Sinopsis Ashoka Samrat episode 159 by Sally Diandra

Sinopsis Ashoka Samrat episode 159 by Sally Diandra.  Masih di ruang sidang kerajaan Magadha, Chanakya masih menjelaskan tentang cerita yang sebenarnya tentang dan Ashoka pada semua orang hadir di ruang sidang itu “Ya, aku tahu kalau dia itu ibunya Ashoka, seseorang tahu kalau Ashoka dan Dharma saling berhubungan, dia mencoba untuk menyerang Dharma dan ketika semua orang termasuk aku berfikir kalau ibunya Ashoka, Dewi Dharma telah meninggal, saat itu Ashoka tidak ada disini tapi aku ingin memberikan perlakuan pemakaman kerajaan yang terbaik maka aku meminta Samrat Bindusara untuk melakukan upacara pemakaman terakhir” ujar Chanakya “Ketika Ashoka mengatakan padaku tentang ibunya, aku memang selalu merasa kalau Dharma itu sangat mirip dengan ibunya Ashoka” sela Bindusara “Aku sangat sedih ketika tahu ibuku telah meninggal tapi Samrat Bindusara mendukungku pada waktu itu dan kami berdua menjadi semakin dekat” timpal Ashoka “Dan setelah aku tahu kalau panglima Khurasan yang berada di balik semua konspirasi ini, dengan usahanya yang mencoba membunuh Dewi Dharma 14 tahun yang lalu, maka aku tahu kalau Dewi Dharma itu masih hidup, aku menyembunyikan dia agar dia tetap aman, dia ingin tetap dekat dengan Ashoka maka aku membawanya ke istana ini dan menunjuknya sebagai pelayan Ratu Subhrasi yang bernama Shevika, dia telah berada disini selama waktu itu” jelas Chanakya panjang lebar

“Ratu Dharma, kalau aku tahu tentang kamu sebelumnya maka aku tidak akan memerintahkan kamu sebagai seorang pelayan, kamu telah merawat Drupata seperti layaknya seorang ibu, aku minta maaf karena aku tidak mengenali kamu” suara Subhrasi mulai terdengar “Aku seharusnya yang meminta maaf, Ratu Subhrasi ,,, karena aku menyembunyikan kebenarannya dari kamu” timpal Dharma “Jadi jelas semua sekarang kalau Ratu Dharma dan Pangeran Ashoka telah menyembunyikan identitas mereka karena kehidupan mereka dalam bahaya, tapi bagaimana Maharani Niharika tahu tentang Ratu Dharma ?” kali ini perdana menteri Khalatak juga ikut buka suara “Panglima Khurasan yang bertanggung jawab soal itu juga, pada hari perayaan Vat Savitri, saat itu Samrat Bindusara melihat Dewi Dharma dan panglima Khurasan tahu tentang hal ini, oleh sebab itu dia merasa ketakutan jika kebenaran tentang dirinya terungkap ketika dia mencoba untuk membunuh Dewi Dharma, maka dengan begitu dirinya akan berakhir, oleh karena itu dia ingin membunuh Dewi Dharma, dia fikir jika dia membunuh seorang pengkhianat Magadha maka dia akan mendapatkan penghargaan maka dia menggunakan Maharani Niharika untuk menunjukkan Dewi Dharma adalah seorang pengkhianat” ujar Chanakya lagi “Tapi Maharani Niharika memberikan bukti bukti yang melawan Ratu Dharma” sela Subhrasi “Bukti pertama adalah gelang Dewi Dharma yang ditemukan di istana yang terbakar Ashoka samrat coverkemarin, itu karena panglima Khurasan menguntitnya di belakang dan ketika Dewi Dharma berlari dari sana gelang itu terjatuh, kemudian bukti kedua yang melawannya adalah Dewi Dharma membunuh pembantu Maharani Charumitra, itu semua tidak benar karena pada saat itu Dewi Dharma sedang bersama denganku di desa Vann, bukti ketiga bahwa Dewi Dharma tinggal di istana ini dan merencanakan untuk menentang keluarga kerajaan, dia memang ada disini tapi panglima Khurasan selalu menguntitnya, dia ada disini karena aku fikir ini adalah tempat teraman, anak buah panglima Khurasan berusaha untuk membunuhnya beberapa kali, pangeran Siamak bahkan pernah melihat anak buah kakeknya mengejar ngejar Dewi Dharma juga” semua orang semakin tegang ketika Chanakya membeberkan semuanya secara detail, termasuk Bindusara juga tertegun ketika tahu kalau Siamak pernah menyelamatkan Dharma

“Ya, betul ! Aku memang pernah melihat pelayan kakek mencoba untuk menangkap seorang perempuan tapi aku menyelamatkannya” sela Siamak, Dharma dan Ashoka tersenyum ke arah Siamak yang jujur mengatakan hal ini “Jika kamu tahu semuanya, lalu kenapa kamu tidak menceritakan semuanya pada kami sebelumnya ?” timpal Sushima kesal “Itu karena aku tidak mempunyai bukti yang bisa menentang panglima Khurasan ! Aku ingin menunjukkan tabiat aslinya di depan Samrat Bindusara secara langsung !” Khurasan tertunduk lesu “Sebenarnya Ashoka itu tidak tahu tentang kenyataan yang sebenarnya tentang Dewi Dharma, ketika dia pergi ke desa Champanagri, disana dia baru tahu tentang kenyataan yang sebenarnya tentang dirinya sendiri dan Dewi Dharma, ketika dia pulang ke istana, Ashoka mencoba untuk menceritakan semuanya pada Samrat Bindusara tapi aku mencegahnya karena kami belum mempunyai bukti apapun untuk membuktikan kalau Dewi Dharma itu tidak bersalah, kemudian kami merencanakan sebuah jebakan untuk panglima Khurasan, Ashoka pura pura menjadi juru bicara yang baik untuk panglima Khurasan dan dia akan membuat panglima Khurasan bertemu dengan Dewi Dharma, kami membiarkan panglima Khurasan mengejar Dewi Dharma, kemudian tepat pada hari ulang tahun Samrat Bindusara, panglima Khurasan akhirnya bertemu langsung dengan Dewi Dharma, dia mencoba untuk membunuh Dewi Dharma dan Ashoka karena dia tahu kenyataan yang sebenarnya tentang Ashoka, saat itu Samrat Bindusara datang tepat pada waktunya, panglima Khurasan berusaha untuk membunuh mereka bertiga tapi Samrat Bindusara berhasil menangkapnya” semua orang yang hadir di ruang sidang itu nampak terkejut mendengar semua cerita ini “Ibuku telah menipu aku rupanya, mengapa dia melakukan ini ? Dimana dia ?” Ahenkara mulai bertanya tanya tentang keberadaan ibunya “Aku tidak ingin melakukan ini semua tapi ibumu telah menyerang aku dan untuk menyelamatkan Ashoka, akhirnya aku membunuh dia” Ahenkara sangat terkejut mendengar penuturan Bindusara “Ibu tidak bisa meninggalkan aku dengan cara seperti ini” Ahenkara mulai menangis, Ashoka juga sangat terharu dan menangis, kemudian Charumitra menyuruh pelayannya untuk membawa Ahenkara keluar dari ruang sidang, Ahenkara akhirnya keluar dengan pelayan tersebut

“Hari ini apapun yang terjadi dan semua yang Chanakya ceritakan segalanya itu adalah benar, setelah semua kenyataan yang sebenarnya telah jelas, aku tidak mempunyai keraguan sekarang, anakku Ashoka dan istriku Dharma tidak terlibat dalam konspirasi apapun, aku umumkan bahwa anakku Ashoka dan istriku Dharma tidak bersalah ! Mereka bebas dari segala macam tuduhan !” Siamak tersenyum mendengarnya, sementara Helena, Charumitra dan Noor nampak tegang dan kesal sedangkan Dharma tersenyum sambil melirik kearah Ashoka, Ashoka segera memeluk ibunya dengan perasaan bahagia, lagu Lal mere mulai terdengar ,,, mereka berdua nampak sangat bahagia, Bindusara juga tersenyum senang melihat mereka berdua dari singgasananya, Chanakya dan Radhagupta juga tidak ketinggalan tersenyum senang “Hidup Ratu Dharma ! Hidup Pangeran Ashoka ! Mereka berdua memang luar biasa !” Helena mulai mengelu elukan nama Dharma dan Ashoka, semua orang akhirnya ikut ikutan mengelu elukan nama Dharma dan Ashoka, Noor dan Charumitra tampak semakin kesal dan marah

Bindusara segera turun dari singgasananya dan menghampiri Dharma dan Ashoka, Bindusara menatap Dharma yang memandangnya dengan penuh keharuan, Bindusara mengulurkan tangannya ke arah Dharma, Dharma tersenyum dan membalas memegang tangan suaminya itu, lagu Tumhi toh mere they, tumhi toh mere ho pun mulai terdengar mengalun, Bindusara segera mengajak Dharma ke singgasananya, setelah sampai di singgasana, Bindusara mengajak Ashoka untuk turut bersama mereka, Ashoka berlari dan segera memeluk ayahnya itu, sebuah kerinduan akan sosok seorang ayah yang akhirnya didapatkannya setelah 14 tahun lamanya, Dharma juga memeluk Ashoka, semua orang yang hadir disana nampak iri dengan pemandangan tersebut terutama Sushima, Charumitra dan Noor

“Sekarang semua orang tahu faktanya kalau kamu adalah istriku yang paling berharga tapi aku telah menikahi Maharani Charumitra sebelum kamu jadi posisimu akan ada dibawah dia, kamu akan menjadi istriku yang kedua” ujar Bindusara dengan senyumnya yang menawan sementara Charumitra hanya melirik sekilas dengan perasaan kesal, Dharma hanya terdiam dan menerima apapun posisinya “Ashoka, aku akan mengajak kamu bertemu dengan saudaramu” Bindusara mengajak Ashoka ke hadapan Sushima, Ashoka mencoba untuk memeluk Sushima namun Sushima merasa jengah, Sushima melirik kearah ayahnya yang menatapnya tajam, akhirnya Sushima memeluk Ashoka sambil menahan marah, Ashoka kemudian mendekati Drupata yang sangat bahagia memeluk Ashoka dengan senyumnya yang mengembang, Drupata lalu mengajak Ashoka ke Siamak, mereka bertiga saling berpelukkan dan tersenyum bahagia, kemudian Bindusara menyuruh Ashoka untuk duduk di samping Sushima seraya berkata “Mulai hari ini, disinilah posisimu” Ashoka tersenyum senang, begitu pula Dharma

“Chanakya, pada hari ulang tahunku ini, kamu telah memberikan aku kehidupan yang baru” ujar Bindusara tulus “Tidak Samrat ! Tapi kekasih hatimu Dewi Dharma yang telah membuat semua ini menjadi kenyataan” ujar Chanakya merendah “Namun sampai sekarang si pengkhianat ini belum mendapatkan hukuman, Samrat ,,,, keadilan tidak akan lengkap !” sela perdana menteri Khalatak, saat itu Khurasan masih ada di ruang sidang kerajaan, Noor dan Siamak nampak cemas “Kami mempunyai peraturan dimana seorang pengkhianat dari keluarga kerajaan atau pengkhianat Magadha harus diberikan hukuman mati ! Dan panglima Khurasan adalah seorang pengkhianat dari keluarga kerajaan, oleh karena itu aku memerintahkan padanya untuk di hukum maaa ,,,” Dharma segera menghentikan ucapan Bindusara seraya berkata “Jangan lakukan itu, Samrat” semua orang tertegun melihatnya, Bindusara pun tidak melanjutkan ucapannya. Sinopsis Ashoka Samrat episode 160 by Sally Diandra. 

.

__Posted on
September 11, 2015