Sinopsis Ashoka Samrat episode 71 by Jonathan bay.

Sinopsis Ashoka Samrat episode 71 by Jonathan bay. Noor menanyai Dharma dengan nada setengah menuduh, “bagaimana kau bisa tahu cara menyembuhkan ubtaan ini? Kau pasti yang telah membuatnya jadi seperti itu..!” Dharma terlihat bingung dan ketakutan. Subhrasi yang ramah berteriak marah, “Ratu Noor, mencurigai Siwika ku sama dengan mencurigai aku. Dan aku tidak akan menanggungnya. kalau dia punya niat untuk melukai puteri Agnisika, kenapa  dia mengobatinya?” Agni menimpali, “aku meragukan dirimu ratu Noor, kau sengaja ingin menghancurkan kulitku sebelum pernikahan..” Noor berteiak marah, “cukup! Aku tahu apa yang terjadi tidak baik, tapi bukan berarti kau bisa mencurigaiku. Ingat satu hal, aku adalah istri yang mulia Bindusara dan aku tidak perlu bersikap murahan. Aku telah memanggil pelayan khusus untuk membuat ubtan ini..” Helena bertanya, “mana pelayan itu?” Seorang pelayan yang semula mengintip secara sembuyi-sembunyi dari balik pilar, mencoba melarikan diri. Noor menunjuk pelayan itu, “dia orangnya!” Pengawal segera menangkap pelayan itu dan membawanya ke hadapan para ratu. Helena berkata, “bawa pelayan itu ke hadapan samrat, nanti dia akan mengatakan mengapa dia melakukan ini dan siapa yang menyuruhnya.”

Ashok berlari menuju ke garis finish sambil menggendong Siamak di punggungnya. Siamak meminta Ashok untuk beristirahat sebentar. Tapi Ashok menolak, “tidak. Kita tidak boleh berhenti sekarang, kalau tidak sinar matahari akan pergi. Kita tidak boleh membiarkan Sushim menang. Kita akan menang dari Sushim dengan begitu janjimu pada ibumu akan terpenuhi. Dan janjiku pada tanah ini juga terpenui.” Siamak membatin, “satu sisi kakakku yang demi kemenangan tidak berhenti menyeranhku, di sisi lain Ashok yang memikirkan aku lebih dari dirinya sendiri.”

Sinopsis Ashoka SamratPara achari menatap Ashok yang menggendaong Siamak dari kejauhan. Achari Kita berkata, “kita tidak boleh membiarkan Siamak untuk bergerak seperti ini. Lukanya akan bertambah parah. Apa yang akan kita katakan pada Samrat nanti?” Aakramak menyahut, “siswa memiliki hak untuk meninggalkan dan meneruskan kompetisi, kita tidak boleh memaksa mereka untuk mengundurkan diri.” Achari Shrist berkata, “kompetisi ini adalah tentang kecerdasan dan kerja ketas, ini adalah perjuangan melawan rintangan untuk menjadi pemenang dan apa yang di lakukan olehAshok dan Siamak dapat di jadikan suri tauladan.”

Manager tempat hiburan sedang istirahat sambil rebahan di kursi malasnya. Seorang wanita yang adalah penghibur dia tempat itu memberitahu si manager kalau kamerin ada orang cebol datang padanya, “dia sepert i orang baru di sini.” manager bar yang meruapakan mata-mata Chanakya bertanya, “siapa namanya?” Si penari bali bertanya, “namanya? dia tidak mengatakan siapa namanya. Dia pergi begitu saja.” Manager bar meminta penari itu mengirim laki-laki cebol itu padanya kalau dia datang lagi ke bar mereka.

Khuramir pergi ke pasar. Dia teringat perintah Helena yang menyuruhnya agar membiarkan saja jika orang-orang Chanakya menangkapnya. Khuramir tidak tahu apa alasan Helena, tapi dia berjanji akan membebaskan Khuramir begitu mereka menangkapnya.

Manager bar menemui Chanakya dan memberitahunya tentang Khuramir yang datang ke bar. Chanakya berkata, “ini aneh, bagaimana mungkin dia keluar di tempat terbuka kalau selama ini dia bersembunyi.” Manager bertanya apa yang harus dia lakukan kalau Khuramir datang lagi? Chanakya memberikan ramuan dalam botol kecil pada manager bara sambil berpesan, “buatlah dia meminum ramuan ini, dia akan menjadi tidak sadar. lalu panggil aku!”

Ashok masih berlari sambil menggendaong Sianak. Siamak teringat bagaimana Noor menyuruhnya menang apapun caranya. Siamak membatin, “apa masalah nya? Satu sisi harapan ibuku dan di sisi lain keksusahan temanku. Tidak..aku tidak boleh melakukan ini pada Ashoka. Karena aku dia akan kehilangan kesempatan untuk menang dan aku tidak bisa membiarkan hal itu terjadi.” Sianak berteriak. Ashik berhenti dan mendudukan Siamak dibawah sebuah pohon. Siamak mengeluh kalau kakinya sangat sakit. Ashok lalu memijati kaki Siamak. Dengans edih menatap Ashoka dan mengatakan kalau dirinya butuh air. Ashok berkata kalau dirinya akan membawakn Siamak air. Ashok berbalik peri. Tapi belum jauh, dia memdengar Siamak meniup pluitnya dan mengumumkan kalau dirinya mengundurkan diri. Ashok dengan kecewa melarang, “tidak!” Tapi terlambat. Susim juga mendengar suara pluit Siamak. jeet mengucapkan selamat pada Sushim karena kepergian Siamak, “kini Siamak keluar juga. Kau akan memenangkan kompetisi.

Ashok dengan sedih bertanya pada Siamak, “kenapa kau lakukan itu? Tidak percayakah kau padaku?” Siamak menjawab, “aku percaya padaku, karena itu aku melakkan ini. Satu sisi kakaku, dia tidak melakukan apapun untukku, Kau membuatku belajar tentang persahabatan dan kemanusiaan. Lalu bagaimana aku bisa begitu egois? Aku tidak akan dapat mengalahkan Sushim dnegan kondisi seperti ini. Ak ingin kau yang menang. AKu tidak ingin pedang Chandragupta berada di tangan seseorang seperti Sushim. Hany akau yang bis amengalahkannya. Kau harus memebuhi janjumu pada negeri ini. Berjanjilah kau akan mengalahkan Sushim!” Ashok menjadi sangat emosional. Dia memeluk Siamak. Keduanya saling bertangisan. Ashok berkata, “aku akan mengalahkan Sushim, Aku janji!” Para achari menghampiri mereka. Seorang prajurit datang untuk membawa Siamak peri. Ashok membantu siamak berdiri. Siamak menunjukan pluit di tanganya dan berkata, “maafkan aku, teman. Aku mengambil pluit mu, agar kau tidak bisa mengundurkan diri dari kompetisi. Harapanku ada bersamamu.” Ashok mengangguk, “tentu pangeran Siamak, ketika kita bertemu, aku akan memiliki pedang itu di tanganku.” Para achari terharu melihat apa yang terjadi diantara kedua teman baik itu. Ashok kemudian segera berlari, melanjutkan kompetisi.

Ashok terus berlari tanpa kenal lelah. Seorang peserta dari kelompok Sushim terjatuh lalu meniup pluitnya. Ashok tidak memperdulikannya. Ashok juga menyalip SUbaho yangterkejut menlihat Ashok. Begitu pula Dnada yang terperangkap di dalam jaring berteriak memanggil Ashok agar membantunya. Tapi Ashok tidak juga berhenti membantunya. Ashok terus fokus pada tujuannya. Danda dengan putus asa akhirnya meniup pluitnya. Sushim yang berlari beriringan dengan Jeet juga mendengar pluit. Jeet menghentikan larinya. Dia berkata pada SUshim, “kenapa semua orang keluar dari kompetisi?” Sedang mereka berbincang-bincang, Ashok muncul dari kejauhan. Sushim dan Jeet terkejut. Sushim meminta Jeet mencegat Ashok apapun caranya, “kelak aku akan menjadikan kau orang terkaya di Magadha kalau aku jadi samrat.” Jeet mengangguk, “pergila dan jangan khawatir..!” Sushim menyerigai dan segera melanjutkan larinya. Jeet menunggu Ashok melewatinya.

DI pengadilan patliputra, pelayan di bawa ke hadapan Samrat Bindusara. Bindu menanyai pelayan itu, “siapa yang menyuruhmu melakukan ini?” Helena meminta pelayan itu menyebutkan nama orang yang menyuruhnya. Pelayan itu menatap Noor, Justin juga menatap Noor. Pelayan kemudian menyebut nama Kalinga. Semua orang terkejut, Bindu bertanya, “Kalinga? Pelayan tersenyum pada Noor. Justin mengetahui nya. Noor dengan wajah penuh kemenangan berkata, ‘sudah terbukti kalau aku tidak terlibat. Tapi aku telah di permalukan.” Bindu menenangkan Noor, “tidak ada yang meragukan dirimu, Ratu Noor.” lalu Bindu menanyai Pelayan, “apa yang di perintahkan padamu?” Pelayan menjawab kalau dia di perintahkan untuk menyakiti Agnisika sehingga pernikahannya dengan Justin agagal dan hubungan Magadha dengan Ujjain menjadi renggang lagi. Bindu memberi pelayan itu hukuman seumur hidup. Prajurit kemudian membawa pelayan itu peri.

Perdana menteri berjanji akan menyelidiki kasus itu dan Khorasan juga berkata kalau dirinya akan memperketat keamanan istana Magadha. Bindu berkata, “musuh dapat memanfaatkan pernikahan ini adalah masalah keamanan.” Bindu kemudian bertanya pada Raja ji bagaimana keadaan Agni. Raja Ji menjawab kalau dia merasa berterimakasih pada pelayan yang bertindak pada waktu yang tepat untuk menyelamatkan Agnisika dengan mengoleskan obatnya. Bindu meminta pelayan memanggil Dharma, “aku akan memberinya hadiah.” Subhrasi menjawab kalau Dharma sedang membawa Agnisika ke klinik. Bindu menyuruh Subhrasi memberinya hadiah atas nama dirinya, ‘dan katakan kalau aku berterima kasih padanya.”

Ashok sedang berlari ketika Jeet menghadang jalannya smabil memegang pedang di tangan. matahari hampir tenggelam. jeet berkata, “hanya Sushim yang punya hak untuk menang.” Ashok menjawab, kompetisi di menangkan berdasarkan kemampuan..” Jeet berkata kalau Sushim punya kemampuan. Ashok menjawab, “kalau dia punya kemampuan, maka dia akan di sini dan orangyang mengorbankan temannya untuk menang bukanlah seorang teman. kalau kau percaya Sushim punya kemampuan, meyingkirlah dari jalanku.” Tapi Ahsok kemudian meralat kata-katanya, “bagaimana aku bisa lupa kalau kau temannya Sushim, … pasti akan curang..juga!” Jeet dengan kesal berkata, “akan ku katakan siapa yang bodoh..” Jeet menyerang Ashok dengan pedangnya. tapi Ashok bergerak dan menghindar dengan sangat lincah. Bahkan dengan sekali serang, Ashok berhasil menjatuhkan Jeet ke tanah. Ashok menduduki perut Jeet sambil mencengkeran lehernya, “kau menyerah atau tidak?” Jeet meniup pluitnya. Ashok bergegas berdiri dari tubuh Jeet dan meneruskan larinya….Sinopsis Ashoka Samrat episode 72 by Jonathan bay.

__Posted on
July 9, 2015