Sinopsis Ashoka Samrat episode 31 by Jonathan Bay.

Sinopsis Ashoka Samrat episode 31 by Jonathan Bay. Ashoka melintasi tanah tandus. Udara panas menyengat dan kehausan yang mencekat. Dalam keadaan letih dan lelah, Ashoka tetap berjalan. Meski langkahnya semakin gontai dan sempoyongan. Tapi tubuh dan keinginan tidak lagi saling mendukung, akhirnya Ashok terjatuh dan tak sadarkan diri. Singa Chadragupta muncul, mengintari tubuh Ashoka beberapa kali sambil mengaum.

Tak jauh dari tempat Ashok tak sadarkan diri terdapat sebuah kuil Budha. Salah seorang rahib menemukan Ashoka dan membawanya ke kuil. Mereka merawat Ashok sampai dia sadarkan diri. Saat tersadar Ashok terkejut dan bertanya, “saya di mana?” Seorang rahib menjawab kalau mereka mengobati orang terluka di tempat ini. Ashok tersenyum penuh harap, “apakah ibu saya juga ada di sini?” Rahib tidak  menjawab. Ashok menatap sekeliling dengan penuh harap. Saat dia ternampak patung besar Budha, sebersit kekecewaan terbayang jelas di wajahnya. Lalu dia ingat bagaimana dia terjatuh dan tak sadarkan diri, “semuanya terlihat gelap bagiku, apakah anda yang membawaku kemari?” Rahib tersenyum dan mengangguk dengan hidmat. Ashok tersenyum ramah, “anda telah banyak menderita karena saya.” Rahib balas tersenyum sambil mengeleng, “kau tidak membuatku menderita, ini merupakan keberuntungan kami karena bisa melayanimu.” Ashok menyahut, “keberuntungan ada padaku, karena anda semua yang merawatku.” Rahib berkata kalau Ashok terlahir karena alasan yang sangat baik, “kau bukan anak biasa.” Ashok memberitahu rahib kalau dia pergi untuk menemukan ibunya. Rahib menyahut kalau itu bukan misi Ashok yang sebenarnya. Rahib kemudian meminta rekannya mengambilkan makanan untuk Ashok.

Ashoka Samrat 31Bindu sedang duduk di taman. Dia sangat merindukan Ashok dan teringat bagaimana dia telah berjanji akan melindungi Ashok. Sushim dan Charumitra melihat kesendirian Samrat. Charu segera menyuruh Shushim mendatanginya. Sambil membawa alat memanah, Sushim menghampiri Bindusara. Dia memberi salam pada Bindu dan berkata kalau dirinya ingin menunjukan sesuatu. Bindu memberinya izin. Sushim dengan penuh percaya diri membuat formasi anak panah di pohon secara pararel. Anak panah terakhir di gunakan untuk memanah bunga. Bunga jatuh menimpa formasi anak panah, mengelinding turun dan jatuh tepat di kaki bindu. Bindu terlihat kagum dan tersenyum bangga pada Sushim. Sushim berkata kalau dia ingin mempersembahkan bunga itu untuk ayahnya.  Bindu dengan bangga membuka tangannya, Sushim dengan senang hati segera menghampiri Bindu. Keduanya saling berpelukan. Charumitra tersenyum senang. Sushim berkata kalau dia telah belajar seni itu dan sekarang sedang menunggu kesempatan untuk bisa mewakili dinasti Maurya dalam perang.

Siamak muncul dan berkata kalau untuk memenangkan peperangan tidak perlu membunuh orang, “kemenangan sebenarnya adalah ketika anda tidak perlu mengangkat senjata.” Siamak memberi salam pada Bindu. Melihat kedatangan Siamak, Charu menjadi cemas dan tidak senang, dia berpikir kalau Noor pasti telah mengirim siamak pada Bindu. Sushim menyahuti kata-kata Siamak, “jadi kau pikir kita bisa menang perang tanpa perlu mengangkat senjata?” Siamak menjawab, “ya. Jika niat adalah untuk memenangkan hati, maka senjata tidak di perlukan.” Sushim berkata kalau kata-kata Siamak terlihat baik untuk di dengarkan, “tetapi tidak mungkin memenangkan hati orang tanpa menang atas orang itu. Dan untuk memenangi mereka kita butuh kekuatan. Kita tunduk pada Dewa karena kita tahu dia yang terkuat. Sampai orang tidak tahu tentang kekuatanmu, maka mereka tidak akan tunduk padamu.”

Siamak berkata kalau kepala yang tunduk karena takut bisa melawan anda tetapi kepala yang tunduk karena cinta dapat memberikan hidupnya untuk anda. Sushim menantang Siamak untuk menyebutkan satu nama yang bisa berjuang untuk orang lain, “katakan satu nama yang mau menempatkan hidupnya dalam bahaya untuk orang lain. Katakan satu nama yang lebih memikirkan orang lain dari pada dirinya sendiri. Adakah orang yang seperti itu?” Siamak tanpa ragu menjawab, “ada. Ashoka!” Bindu terkejut mendengarnya. Siamak menyambung, “Ashok melayani seluruh Patliputra ketika air di manipulasi dan orang-orang mencintainya. Karena itu banyak orang datang untuk berdoa pada pemakanam ibunya. Ketika dia tahu kalau iblis belum tertangkap, dia mengembalikan hadiahnya pada ayah.” Sushim dengan kesal berkata kalau Siamak sudah di butakan oleh Ashoka dan sudah kehilangan akalnya. Mendengar kata-kata Sushim, Bindu menegurnya, “Sushim! Kau boleh pergi, aku ingin bicara dengan siamak secara pribadi.” Dengan menahan marah, Sushim pun pergi. Bindu melambai pada Siamak, menyuruhnya duduk di sampingnya, “Siamak, kau meyukai Ashok?” Siamak menjawab kalau Ashok adalah temannya. Bindu tersenyum dan berkata kalau Ashok juga temannya. Keduanya kemudian terlibat dalam pembicaraan yang begitu menarik tentang Ashok. Charumitra geram melihatnya.

Di kuil Budha, rahib kepala memberi wejangan pada murid-muridnya kalau hati adalah alasan untuk segalanya, “ketika hatinya gembira, maka orang akan berkata baik dan hidup damai sepanjang hidupnya. Jika hatinya suci, dia tidak akan berpikir tentang kekerasan…” Ashok mendengar wejangan itu dan berkata, “itu tidak benar! Ibuku memiliki hati yang murni, dia tidak pernah menyakiti siapapun tapi mengapa dia harus menanggung semua rasa sakit? Mengapa hidupnya sulit? Dia selalu mengikuti jalan damai, dan berpikir bahwa hanya perdamaian yang dapat membuat  orang bahagia. Tapi kenapa hidupnya meyakitkan? Di sini satu-satunya orang yang mengikuti jalan damai di sebut pengecut.” Rahip kepala bertanya, “lalu kau meninggalkan jalan damai karena ini?” Ashok menjawab kalau dirinya tidak tahu, “kalian penganut Budha menyebut pengecut orang yang melakukan kekerasan tapi aku ingin bertanya jika seseorang mencoba menyakiti ibumu apa yang harus kau lakukan? Aku tidak akan berpikir dua kali untuk membuat sungai darah.” raib dan pendeta yang lain terkejut mendengar kata-kata Ashok. Ashok pergi dari sana. Rahib berkata, “biarkan dia menyadari kesalahannya, ini hanya perjalanannya saja.”

Di pengadilan, seorang Guru melapor pada Bindu kalau pelayannya mencuri makanan dari rumahnya. Dia meminta Bindu menghukumnya agar tidak seorangpun berani mencuri lagi. Pelayan mengatakan kalau anaknya sedang sakit dan dirinya tidak mampu menyiapkan makanan untuknya. Perdana menteri berkata kalau itu bukan alasan, “kau bisa meminjam dari siapapun, tapi kenapa mencuri?” Pelayan berkata dia terpaksa mencuri karena anaknya sudah sangat kelaparan. Bindu teringat kata-kata Ashok bahwa di kerajaannya orang-orang terpaksa mencuri untuk bertahan hidup. Guru itu membentak pelayannya, “kau seharusnya malu karena telah membuat anakku memakan makanan hasil curian.”

Bindu terdiam sambil berpikir keras. Lalu dia berkata kalau dirinya memberi hukuman pada Guru. Perdana menteri terkejut, “tapi bukan dia yang bersalah, Samrat.” Bindu berkata kalau Guru itulah yang bersalah, “dalam kerajaanku, orang terpaksa harus mencuri makanan yang mana tidak dapat ku biarkan begitu saja.” Bindu kemudian menyuruh Guru memberikan koin pada pelayan miskin itu sebagai hukuman, tapi dia salah perintah, “Ashok berikan Koin padanya.” Mendengar Bindu salah memanggil nama Guru dengan nama Ashok, semua yang mendengar tercengah. Mereka jadi tahu betapa Bindu sangat merindukan Ashok. Guru lalu memberi pelayan koin.

Chanakya berkata kalau Bindu menyebut nama Ashok ketika menegakkan kaadilan, “ini menunjukan betapa anda memkikirkan orang-orang anda yang tidak ada di sini. Tapi dengan menyebut namanya ini juga menunjukkan kalau anda lelah. Anda telah melalui banyak masalah dalam beberapa bulan terakhir ini. Jadi saya sarankan, anda untuk pergi berlibur selama beberapa hari.” Bindu menjawab kalau dirinya baik-baik saja dan akan menangani segalanya. Chanakya membujuk, “anda benar, Samrat. Anda dapat menangai banyak hal tapi jika anda pergi berlibur, anda akan mendapatkan ketenangan dan mungkin… bertemu beberapa teman lama yang mungkin akan memberikan ketenangan pada anda yang bisa anda gunakan untuk kebaikan rakyat.” Bindu berpikir sejenak lalau setuju, “anda benar Achari.” Helena juga setuju kalau Bindusara pergi berlibur. Dengan hormat Bindu berkata kalau helena menginginkan itu, maka dirinya akan menurut. Chanakya dengan curiga berpikir kenapa helena mendukung sarannya. Helena juga berpikir kalau Chanakya pasti akan mengetahui rencananya, tapi bila saat itu tiba, dia sudah terlambat.

Radhagupta memberitahu Chanakya tentang prajurit yang menjemput Dharma dari klinik malam itu. Chanakya berkata kalau Helena terlibat dalam konspirasi itu karena itu dia setuju dengan sarannya agar Bindu pergi berlibur, “kita harus menemukan Nirjara untuk mendapatkan kejelasan. Jika dia mengkhianati kita, aku akan memberinya hukuman yang sangat berat. Karena aku tidak akan mentolerir apapun yang menentang masa depan Magadha.” Sinopsis Ashoka Samrat episode 32 by Jonathan Bay

__Posted on
June 15, 2015