Sinopsis Ashoka Samrat episode 226 by Meysha Lestari

Sinopsis Ashoka Samrat episode 226 by Meysha Lestari. Helena menatap lukisan Justin dan mengadu padanya, “Bindu bersantap dengan anaknya untuk yang terakhir kali. Tak lama lagi dia akan merasakan bagaimana rasanya makan sendirian. DIa akan menyesal karena tidak menghabiskan cukup waktu bersama putranya, karena tidak ada di sana untuk anaknya. Dia akan merasa bersalah. Saat itulah dia akan mengerti kepedihanku. Aku berjanji padamu, rasa sakitnya tidakakan sampai disitu. Aku akan membunuh seluruh anggota keluarganya sebelum aku membunuhnya. Siamak akan duduk diatas tahta. Ini akan menandai berakhirnya mimpi achary Chanakya. Dia telah mengorbankan hidupnya untuk hal ini!” Lalu Helena meneguk minumannya.

Seorang prajutit membawa tawanan kehadapan Kichak. Anak yang bersama Kichak bertanya ingin tahu tentang hubungan budak dan majikan. Kichak menjelaskan, “..kalau kau mencurangi majikanmu, maka kau tidak akan mendapatkan apa-apa selain hukuman mati.” Kichak menuding kearah budak yang sedang menjalani hukuman. Si anak bergidik melihatnya.

Kichak kemudian melihat pria yang di bawah prajurit. Si anak terkejut menyadari kalau tawanan itu adalah ayahnya, “ayah..!” Prajurit memegangi ayah si bocah sementara Kichak menodongkan pedang ke lehernya. Kata Kichak, “orang mengatakan aku kejam, tapi aku terpaksa melakukan semua itu demi negeri ini. AKu harus menghukum mereka yang tidak mau membayar pajak. Aku harus menghukum mereka yang tidak mau membayar pajak. Tapi kau juga tidak bisa membunuh seorang ayah di depan anaknya. Aku tak ingin melihat anak ini menangis. Lalu kapan kau akan membayar pajak?” Bapak si bocah mengatakan kalau dia tidak punya apa-apa untuk di berikan pada Kichak. Kichak menyuruh pria itu menjual istri dan anak perempuannya, “aku bisa melakukannya untukmu kalau kau tidak sanggup!” Lalu kichak melepaskan orang itu dan menyuruhnya pergi. Prajurit dengan heran bertanya mengapa Kichak membebaskan pria malang itu hidup-hidup? Kichak menjawab kalau dirinya ingin menyebarkan ketakutan di benak orang-orang, “sekarang, tak akan ada lagi yang menunda untuk membayar pajak. Seorang raja harus menanamkan ketakutan dalam diri rakyatnya. Dab lagi siapa yang akan ku pimpin kalau mereka semua mati?” Seorang kurir tiba dan memberikan surat pada Kichak. Surat itu dari Shushim. Shushim memberitahu Kichak kalau Ashoka datang melalui jalur laut.

ashoka cover122Bindu memberkati Ashoka dan berpesan agar Ashoka berhati-hati dalam menjalankan misinya. Ashoka juga meminta restu dari ibunya. Dharma memberkatinya. Radhagupta mengatakan pada Ashoka bahwa Achary Chanakya akan membimbingnya, “semoga kau dapat memenuhi impiannya.” Ashoka meminta restu dari semua yang hadir. Dia memeluk Shushim dan berkata, “jangan berpikir aku akan melupakan dirimu hanya karena aku jauh. Aku akan berpikir tentang mu setiap saat. AKu harap kau akan melakukan hal yang sama.” Shushim melepas pelukan Ashok dan berpesan agar Ashok fokus pada misinya saja. Ashok menjawab kalau di dirinya selalu fokus pada semua hal.

Ashoka juga memeluk Siamak dan menasehatinya, “kau tidak boleh lemah. Kau harus kuat demi keluarga.” Siamak tidak menyahut, dalam hati dia membantin, “kau akan terkejut kalau berhasil pulang dari Taksihla hidup-hidup..” Setelah selesai berpamitan, Ashoka segera berangkat ke Takshila. Helena menatap keberangkatan Ashoka sambil berpikir, “ini akan menandai awal dari kekuasaan Yunani. Sangat penting untuk menghabisi semua Maurya sebelum saat itu tiba.”

Seorang anak memberikan sirih yang telah di racuni pada Nahkoda. Nahkoda segera mengunyah sirih itu. Ashoka bertanya pada nahkoda  itu berapa lama mereka akan tiba di Takshila. Nahkoda mengatakann kalau perjalanan mereka tidak akan lama, karena cuaca sepertinya berpihak pada mereka.  Tapi sayang, sebelum si nahkoda menjelaskan panjang lebar, racun dari daun sirih keburu bereaksi. Si nahkoda langsung terjatuh dan mati seketika. Anak yang memberikan sirih itu padanya terlihat ketakutan. Dia segera bersembunyi. Ashoka yang tidak menyangkah akan mengalami peristiwa itu di tengah perjalanannya terlihat marah.

Para prajurit Kichak juga berada di laut. Salah satu prajurit berkata pada temannya kalau dirinya tidak dapat mengerti mengapa Kichak tidak membunuh Ashoka secara langsung, dengan begitu semua masalah akan selesai. Teman prajuritnya menjawab kalau seperti itu, Ashoka pasti akan segera di obati dan akan dianggap sebagai percobaan pembunuhan. Dan Kichak akan di salahkan, “kalau kita beri dia racun yang sama seperti pada si pelaut, racun itu akanbereaksi saat dia berada jauh dari daratan sehingga tak mungkin ada yang bisa menolongnya.”

Di sebuah biara, beberapa orang biksu sedang merenung bagaimana cara membantu rakyat Takshila. Amadhya Rakshacharya datang menemui mereka dan menawarkan diri untuk pergi ke sana. Dia menunjukan surat rekomendasi dari Bodhitsav pada bara biksu.

Para prajurit Magadha mengambil tubuh pelaut untuk di kuburkan. Seorang prajurit hendak pergi untuk mencari nahkoda yang lain, “kita tidak boleh membuang waktu lagi. Kichak akan terus menciptakan masalah rakyat sekarang ini…” Seorang anak muda mennawarkan diri untuk menahkodai kapal mereka. Dia adalah putra dari nahkoda yang sudah mati. Ashoka meminta maaf pada anak muda itu karena tidak bisa menyelamatkan ayahnya. Si anak tidak terlihat sedih, “tidak apa pangeran, ayah meninggal demi ibu pertiwi. Dia akan kecewa kalau perjalanan anda sampai tertunda. Perkenankanlah saya untuk mengambil alih tugas ayah saya dalam perjalanan ini.” Ashoka kagum dengan dedikasi yang di tunjukan si anak. Tanpa pikir panjang, Ashoka mengabulkan keinginan pemuda itu, “kita akan melakukan upacar terakhir untuk ayahmu. Kita akan berangkat besok pagi.” Si nahkoda muda setuju.. Sinopsis Ashoka Samrat episode 227 by Meysha Lestari

Read more