuskan untuk mengirimkan Ashoka ke sekolah kerajaan” Sushima marah “Ini tidak mungkin ! Ini tidak benar ! Apa sih yang Ashoka punyai sehingga ayahku memberikan perhatian yang berlebihan padanya dan menganggapnya lebih penting dari pada aku ? Aku tidak akan membiarkan semua ini terjadi !”
Guru bertemu dengan seorang prajurit diruangannya dan prajurit itu memberikan sejumlah berkas berkas gulungan kepada Guru, Guru menyeringai sinis ketika menerimanya.
Sushima menemui Bindusara dikamarnya, saat itu Bindusara sedang asyik menulis “Ayah, aku dengar kalau ayah meminta Ashoka untuk tinggal di istana kerajaan dan juga memasukan dia ke sekolah kerajaan, di sekolah kerajaan hanya ada anak dari keluarga kerajaan saja yang boleh masuk !” ujar Sushima marah “Itu adalah pekerjaan untuk membuat seorang ksatria yang tangguh untuk kerajaan Magadha, oleh karena itu dia bisa melindungi Magadha di masa mendatang dan ketika aku melihat Ashoka, aku pikir aku tidak ingin kehilangan dia, dia bisa sangat berguna untuk kerajaan Magadha” ujar Bindusara masih dari tempat duduknya “Ayah, aku meminta padamu, agar ayah tidak memasukan Ashoka ke sekolah kerajaan karena dengan adanya dirinya maka lingkungan di sekolah tidak akan menyenangkan lagi” Sushima masih bersikeras mempengaruhi ayahnya “Cobalah untuk mengerti tentang orang lain, Sushima … Ashoka adalah anak yang sangat baik, dia itu suka berbicara terus terang dan apa adanya, dia juga pemberani, dia rendah hati dan semua orang memang mempunyai kekurangannya masing masing akan tetapi semua orang tidak bisa menghadapi kekurangan mereka sedangkan Ashoka itu mampu mengatasinya” ujar Bindusara sambil menghampiri Sushima “Ayah, telah melukai perasaanku dengan mendukung musuhku !” ujar Sushima geram “Dia itu temanmu bukan musuhmu dan dia akan masuk ke sekolah” ujar Bindusara “Apakah ini sudah keputusan terakhir ayah ?”, “Ini adalah perintah seorang Maharaja” Sushima sangat kecewa dengan keputusan ayahnya tanpa berkata apa apa, Sushima langsung meninggalkan ayahnya dan begitu sampai di pintu kamar, Sushima berpapasan dengan Helena yang akan menemui Bindusara, sesaat Sushima memandang Helena dengan ketus sambil menahan amarahnya kemudian memberikan salam pada nenek tirinya itu dan berlalu dari sana, Helena merasa ada yang tidak beres yang baru saja terjadi.
“Samrat, kenapa kamu melukai perasaan anakmu demi anak seperti Ashoka ?” Helena mencoba membela cucu tirinya itu “Ibu, Sushima harus bisa mengerti, aku telah melihat banyak sekali kebaikan pada diri Ashoka dan aku ingin mengasahnya” ujar Bindusara “Diantara begitu banyaknya kebaikan yang ada pada diri Ashoka, pasti ada setitik keburukan yang bisa melukaimu, bagaimana jika Ashoka menipu kamu ?”, “Acharaya sangat menyukai Ashoka, itu artinya bahwa Ashoka pasti memiliki sesuatu yang istimewa, ibu ingat kan kalau ayahku Chandragupta Maurya dulu juga seorang anak biasa akan tetapi Acharaya melihat ada sebuah kwalitas yang baik pada dirinya dan membuatnya menjadi Maharaja !” Helena tidak suka dengan ucapan Bindusara “Jangan bandingkan ayahmu dengan anak anak kecil lainnya, dengan cara ini maka Ashoka bisa bermimpi untuk menjadi seorang Samrat !” Bindusara merasa heran dengan ibu tirinya ini “Ibu tidak ingin Acharaya melakukan hal yang sama padamu seperti yang dia lakukan pada Dhana Nand !”, “Jangan khawatir, ibu … aku percaya pada Ashoka, dia itu anak yang hebat” ujar Bindusara bangga, Helena semakin tidak suka dengan Ashoka, dalam hatinya berkata “Kamu tidak mempunyai pemikiran apapun atas apa yang akan terjadi pada masa mendatang” bathin Helena dalam hati
Tampak beberapa orang orang suruhan Rakshasa memasuki Patliputra dengan berkas gulungan bertanda yang bisa dimengerti oleh prajurit yang berjaga di gerbang istana ketika mereka mencegat orang orang tersebut. Orang orang tadi menemui Guru, kemudian Guru menunjukkan pada mereka sebuah danau, tak lama kemudian mereka memasukan akar akaran yang beracun ke dalam danau pada malam hari. Keesokan harinya ketika warga penduduk mulai minum air dari danau itu, mereka mulai mengerang kesakitan dan tumbang satu persatu.
Di kandang kuda, Ashoka baru saja bangun tidur, Ashoka langsung berbicara dengan Gul Bhushan “Gul Bhushan, kamu tahu kalau aku akan segera tinggal di istana kerajaan ini mulai dari sekarang bersama ibuku, Samrat telah berbuat banyak kebaikan untukku” setelah ngobrol dengan Gul Bhushan, Ashoka mendekati tempat air dan ketika hendak minum air itu tiba tiba Bal Govin melarangnya dan berkata “Ashoka, jangan diminum air itu ! Airnya sepertinya bermasalah, lihat semua orang yang sudah meminumnya, mengerang kesakitan”, “Kita harus menolong mereka !” Ashoka mendatangi orang orang yang sudah meminum air danau dan melihat mereka semua mengerang kesakitan.
Acharaya yang saat itu sedang berada di pasar, juga melihat banyak warga penduduk jatuh sakit, Acharaya memerintahkan prajuritnya untuk menolong semua orang dan memberikannya contoh air danau itu.
Di dalam istana ketika Bindusara sedang berjalan jalan dengan Helena, Bindusara mendapat informasi dari salah seorang prajuritnya “Samrat, air di danau kita rupanya bermasalah, semua warga penduduk langsung jatuh sakit begitu meminum air itu” Bindusara terkejut dan meninggalkan Helena untuk mencari tahu tentang persoalan itu, sementara itu Helena menyeringai senang dan tatapan liciknya.
Acharaya masih berada di pasar dan berkata pada dirinya sendiri “Ini bukan masalah yang mudah seperti kelihatannya”
Didalam istana, para ratu sedang berkumpul bersama anak anak mereka masing masing, Noor berkata pada Siamak “Aku telah membawa segelas air buat kamu, jangan minum air yang biasanya, karena air itu bermasalah, kamu minum yang ini saja” sementara itu Drupata bertanya pada ibunya sendiri “Ibu, apakah semua air ini hanya untuk kak Siamak ?”, “Tidak sayang, kamu juga bisa meminumnya” sementara itu di kamar Charumitra, Charumitra sedang berkumpul dengan Sushima dan dua teman Sushima yang lain, Charumitra menyuruh seorang anak pelayannya meminum air tersebut untuk mengujinya apakah air itu bermasalah atau tidak sebelum Sushima meminumnya, ternyata tidak terjadi sesuatu pada anak itu “Sushima, ini waktunya buat kamu untuk membuktikan dirimu, pergilah ke mereka, para rakyat jelata, bantulah mereka dan tunjukkan kalau kamu adalah pangeran yang hebat !”, “Aku tidak akan pergi menemui rakyat jelata itu, ibu ! Bagaimana jika aku tertular penyakit juga ?” Sushima merasa jijik bila harus bertemu dengan rakyatnya “Jika kamu ingin menjadi seorang Samrat maka kamu harus melakukan ini semua, nak ! Dengan cara ini maka ayahmu akan terkesan padamu juga, hanya dengan menunjukkan wajahmu ke rakyat itu dan kembali, itu saja !”
Sementara itu dihalaman istana, Bindusara sedang berkumpul bersama para anak buahnya, Bindusara bertanya pada panglimanya Khurasan “Bagaimana bisa sebuah permasalahan terjadi dalam satu hari ? Umumkan pada khalayak ramai bahwa kita selalu bersama mereka, kita akan melakukan segala cara untuk menolong mereka” tak lama kemudian Ashoka menemui Bindusara bersama anak anak yang lain “Samrat, anda harus melakukan sesuatu, lihat anda baik baik saja itu artinya orang orang di dalam istana juga baik semua” tepat pada saat itu Acharaya menemui mereka bersama Radhagupta dan berkata “Jika semua air bermasalah maka orang orang di istana akan menderita sakit juga, jadi ini berarti air yang dimanipulasi hanya yang dipinggiran saja, aku akan segera mencari tahu tentang hal ini” dari atas balkon istana, Helena memperhatikan mereka sambil tersenyum sinis “Semuanya berjalan sesuai dengan rencana” sementara itu Ashoka meminta ijin pada Bindusara untuk menggunakan air kerajaan “Samrat, kami minta ijin untuk menggunakan air dari istana untuk membantu para penduduk”, “Ya, aku ijinkan !” ujar Bindusara, kemudian Ashoka dan teman temannya meninggalkan Bindusara.
Acharaya bersama Radhagupta sedang mengadakan penyelidikan di dekat danau, sementara salah seorang pelayannya sedang menyelam di danau tersebut mencari cari sesuatu, Acharaya menemukan akar akaran yang beracun dan membauinya, baunya sangat menyengat, sedangkan pelayannya juga menemukan akar akaran tersebut di dalam danau “Siapa yang bisa melakukan ini ?” Radhagupta merasa penasaran “Kita akan segera mengetahuinya !” ujar Acharaya tepat pada saat itu para prajurit menemui Acharaya di tepi danau dan menginformasikan bahwa mereka menemukan mayat “Air ini bisa membunuh siapa saja, Radhagupta periksa mayat itu !” Radhagupta segera memeriksa mayat yang ada di depannya, Radhagupta menemukan sebuah surat pada mayat tersebut dan menunjukkannya ke Acharaya, itu adalah surat yang sama yang di tulis yang mengatakan bahwa Yunani akan menyerang Patliputra.
Di balai pengobatan, Ashoka membantu para warga penduduk yang menderita kesakitan, ketika ada seorang anak perempuan tidak mau meminum obatnya, Ashoka segera menghampiri “Bagaimana kalau kita memainkan sebuah permainan, yaitu aku akan menghitung dari 1 sampai 10 dan jika kamu meminum obat itu maka kamu akan menang ?” anak perempuan itu setuju, Ashoka mulai menghitung mulai dari angka 1 sambil menutup matanya “Sekarang aku akan menghitung ya 1 … 2 … 3 … 4 … 5 …” belum juga Ashoka selesai menghitung anak perempuan itu sudah meminum obatnya sampai habis, dari kejauhan Dharma yang melihat ulah anak semata wayangnya ini merasa kagum dan senang sambil tersenyum bangga “Waaah kamu menang dan aku kalah, kamu bahkan meminumnya sampai habis, hebat !” anak perempuan itu hanya tersenyum, kemudian Ashoka menyuruh anak perempuan itu istirahat di tempat tidur dan segera meninggalkannya untuk membantu yang lain, dari kejauhan Ashoka melihat ibunya, Ashoka segera menghampiri ibunya “Ibu, kita berdua akan segera tinggal bersama”, “Tapi ini tidak baik, Ashoka … bagaimana jika ada orang yang tahu bahwa kamu itu anak kandungku ?” ujar Dharma dengan rasa cemas dan melihat ke kanan kiri takut ada orang yang mendengar pembicaraan mereka “Mengapa ibu sangat khawatir sekali ? Jika ada seseorang yang mengetahui bahwa aku adalah anak kandungmu ?” ujar Ashoka santai tanpa ada beban sama sekali “Samrat telah memberikan perintah ini maka Acharaya tidak akan bisa melakukan apa apa lagi, ibu … Sudahlah jangan khawatir semuanya akan baik baik saja” ujar Ashoka sambil memegang bahu ibunya, Dharma hanya bisa tersenyum, kemudian Ashoka berlalu meninggalkannya, sambil melihat kepergian Ashoka, Dharma berkata “Bagaimana caranya mengatakan hal ini pada Ashoka tentang apa yang sangat aku khawatirkan”
Acharaya menemui Bindusara di kamarnya bersama Perdana Menteri “Samrat, yang tertulis di dalam surat ini bahwa Yunani yang telah melakukan semua ini, jadi sementara perhatian kita teralihkan pada permasalahan ini, maka mereka akan menyerang Patliputra, mereka akan menggunakan kesempatan ini untuk menyerang kita” Bindusara kaget “Perdana Menteri, coba cari tahu tentang permasalahan ini”, “Aku akan mencari tahu bagaimana caranya orang orang ini memasuki Patliputra dan meracuni air di danau kita dengan akar akaran beracun” ujar Acharaya geram “Aku tidak bisa mempercayai orang lain selain kamu untuk permasalahan ini, Acharaya … cobalah cari tahu tentang hal tersebut” dari balik pintu rupanya Helena menguping pembicaraan mereka dan menyeringai sinis.
Di pasar Ashoka mencoba membagi bagi air bersih yang diambilnya dari istana kerajaan untuk para warga penduduk, sambil berdiri di atas gerobak yang membawa bejana besar berisi air bersih, Ashoka mulai membagi bagi air tersebut satu per satu “Jangan khawatir, Samrat telah menolong kita dan segera air di danau itu akan bersih kembali” tepat pada saat itu Sushima dan dua temannya juga datang ke pasar dengan ekspresi wajah yang aneh dan merasa jijik ketika melihat para warga penduduk yang mengerang kesakitan, tak lama kemudian dia juga melihat Ashoka sedang membagi bagikan air bersih, Sushima juga mendengar obrolan beberapa orang yang memuji sikap Ashoka yang terpuji dengan menolong para warga penduduk “Ashoka itu memang anak yang hebat dan dia pasti akan mendapat imbalan atas perbuatannya ini, aku harap dia bisa sukses dalam kehidupannya” Sushima yang mendengarnya merasa kesal.
Sushima segera menghampiri Ashoka dan berkata pada temannya “Kamu tahu aku akan menceritakan sebuah cerita, ada seekor keledai yang biasanya tinggal di kandang kuda istana, dia mulai berfikir kalau dia itu seekor kuda, kemudian Samrat memberikan kesejahteraan padanya dengan memberinya sebuah tempat tinggal di dalam istana, tapi sekali keledai tetap saja keledai” ujar Sushima sambil melirik ke arah Ashoka berupaya mengejek Ashoka namun Ashoka tetap santai tidak bergeming sambil sesekali tersenyum pada warga penduduk yang minta air, tak lama kemudian Ashoka mengisi tempayannya dengan air bersih yang cukup banyak lalu melompat dan menghampiri Sushima, Ashoka memberikan tempayan berisi air itu ke Sushima dan mengumumkan pada semua orang yang berada disana
“Pengumuman ! Pengumuman ! Kata pangeran Sushima dia akan memberikan air bersih ini untuk semua warga penduduk dan kalian boleh memegang tubuhnya, ayoo … mari mari sini mintalah air pada pangeran Sushima” ujar Ashoka lantang, semua orang berduyun duyun menghampiri Sushima untuk meminta air darinya dan bisa memegang tubuhnya, satu hal yang sangat jarang sekali bisa dilakukan oleh rakyat jelata bisa memegang tubuh pangerannya, sementara itu Sushima tidak bisa berbuat apa apa, Sushima kesal dan marah pada Ashoka sambil menuangkan air itu untuk warga penduduk dan merasa jijik ketika tangan tangan mereka menyentuh bahu dan lengannya, semantara Ashoka tersenyum senang bisa mengerjai Sushima dan mulai menggoda Sushima “Pangeran, kamu tahu kenapa seekor keledai bisa tinggal di istana seperti seekor kuda ? Aku akan mengatakannya padamu ketika seekor kuda bisa bertingkah seperti seekor keledai maka seekor keledai pun bisa bermimpi menjadi seekor kuda, itu adalah cerita keseluruhannya, lain kali ceritakan keseluruhan cerita meskipun itu tidak akan menyenangkan” bisik Ashoka sambil menyeringai senang dan berlalu dari sana meninggalkan mereka semua, Sushima hanya bisa menahan amarahnya begitu di hina oleh Ashoka.
Bindusara nampak merenungkan sesuatu ketika Helena menemuinya di kamarnya “Ada apa ? Kenapa kamu kelihatan gelisah ?” Bindusara merasa bingung di depan ibu tirinya ini, kemudian Helena menyuruh semua pelayan pergi meninggalkan mereka berdua, Bindusara berkata pada Helena “Ibu, menurut Acharaya rupanya Yunani akan menyerang kita” Helena kaget “Ayahku ? Nicator ( pimpinan pasukan Yunani ) akan menyerang kamu ?”, “Acharaya telah mendapatkan beberapa bukti” ujar Bindusara bingung “Dia itu ingin membuktikan hal ini, katakan padaku bagaimana bisa seorang ayah akan menyerang rumah anak perempuannya sendiri ? Aliansi antara Yunani dan Magadha dapat terlihat dari pernikahanku dengan ayahmu, ayahku selalu memikirkan yang terbaik untuk Magadha”, “Tapi mengapa Acharaya bisa mengatakan sebuah kebohongan ?” Bindusara benar benar tidak percaya “Dia ingin memenuhi telingamu untuk melawan aku, kamu meragukan aku itu artinya kamu tidak menganggap aku sebagai ibumu, bagaimana bisa kamu meragukan ibu Yashodamu ?” ujar Helena sedih, Bindusara meminta maaf sambil mengatupkan kedua tangannya di depan dada dan berkata “Maafkan aku, ibu … jika aku telah melukai perasaanmu”, “Acharaya itu mempunyai beberapa rencana, salah satu caranya adalah dengan membawa Ashoka ke sini, aku merasa dia akan melakukan hal yang sama padamu seperti yang dilakukannya pada Dhana Nand yaitu dia ingin membuat Ashoka menjadi Samrat berikutnya” Bindusara semakin bingung “Ashoka itu hanya seorang anak kecil”, “Dhana Nand juga telah membuat kesalahan dengan menganggap kalau Chandragupta adalah seorang anak kecil, kamu tidak seharusnya mempercayai Ashoka maupun Acharaya begitu saja, sebagai seorang Samrat kamu seharusnya meragukan siapa saja” Helena mulai meracuni pikiran Bindusara “Aku tidak mempercayai semua orang 100% akan tetapi dalam mengambil keputusan aku selalu melihat kebenaran dan bukti bukti” ujar Bindusara sambil berlalu meninggalkan Helena, melihat kepergian Bindusara, Helena tersenyum licik dan sinis dan berkata dalam hati “Sekarang kita akan menjadikan Acharaya dan Ashoka menjadi satu dalam satu bingkai, seseorang yang ingin melayani kerajaan Magadha akan disebut sebagai pengkhianat Magadha”  Sinopsis Ashoka Samrat episode 19 by Sally Diandra. 

Please give some coment in FB: 

https://www.facebook.com/sinopsisashoka
.
__Posted on
May 31, 2015