Sinopsis Ashoka Samrat episode 122 by Sally Diandra

Sinopsis Ashoka Samrat episode 122 by Sally Diandra. Ashoka masih bersitegang dengan Sushima, mereka saling beradu mata satu sama lain, Ashoka berusaha menyelamat Ahenkara dari cengkraman Sushima “Jika kamu tidak bisa memenuhi janji ayahmu sendiri maka aku yang akan memenuhinya” ujar Ashoka dengan tatapan matanya yang tajam ke arah Sushima sambil memegang dada Sushima, Sushima tidak suka melihat perlakuan Ashoka padanya “Beraninya kamu menghentikan aku ? Siapa kamu ini ?” ejek Sushima dengan tatapan matanya yang tidak kalah tajam ke arah Ashoka, sementara Ahenkara malah ketakutan dan sedih melihat ketegangan diantara mereka “Aku adalah seseorang yang diberikan tanggung jawab oleh Samrat Bindusara untuk melindungi putri Ahenkara”, “Kita lihat saja nanti !” ujar Sushima kemudian berlalu meninggalkan mereka berdua, Ahenkara segera menghampiri Ashoka dan berterima kasih padanya “Aku akan melindungi kamu tuan putri karena Samrat Bindusara telah meminta aku untuk menjaga kamu, sekarang lebih baik kamu istirahat saja” ujar Ashoka kemudian mulai berjaga jaga di depan pintu kamar Ahenkara, sementara Ahenkara menuruti anjuran Ashoka, Ahenkara duduk di tepi ranjang dengan perasaan gelisah.

Di luar benteng yang melindungi Magadha, Nirhaka sedang berada di atas kudanya bersama pasukan perangnya “Yang Mulia Ratu, kita berada beberapa kilometer dari Magadha dan kita telah mengepung mereka dari berbagai sudut” ujar salah satu kaki tangan Nirhaka, Nirhaka hanya diam sambil memandang ke sekeliling di depannya.

Ashoka samrat coverSalah satu prajurit Nirhaka ingin menemui Bindusara di istana Magadha sambil melambaikan bendera putih, kemudian para prajurit Bindusara membawanya ke hadapan Bindusara “Samrat Bindusara, saya membawa sebuah pesan untukmu dari Yang Mulia Ratu Nirhaka, boleh saya membacanya ?” Bindusara segera mengijinkan “Ketika semua yang kamu miliki terenggut dari sisimu maka yang tersisa hanyalah sebuah mimpi akan suatu hal dan aku mempunyai mimpi untuk membalas dendam pada rakyatmu ! Kami akan mati dalam pertarungan tapi kami tidak akan menyerahkan diri kami padamu, kamu tidak bisa berbuat banyak sekarang karena pasukan kami telah memasuki juga Patliputra” Bindusara mendengarkan dengan seksama bersama orang orang kepercayaannya “Kamu telah memenggal Raja kami dan ingin mengirimkan kepalanya agar kami bisa melakukan upacara pemakamannya yang terakhir ? Kami akan melakukan upacara pemakamannya yang terakhir setelah membumi hanguskan seluruh Magadha, kami telah meninggalkan rumah kami dengan kehidupan yang ada pada genggaman tangan kami, kami tidak takut dengan perang apapun ! Kami telah siap untuk membalaskan dendam kami, kami ingin seluruh Magadha berhadapan dengan kami di arena medan perang dan jika kamu ingin melihat keberanian kami maka lihatlah ini !” tiba tiba prajurit yang membawa pesan dari Nirhaka itu menggorok lehernya sendiri dengan belati yang dibawanya dan tewas seketika itu juga di hadapan Bindusara, Bindusara dan anak buahnya terperangah melihat kejadian yang baru saja terjadi di depan mereka semua, Bindusara merasa geram dan segera mengumumkan persiapan untuk perang

Dharma sedang ngobrol bersama Subhrasi “Apakah tidak ada cara lain yang bisa ditempuh untuk menyelesaikan permasalahan ini dengan cara kedamaian ?” Subhrasi merasa heran dengan pertanyaan Dharma “Ujjain telah menantang kita untuk perang, bagaimana kita bisa duduk berdiam diri ? Kita tidak bisa memikirkan cara lainnya selain perang, Shevika” ujar Subhrasi

Sementara itu Charumitra sedang berkumpul dengan anaknya dan perdana menteri Khalatak “Akhirnya perang terjadi juga, ini baru berita bagus ! Semua permasalahan akan terselesaikan dengan satu kali hentakan saja” ujar Charumitra bangga “Maharani, kamu dan pangeran Sushima tidak akan mendapatkan keuntungan apa apa dengan terjadinya perang ini, kita harus bisa memanfaatkan peluang ini” ujar perdana menteri Khalatak

Sedangakan Khurasan saat itu sedang berada di kamar Helena bersama dengan Helena dan Nicator “Kita tidak mempunyai cara lain selain melakukan perang ini” ujar Khurasan “Aku merasa sepertinya aku akan terjebak dalam hal ini lebih jauh dan lebih jauh lagi” ujar Nicator cemas “Aku bisa mengerti bagaimana ayah merasa terhina oleh Bindusara, aku harus bisa menghadapinya, kita semua ini adalah orang asing bagi mereka dan akan tetap seperti itu selamanya, mereka tidak pernah menerima kita, jadi lebih baik kalau kita bersama sama, kita bersama sama dalam satu kesatuan dan membuat Siamak menjadi seorang Samrat ! Kita harus melakukan semuanya untuk membuat Siamak mendapatkan apa yang pantas dia dapatkan !” ujar Helena dingin

Di ruang pribadi Bindusara, Bindusara sedang ngobrol dengan Chanakya “Dia telah menantang aku maka aku harus menjawab tantangannya ! Kita akan melakukan perang !” Chanakya mendengarkan dengan seksama dan berkata “Itu akan membuat situasi lebih parah lagi, Samrat ,,, empat negara telah memberikan bantuan mereka pada Ujjain meskipun setelah kematian Raja Jiraj, Raja mereka telah mati, mereka mempunyai keberanian untuk mengumumkan perang melawan kita”, “Mereka telah memasuki wilayah kita seperti pengecut, mereka tidak datang dari depan tapi menyerang kita dari belakang, Chanakya ,,, aku akan menjawab tantangan para pengecut ini !” ujar Bindusara kesal

Saat itu Ashoka sedang berajaga jaga di depan pintu kamar Ahenkara, sementara Ahenkara hanya duduk di tepi ranjangnya “Ashoka, lebih baik kamu istirahat saja dulu” pinta Ahenkara yang melihat Ashoka hanya berjalan mondar mandir didepan pintu kamarnya “Samrat Bindusara telah memberikan aku tugas dan aku harus bisa memenuhinya, tuan putri” ujar Ashoka sambil berbalik kearah Ahenkara tepat pada saat itu tanpa Ashoka sadari Sushima dan para prajuritnya ada dibelakang Ashoka dan hendak menyerang Ashoka, Ahenkara langsung menjerit begitu melihat Sushima “Ashooooka, awas !” Ashoka segera menghalau serangan mereka dan berbalik ke depan dan dilihatnya Sushima berdiri di depannya bersama beberapa prajuritnya, Sushima memegang tangan Ashoka

Sementara itu di kamar Helena, Helena, Khurasan dan Nicator masih berdiskusi tentang bagaimana caranya mengalahkan Bindiusara “Bagaimana caranya menghancurkan Bindusara ?”, “Kita akan menggunakan kelemahannya dan itu adalah Dharma !” tiba tiba Noor muncul didepan mereka dan memberikan solusi tersebut pada ketiga sekutunya ini

Di kamar Ahenkara, Sushima segera melempar tubuh Ashoka hingga jatuh ke lantai dan menyuruh para prajuritnya untuk menangkap Ahenkara, Ashoka segera bangun dan melempar para prajurit tersebut dengan sekuat tenaganya, Ahenkara sangat ketakutan, Ahenkara bersembunyi di tepi ranjangnya sambil berjongkok, Ashoka mulai menghajar para prajurit tersebut satu per satu, Sushima juga ikut menyerang Ashoka dengan pedangnya, Ashoka juga tidak tinggal diam, Ashoka segera mengangkat pedang kebanggaannya dari Raja Chandragupta untuk mempertahankan diri, tepat pada saat itu Charumitra menghampiri mereka dan melihat mereka berdua yang sedang bersitegang “Apa yang terjadi disini ?” ujar Charumitra kesal ketika melihat anaknya bertarung dengan Ashoka “Ashoka, kamu ini adalah pengawal Samrat Bindusara dan sekarang ini berani beraninya kamu mengangkat pedangmu didepan anaknya ?” Ashoka hanya diam saja tidak menjawab ucapan Charumitra “Dia ini berusaha melindungi anak penghianat itu, ibu” ujar Sushima senang karena mendapat dukungan dari ibunya “Aku hanya memenuhi janji Samrat Bindusara, dia telah meminta aku untuk menjaga putri Ahenkara” mendengar ucapan Ashoka, Charumitra segera menggeret lengan Sushima dan menggandengnya keluar kamar Ahenkara dengan perasaan kesal, Ashoka melihat kepergian mereka dan beralih melihat ke Ahenkara untuk memastikan dia tidak apa apa.

Helena masih bersama sekutunya yang masih membahas caranya menyingkirkan Bindusara dan mengambil tahta kerajaan “Kita akan menjebak Bindusara dengan sebuah cara yang mengharuskannya untuk menjadikan Siamak menjadi seorang Raja !” ujar Helena marah “Kita akan menjebak Bindusara dengan kelemahannya yaitu Dharma” ujar Noor kesal “Siapa itu Dharma ?” Helena dan Nicator merasa heran ada nama lain yang tidak di ketahuinya selama ini “Dharma adalah istri Bindusara yang ke empat, beberapa tahun yang lalu ketika dia di serang, dia bertemu dengan Dharma, dia jatuh cinta padanya dan menikahinya” ujar Noor sengit “Bindusara meminta aku untuk menjemputnya dan membawanya ke istana tapi aku mengatakan padanya bahwa Dharma telah meninggal tapi sekarang dia telah hidup kembali !” Khurasan juga memberikan penjelasannya ke Helena dan Nicator “Bagaimana kamu bisa tahu kalau Dharma masih hidup ?” Helena semakin penasaran “Dharma ada di dalam istana ini !” sela Noor “Bindusara telah kehilangan kepercayaannya padaku gara gara dia !” ujar Khurasan geram “Jika dia ada di sini maka kenapa dia tidak menemui Bindusara ?”, “Aku juga mempunyai pemikiran yang sama dengan kamu, ibu suri Helena” ujar Noor lagi “Aku pernah melihatnya di sini !” ujar Khurasan “Kalau begitu, kita harus menemukannya ! Kita harus melakukan sesuatu dan menjebak Bindusara di dalamnya ! Dan Bindusara akan membunuh Dharma dengan tangannya sendiri seperti aku membunuh anakku” ujar Helena geram “Mengapa Bindusara harus membunuhnya ?” sela Noor “Kita harus merencanakannya dengan matang, kita akan mempermainkan Bindusara” ujar Helena penuh semangat “Khurasan akan berpura pura membenci Yunani karena Justin adalah seorang Yunani dan aku akan pura pura bahwa musuh itu bisa siapa saja !” ujar Helena lagi

Di kamar Ahenkara, Ahenkara merasa cemas dengan keadaan Ashoka “Ashoka, kenapa kamu menyelamatkan aku ?”, “Karena aku telah berjanji padamu bahwa aku akan melindungi kamu dan juga akan membuat kamu bertemu dengan ibu kandungmu, aku tidak bisa menipu temanku” Ahenkara merasa heran “Kapan kita berdua berteman ?” pipi Ashoka memerah dan malu mendengar pertanyaan Ahenkara seraya berkata “Aku tahu kalau kamu adalah seorang putri raja dan aku hanyalah seorang rakyat biasa” Ashoka berusaha menjaga sikapnya “Mempunyai teman seperti kamu adalah suatu kebanggaan dan kehormatan, aku merasa kalau kamu tidak akan memaafkan aku atas semua perlakuan buruk yang telah aku lakukan ke kamu dulu” ujar Ahenkara sedih “Iya aku dulu juga merasa bahwa kamu itu orangnya egois seperti pangeran Sushima”, “Lalu bagaimana sekarang ?” Ahenkara segera memotong ucapan Ashoka “Kamu ternyata berbeda dari gadis gadis yang lain, kamu memiliki keberanian untuk melawan keluargamu sendiri yang telah bertindak salah !” Ahenkara segera memegang tangan Ashoka dan menancapkan kukunya di telapak tangan Ashoka hingga tangan Ashoka berdarah, Ashoka menjerit kesakitan “Aduuuh apa apaan ini ?” kemudian Ahenkara menancapkan sendiri kukunya ke dalam telapak tangannya sendiri hingga berdarah “Apa yang kamu lakukan, tuan putri ?” Ashoka merasa heran “Ini adalah luka kecil dan menakutkan yang akan membuat aku terus mengingat bahwa kamu telah menyelamatkan hidupku dan bila saatnya tiba nanti maka aku akan melakukan hal yang sama untuk kamu juga” Ashoka tersenyum mendengar ucapan Ahenkara “Hanya seorang putri raja yang lincah saja yang bisa memberikan janji seperti itu” mereka berdua pun saling tersenyum satu sama lain. … Sinopsis Ashoka Samrat episode 122 by Sally Diandra.

__Posted on
July 26, 2015