Sinopsis Ashoka Samrat episode 114 by Sally Diandra

Sinopsis Ashoka Samrat episode 114 by Sally Diandra. Masih di koridor samping istana, Raja Jiraj bertemu dengan anaknya Ahenkara bersama Nicator, Ahenkara merasa risih ketika Nicator merangkul bahunya “Raja Jiraj, aku tahu kalau kamu sangat mengkhawatirkan anakmu, aku akan menjaganya, dia aman bersamaku, aku berjanji dan jika ada sesuatu yang terjadi padaku maka anak buahkulah yang akan memenuhi janji mereka” Raja Jiraj menatap Nicator tajam “Ahenkara, percayalah pada ayahmu ini, nak ,,, aku tidak akan membiarkan sesuatu terjadi pada dirimu” Ahenkara hanya bisa menatap ayahnya dengan perasaan sedih. Tak lama kemudian Raja Jiraj dibawa oleh para prajurit ke ruang pribadi Bindusara, begitu sampai di hadapan Bindusara, Raja Jiraj duduk berlutut di depan Bindusara “Apa yang ingin kamu katakan, Raja Jiraj ?”, “Setiap orang mempunyai permohonan terakhir meskipun dia itu seorang penghianat” Raja Jiraj nampak sedih “Apa yang kamu inginkan ?” ujar Bindusara geram “Anak perempuanku itu tidak bersalah, Samrat ,,, dia tidak tahu tentang konspirasi ini sama sekali, aku ingin kamu memaafkan dia” Raja Jiraj nampak menyesali perbuatannya “Kamu kehilangan permohonanmu yang terakhir karena aku tidak pernah memutuskan untuk menghukum dia, aku tahu dia itu tidak bersalah dan aku akan tetap menjaganya agar tetap aman, semua yang kamu lakukan itu tidak akan pernah menghantuinya, aku tidak akan membiarkan sesuatu yang buruk yang terjadi padanya, dia akan tinggal disini bersama keluargaku, ini akan menjadi pesan bagi semua orang yang bermimpi merenggut tahta dariku ! Ahenkara akan menghabiskan kehidupannya disini dan aku menerima tanggung jawab untuk membesarkannya dan memberikan dia segalanya !” ucapan Bindusara membuat Raja Jiraj sedikit lega “Aku tidak mampu berkata apa apa lagi, aku hanya bisa mengucapkan rasa terima kasihku” Raja Jiraj mengatupkan kedua tangannya didepan dada “Apakah ada lagi yang mau kamu katakan ?” Raja Jiraj terlihat sedikit tegang, Raja Jiraj seperti ingin mengatakan sesuatu tapi di urungkan niatnya, dari kejauhan Nicator mendengarkan pembicaraan mereka “Kalau begitu masukan lagi dia ke dalam penjara !” Raja Jiraj segera dibawa kembali ke penjara oleh para prajurit

Ashoka samrat coverNoor sedang berada didalam kamarnya sambil menangis, tak lama kemudian pelayannya yang bernama Sitara menemuinya sambil membawakan makanan dan berkata “Tenang, Maharani Noor ,,, aku bisa mengerti penderitaanmu tapi kamu harus mengontrol dirimu sendiri” Noor memandangi pelayanannya itu dari ujung kepala hingga ujung kaki “Aku ingin pakaianmu ini, para prajurit itu tidak akan menyadari kalau aku mengenakan pakaianmu” Sitara ketakutan “Jika ada seseorang yang mengenali kamu maka hal itu tidak hanya akan terjadi padamu tapi juga ayahmu akan membunuh aku, Maharani” Noor marah “Jika kamu tidak setuju denganku maka aku akan membunuhmu terlebih dulu sebelum ayahku !” Tak lama kemudian Noor sudah berganti pakaian menggunakan pakaian pelayan, Noor mengetuk pintu ketika pintu kamar terbuka oleh para prajurit “Biarkan dia keluar !” Noor menutupi wajahnya dengan buntalan baju baju kotor dan setelah aman, Noor segera berlalu dari sana

Di ruang pribadi para ratu, Subhrasi sedang berbincang dengan Charumitra “Sepertinya yang paling terpukul dengan semua ini adalah Siamak, dia sudah mulai takut dengan insiden api tersebut dan ini bukan hanya permasalahan Justin, dia itu tidak mau makan apapun !” Charumitra terlihat kesal dengan semua kejadian yang terjadi di istananya “Seorang anak itu hanya akan meniru ibunya, Maharani Noor telah membuat dia lemah, lihat Sushima, dia telah mengambil tanggung jawab sendiri, dia sangat sedih dan pergi mencari Samrat Bindusara” Charumitra berusaha membanggakan Sushima di depan Subhrasi, sementara pada saat itu Dharma mendengarkan pembicaraan mereka sambil membersihkan guci keramik “Siamak itu masih kecil, dia membutuhkan bimbingan dan meskipun begitu Maharani Noor juga membutuhkan pertolongan” Subhrasi mencoba membela Noor “Kita tidak bisa membuat mereka berjalan hanya dengan menggandeng tangan mereka, kita bisa menyuruh seorang pelayan yang bisa mengurusi Siamak” tepat pada saat itu ketika Dharma hendak berdiri tiba tiba saja tangannya menyenggol guci keramik yang baru saja di bersihkannya tadi hingga jatuh berkeping keping “Dimana konsentrasimu ? Hingga guci itu bisa jatuh ke lantai !” Charumitra langsung menegur Dharma dengan lantang, dari kejauhan Ashoka melihat ibu kandungnya dibentak bentak “Kamu pasti mendengarkan pembicaraan kami ! Aku tidak tahu bagaimana orang orang sinting itu menunjuk kamu ! Kamu selalu saja melakukan kesalahan ! Aku tidak tahu bagaimana Maharani Subhrasi menghadapi kamu ! Jika kamu jadi pelayanku maka aku akan melempar kamu keluar, aku akan memecat kamu !” saat itu dari kejauhan Ashoka berusaha mendekat dan membela ibunya namun Dharma melarangnya dengan menggelengkan kepalanya ke arah Ashoka dan menatapnya tajam, Charumitra dan Subhrasi tidak tahu kalau ada Ashoka di belakang mereka “Maharani Charumitra, sudahlah biarkan saja ! Jangan marah pada suatu hal yang sepele seperti ini” ujar Subhrasi kemudian mereka meninggalkan ruangan tersebut.

Sepeninggal kedua ratu itu, Dharma bergegas membersihkan pecahan guci keramik yang berserakan dilantai, Ashoka segera menghampiri ibunya dan berkata “Mengapa kamu mencegahku, ibu ? Dia telah membentakmu, ibu bilang padaku untuk tidak mendengarkan siapapun yang menghina kita” Dharma tersenyum menatap anaknya sambil memegang pecahan guci keramik “Ibu bilang padamu untuk bangkit berdiri tapi itu bukan berarti kamu harus bertarung dengan mereka, kamu akan menghina mereka karena Maharani Charumitra lebih dewasa daripada kamu dan dia adalah istrinya Samrat Bindusara, kamu seharusnya tidak keluar dari batasanmu”, “Baiklah kalau begitu tapi aku tidak akan membiarkan ibu melakukan perkerjaan ini” Ashoka tidak tega melihat kondisi ibunya “Tidak juga, pekerjaan ini sangat mudah, orang yang bekerja seperti ini adalah orang orang yang terpenting yang menjadi bagian suatu negara” Ashoka tertegun “Ibu ,,, ibu ini orang yang terbuat dari apa ? Dengan mudahnya ibu tersenyum setelah mendengarkan semua ini, aku akan menjadi seseorang, ibu ,,, dan ibu pasti akan dihargai nanti”

Secara diam diam, Noor menyelinap dan mengendap endap memasuki penjara istana, dari kejauhan Noor membidikkan anak panahnya untuk mematikan obor yang menyala disamping dinding, obor itupun padam, para prajurit kebingungan dan pergi meninggalkan tempat tersebut, Noor segera bersembunyi, setelah dirasa aman, Noor segera keluar dari tempat persembunyiannya dan bergegas menemui Justin di dalam penjara, saat itu Justin sedang berbaring di dipan yang lembab dan dingin, begitu melihat kedatangan Noor, Justin kaget seraya berkata “Noor, seharusnya kamu tidak kesini”, “Ini sangat penting, Justin ! Aku ingin tahu mengapa kamu menghukum aku dan anakmu ? Mengapa kamu mengakhiri hidup kami, Justin ? Aku tahu kamu tidak akan mungkin bisa melakukan ini semua, kamu bilang padaku bahwa kamu tidak terlibat dengan semua ini !” Noor langsung menangis begitu melihat kekasihnya di balik jeruji besi “Aku telah berbohong padamu, Noor ,,, aku telah melakukan ini semua” Noor tidak percaya “Jadi kamu menginginkan aku dan Siamak terbakar juga di dalam istana itu ? Katakan padaku, Justin ! Mengapa kamu meminta kami meninggalkan tempat itu ?” Justin terharu melihat Noor “Karena aku ingin menyelamatkan kalian berdua dari api itu” Noor kesal dan marah pada Justin “Mengapa kamu melakukan ini semua untuk perempuan itu ? Seorang perempuan yang tidak pernah menghargai kamu ? Yang tidak pernah mengerti dengan hubungan kita ? Yang telah siap melihat anaknya menderita ?” Justin segera menutup bibir Noor dengan tangannya seraya berkata

“Jika kamu mencintai aku maka lebih baik kamu diam, Noor” ujar Justin sambil memegang tangan kekasihnya itu “Kemarin ketika aku mencoba untuk membakar diriku sendiri, kamu begitu ketakutan, kamu tidak tega melihat tubuhku yang hangus dan sekarang kamu mengharapkan aku melihat kamu sekarat ?”, “Kamu harus melakukan hal ini demi aku dan Siamak” Noor semakin terluka dan kesal “Siamak telah menganggapmu sebagai gurunya, saat dia tahu kalau kamu ingin membunuhnya, dia sangat menderita tapi aku akan mengatakan padanya bahwa kamu tidaklah salah, kamu itu tidak bersalah”, “Jika kamu mencintai aku maka kamu harus menyetujui pendapatku, aku tidak pernah meminta apapun darimu, maka sebelum sekarat aku meminta satu permintaan terakhir darimu, Noor ,,, ini baik untuk kamu dan Siamak” Noor menatap nanar dengan derain urai mata “Kamu tidak seperti biasanya, aku akan mengatakan pada semua orang bahwa kamu ini tidak bersalah ! Aku akan menceritakan pada Samrat Bindusara juga !”, “Lalu ketika dia bertanya bagaimana kamu bisa begitu yakin ? Apakah kamu akan menceritakan padanya ? Apakah kamu mampu menceritakan tentang hubungan rahasia kita padanya ?”, “Iya ! Jika itu diperlukan aku akan menceritakan pada Samrat Bindusara tentang hal ini !” Justin menggelengkan kepalanya “Akan terjadi hal hal yang tidak diinginkan dengan menceritakan kebenaran yang ada, Noor ,,, Siamak akan dalam keadaan bahaya, dia akan disebut sebagai siapa oleh rakyatmu ? Apakah rakyatmu akan menerimanya sebagai Samrat ? Kamu harus tetap tutup mulut demi anak kita, berjanjilah padaku bahwa kamu tidak akan melakukan apapun untuk menyelamatkan aku, ini adalah permintaanku yang terakhir, penuhilah itu maka aku akan mati dengan damai, berjanjilah padaku, Noor” tangisan Noor semakin menjadi “Baiklah aku akan berjanji padamu” ujar Noor sambil menatap Justin untuk terakhir kalinya dan segera berlalu dari sana. Sepeninggal Noor, Justin berkata pada dirinya sendiri “Maafkan aku, Noor ,,, aku telah berjanji padamu untuk selalu bersama dirimu, aku tidak bisa memenuhinya sekarang, apa yang aku lakukan saat ini demi kamu dan anakku, aku tidak ingin anakku hidup seperti aku, aku tidak ingin anakku tidak bisa memenuhi keinginan ibunya seperti aku” ujar Justin sedih

Di kamar Charumitra, Charumitra sedang membuat ramuan racun “Sushima, aku telah membuat ramuan beracun demi kamu, rasanya lebih baik mati daripada mendengarkan kalau kamu selalu kalah dari Ashoka” Sushima kesal melihat tindakan ibunya “Apa yang bisa aku lakukan kalau dia bisa menemui ayah terlebih dahulu sebelum aku ?”, “Kematian Justin adalah suatu perkara yang besar, jika kamu punya pemikiran maka kamu akan mengambil kesempatan dari situasi ini, aku akan melakukannya tapi aku tidak ingin terlibat dengan ini semua karena semua orang sedang di curigai saat ini” Sushima mencoba mencerna kata kata ibunya “Jadi ini berarti ibu tidak ingin terlibat didalamnya, lalu ibu menginginkan aku yang melakukan itu ?”, “Kamu itu masih anak anak, kamu bisa melakukan apapun !” tepat pada saat itu perdana menteri Khalatak datang menemui mereka dan berkata “Aku telah memikirkan apa yang seharusnya pangeran Sushima lakukan, kita akan melakukan sesuatu bahwa pangeran Sushima akan memiliki keunggulan atas Chanakya” Sushima kaget setengah mati “Apa ?!”, “Kita akan membuat pangeran Sushima menjadi seorang Brahma yang mendukungmu, kita akan mempengaruhi keputusan Samrat Bindusara dengan hal itu, banyak para Brahma yang berfikir bahwa Chanakya tidak pada jalur yang tepat pada bidang keagamaan, sementara yang lain melihatnya sebagai orang kepercayaan Samrat dan menghargainya, sekarang aku akan mengambil keuntungan dari dua pemikiran yang berbeda, aku akan mengangkat topik ini pada pengumuman putra mahkota nanti” ujar Khalatak “Jadi para Brahmana akan memaksa Samrat Bindusara untuk mengumumkan namaku” Sushima merasa senang “Kamu tidak boleh menerima permintaan Samrat Bindusara” Sushima heran “Mengapa ?”, “Samrat Bindusara mempunyai kecurigaan yang serius pada semua orang yang menginginkan tahtanya, maka pada saat ini pangeran Sushima akan mengatakan bahwa tidak membutuhkan tahta tersebut tapi lebih membutuhkan kasih sayang Samrat Bindusara, pangeran Sushima harus mendapatkan kasih sayang Samrat Bindusara terlebih dulu” Charumitra terlihat puas “Bagus itu, perdana menteri ! Kamu berfikir seperti Chanakya !” Khalatak terlihat senang mendengarnya… Sinopsis Ashoka Samrat episode 115 by Sally Diandra.

__Posted on
July 10, 2015