Sinopsis Ashoka Samrat episode 106 by Mey Lest

Sinopsis Ashoka Samrat episode 106 by Mey Lest. Bindu melakukan Pujaa pagi hari, di sedang memuja dewa Surya ketika Ashok datang. Melihat Bindu menumpakan air, Ashok ikut-ikutan melakukan hal yang sama. bahkan ketika Bindu membaca Gayatri Matra, Ashok mengikuti apa yang di rapal Bindu dan gerakan yang di lakukannya… ” Aum Bhoor Bhuwash Shaha, Tat savitur Varenyam, Bhargo Devas Yadhemahi, Dhi yo Yo Naha Pracchodayat”

Setelah melakukamn puja, Bindu menoleh kearah Ashok dan menatapnya. Ashok bertanya, “ada apa samrat?” Bindu balik bertanya, “apakah kau melakukan puja setiap pagi?” Ashok menjawab, “tidak, tapi aku akan melakukannya dari sekarang karena aku ingin mengikuti langkah anda.” Bindu berkata, “seperti anakku.” Ashok mengangguk, “aku putra anda…karena orang biasa adalah adalah anak-anak raja.” Bindu tersenyum, “aku terkesan dengan pemikiranmu. kau punya sesuatu di dalam dirimu. Betapa tertekannya aku, aku merasa baik ketika bicara denganmu. Ayahmu tidak beruntung karena tidak bertemu dengamu. Apakah achari chanakya sudah memberitahumu tentang ayahmu?” Ashok menjawab, “dia telah berjanji padaku, setelah aku menangkap musuh, dia akan mempertemukan aku dengan ayahku.”

Chanakya memberitahu Radha kalau Justin pergi ke mandir untuk berdoa buat Helena. Radha heran dan memberitahu Chanakya kalau dirinya tidak pernah melihat Justin pergi ke mandir. Chanakya menyahut, “mungkin dia peri menemui raja ji atau Vrahmir.” Dharma dan datang dan memprotes Chanakya karena membuat Ashok dekat dengan Bindusara, “bagaimana kalau mereka tahu yang sebenarnya?” Chanakya menjawab, “hari itu tidak jauh ketika aku akan membuat mereka bertemu sebagai ayah dan anak.”

Ashoka samrat coverNoor memberitahu Khorasan kalau Bindu tergila-gila pada Dharma, “anda harus menemukan dia dan membunuhnya.” Khorasan menjawab, “aku bahkan tidak bisa membunuh semut sekarang ini, bindu sedang mencurigai aku.” DIa telah meminta aakramak untuk mengawasiku. Anakku matiu karena menyelamatkan Samrat dan kini dia meragukan aku?” Noor bertanya, “lalu apa yang akan kau lakukan sekarang?” Khorasan menjawab, “aku harus menebus diriku sendiri di mata samrat. AKu harus menemukan siapa yang melakukan konspirasi ini dan memberitahu samrat tentangnya. Apakah Justin tahu tentang konspirasi ini?” Noor mnejawab, “aku tidak berpikir begitu.” Khorasa mengatakan kalau dirinya merasa Justin terlinat dalam semua ini, “sebab dia menyetujui pernikahan ini bahkan ketika dia tidak tertarik dengan agnisika. Cobalah untuk menemukan petunjuk dari Justin. Ini akan membantu aku dan Siamak.”

Dengan marah Bindu berteriak, “Raja Ji Raj!..” lalu dia menyerang patung raja Ji seolah-olah dia menyerang raja ji. Para prajurit hanya berdiri diam tak ada yang berani menegurnya. Ashok mendekat dan berkata, ” jika anda inginbertarung, maka bertarunglah denganku.” Bindu mengusir Ashok, “pergilah dari sini, kalau tidak aku bisa menyakitiku dalam marahku.” Ashok mengatakan kalau ibunya pernah berkata, “kemarahan adalah musuh terbesar seseorang. Dan jika untuk menenangkanmu, aku harus mati..aku siap untuk itu.” Ashok kemudian mengeluarkan pedangnya, dan pertarungan pun di mulai.  Sambil menangkis serangan Bindu Ashok berkata, ‘aku ingin anda mengeluarkan semua kemarahan anda, sehingga tidak akan melukai anda.” Bindu menlupakan emosinya dnegan serangan-serangan ke arah Ashok. Ashok selalu mencopba menangkis. Secara dari segi tenaga, dia kalah kuat dari bindu, maka satu serangan keras dari bindu membuat Ashok terjatuh. Bindu dengan cemas bertanya, “apakah kau terluka?” Ashok bangkit dan menjawab, “tidak begitu keras hingga melukai keinginanku.” Ashok kemudian menyerang Bindu dengan bertubi-tubi. Kali ini, Bindu yang terjatuh. Ashok panik dan bertanya, “apakah anda terluka?” Bindu menjawab, “tidak sampai melukai keinginanku!” Bindu kemudian bangkit dan sambil tertaa memeluk Ashok.

Siamak sedang dikamarnya bersama Justin. Siamak duduk di tepi ranjamg dan Justin berjongkok di depannya sambil memegang kedua tangan siamak. Noor berdiri di belakang Justin mengamati mereka berdua. Justin berkata, “kau seorang pejuang…” Siamak mengatakan kalau dirinya takut. Justin dengan sabar menasehari, ‘jangan takut dan persiapkan diri kita untuk mas depan. Kau tidak akan mendapatkan apapun kalau takut. Tapi kau harus kerja keraas dan membuat dirimu sendiri menjadi kuat.” Siamak tersenyum. Justin turut tersenyum dan menyuruh pergi bermain. Siamak lalu bernajak pergi. Noor memeluk Justin. Justin balas memeluknya sambil tertawa bahagia, “Noor…!” Keduanya berpelukan lama. Bindu di iringi Ashok berjalan menuju kamar Noor. Bindu menyuruh Ashok menunggu karena dia akan menemui Noor.  Di dalam kamar, Noor menanyai Justin, “aku tahu kau tahu tentang konspirasi ini sejak lama. Kenapa kau peri ke mandir?” Justin ingin mengelak, tapi Noor mengejarnya. Justin akhirnya berkata kalau dia pergi menemui Raja ji, “aku membuat dia mengeri agat tidak membawa-bawa nama kami. Semua yang aku ingin katakan adalah aku tidak terlibat dengan semua ini.” Noor memeluk Justin dan berkata kalau dirinya merasa damai sekarang.  Noor ingin agar Justin menghabiskan waktunya bersama Siamak, “hingga Siamak bisa menjadi seperi dirimu.” Bindu masuk dan sempat melihat Justin memeluk Noor. Justin cepat-cepat menjauh. Tapi Bindu sepertinya mencurigai sesuatu. Justin dengan gugup menyapa Bindu, “apakah anda sudah bicara dengan Siamak samrat? Dia ketakutan. AKu bicara denganya dan membuat ratu Noor mengerti juga. AKu akan poergi sekarang.” Bindu tidak menjawab, raut wajahnya terlihat sangsi. Siamak datang dan memeluk Bindu. Bindu mengelus kepala Siamak, semula dengan enggan tapi kemudian dengan penuh kasih sayang. Justin terlihat tidak suka  dan bergegas pergi dari sana.

Nikator mendatangi helena yang pura-pura tidak sadar bersama dengan seorang pelayan yang membaawa makanan. Nikator menyuruh pelayan itu meletakan makanan di meja dan meminta mereka pergi semua, “aku akan makan di sini saja.” Begitu semua pelayan pergi, Helena bangun dari pingsannya dan sangat senang melihat ada makanan. Nikator duduk disampingnya sambil berkata, ‘makanlah sebanyak yang kau inginkan karena ini bisa jadi makanan  terakhir kita.” Helena memberitahu Nikator kalau Justin sedang pergi menemui Raja Ji. Nikator mengingatkan kalau Aakramak mengawasi semua orang.

Bindu sedang bersama Ashol ketika prajurit memberitahu kalau  aakramak sudah menemukan raja ji. Bindu sangat marah sekaligus lega mendengar kabar itu, “jadi raja ji raj masih hidup…” Bindu menyuruh prajurit peri. Charu datang dan menatap Ashok dengan datar. Ahsok tahu dan pamit peri. Charu bertanya pada BIndu, “apakah kau menemukan Raja Ji raj? Anakmu telah beranjak dewasa dan dia sedang jatuh cinta pada seorang gadis, gadis itu adalah Ahenkara.” Bindu tertegun. Sushim datang dan berkata, “aku mememang mencintainya tapi aku lebih mencintai negeriku. Ahenkara bisa memberi kita petunjuk tentang keberadaan raja raj.”

Helena berkata pada Nikator, “jika tertangkap, maka kita semua akan lenyap. Kita harus menemukan Raja Raj dan membuatnya mengeri bahwa dia harus tetap diam…” Mereka mendengar langkah kaki orang datang. Helena segera pura-pura pingsan. Chanakya dan radhagupta sedang berjalan ditempat itu. Chanakya mengintip kedalam. DI amelihat nampan makanan dan Nikator yang sedang bicara sendiri pada helena. Chanakya menarik nafas, “jik araja ji raj tertangkap, maka dia akan segera sadar juga.”

Sushim meminta Bindusara agar memberi hukuman mati pada Ahenkara. Bindu kaget, “kenapa?” Sushim menjawab, “dia tahu tentang konspirasi ayahnya tapi tetap saja dia tidak mau mengatakan apa-apa untuk menentang ayahnya.” Bindu bertanya, “siapa yang akan menjadi saksi menentang nya untuk mengatakan kalau dia sengaja menyelamatkan ayahnya?” Sushim mengatakan kalau dirinya adalah saksinya, “ku siap memberikan peryataan yang menentangnya.” Charu menginggatkan Sushim, “tapi kau mencintainya.” SUshim menjawab dengan diplomatis, “kalau tentang negeriku, maka aku akan menyerahkan segalanya. Sebelum istana terbakar, dia memberitahuku bahwa ayahnya ingin balas dendam pada kita. Dia bahkan meminta aku untuk tidak mengatakan hal ini pada orang lain.” Bindu dengan curiga bertanya, “dan kau mengingkari janjinya?” Sushim menjawab kalau dia melakukan itu demi neherinya, “bisa jadi benar kalau Ahenkara terlibat dalam semua ini. Raja Ji bisa jadi tertangkap, tapi AHenkara akan menjadi berbahaya. Dia kan memiliki keinginan untuk membalas dendam di masa depan. jadi lebih baik memberinya hukuman mati.” Bindu berkat akalau dirinya tidak bisa memberikan hukuman mati, karena kesalahan ahenkara belum terbukti. Sushi tidak memaksa, “tidak apa kalau anda tidak mau menghukumnya tapi anda harus mengumumkan hukuman mati untuknya, dengan cara ini Raja Ji raj pasti akan mencoba untuk menemuinya dan kita bisa menangkapnya.” Bindu memikirkan kata-kata Sushim. Ashok yang juga mendengar apa yang di katakan Sushim berpikir, “sejak kapan orang egois ini mulai memikirkan tentanag negeri dan magadha? pasti ada sesuatu yang lebih dari itu. Aku akan bicara pada Ahenkara.” … Sinopsis Ashoka Samrat episode 107 by Mey Lest

__Posted on
July 14, 2015