Sinopsis Gangaa episode 97 by Meysha Lestari

Sinopsis Gangaa episode 97 by Meysha Lestari. Pemujaan Bhagawan Gita sedang berlangsung di asrama para janda. Nenek, madhvi dan Omkar ikut dalam pemujaan itu. nenek duduk di depan, Omkar di belakang dan Madhvi duduk di sebelah Sudha, tepat di depan Omkar. Omkar terus mengawasi Sudha sepanjang upacara. Hari sudah mampir malam. Pishi ma menyuruh Sudha menghidupkan lampu Asrama. Sudha menurut. Dia bernajak dari duduknya dan pergi keluar. Madhvi melirik Omkar. Omkar pergi membuntuti Sudha. Madhvi mencemaskan Sudha, tapi tidak bsia berbuat apa-apa.
Sudha menyalahkan lampu di sebuah kamar. Omkar menyergapnya dari belakang dan membawanya ke sebuah kamar. Di sana omkar mengancamnya, “aku ingin memperingatkanmu. Jangan berani membuka mulut pada siapapun. Aku yakin kau mengertai bahwa aku bis aberbuat apa saja. Kau mengerti sekarang.” Dua orang jandaa berjalan di luar kamar itu dan mendengar keributan di dalamnya. Mereka berteriak, “siapa di sana?” Omkar melepaskan Sudha. Sudha menjawab, “ini aku..” Di akeluar dengan wajah ketakutan dan bergegas pergi. Tak lama kemudian Omkar juga keluar dari kamar. Kedua janda itu terkejut dan bergosip, “hah? Sedang apa Sudha berduaan dengan seorang pria? AKutidak tahu sudha kenapa? Tapi raut wajahnya dia terlihat seperti pencuri yang akan tertangkap..”
Omkar kembali ke pemujaan dan duduk di belakang Madhvi. Madvi meliriknya dengan penasaran, “nyonya Sudha kemana?”
Sudha menangis di hadapan Pishi Ma. Pishi Ma membujuk Sudha untuk mengatakan masalahnya. Sudha memberutahi tentang Omkar yang selalu coba menyentuhnya. Sudha memberitahu apa yang di katakan Omkar padanya. Pishi Ma kahet, “dia itu benar-benar kurang ajar. Tuhan tidak akan memaafkannya.” Pishi ma bertanya mengapa Sudha tidak menceritakan itu padanya. Sudha mejawab, “dia terus mengancamku bi. Hari ini juga dia mengancamku. Dia bilang aku wanita dan tidak akan ada yang percaya padaku bi.” Pishi Ma setuju, “dia benar Sudha. Wanita memang selalu di nodai…tapi tak ada yang menyalahkan pria…” Masalahnya Sudha sudah janda, dan orang tidak akan percaya pada janda. Pishi Ma meminta agar Sudha tidak meneruskan masalahnya dan tidak mengatakan apapun pada orang lain. Mereka harus menelan penghinaan seperi pil pahit.
Madhvi datang menemui Sudha yang sedang menangis, “nyonya Sudha, anda sedang menangis? Apakah ada yang bisa aku bantu nyonya? Mungki aku bisa membantumu…” Pishi ma memberi isyarat pada Sudha agar tidak mengatakan apapun. Sudha beralasan kalau dirinya hanya teringat masa lalu. Tapi Madhvi tidak percaya, “aku yakin ada masalah besar yang mencemaskan nyonya Sudha. Dia pasti menyembunyikan sesuatu.”
Malam harinya, saat semua tidur Gangaa masih belajar. Meski matanya terkantut-kantuk dan beberapa kali kepalanya tertunduk tapi dia tidak menyerah. Dia mengikat kuncir rambutnya dengan tali sehingga saat dia kapalany aterkulai, rambutnya akan tertarik dan diapun terbangun. Niranjan mengamati Gangaa dari luar jendela, dia merasa geli dan bangga dengan apa yang di lakukan Sudha. Madhvi menghampirinya dan bertanya, “ada apa? apa yang kau lihat?” Niru menunjuk kedalam. Mahdvi melihat Gangaa dan tersenyum. Niru berkata, “meskipun masih kecil dia sangat bijaksana. AKu kagum dengan niatnya… dia tidak akan tidur..” Madhvi mengatakan kalau dirinya akan menyuruh Gangaa tidur karena sudah malam. Niru yakin Gangaa tidak akan mendengarkannya, “lihat saja, matanya mengantuk dan wajahnya terlihat lelah, tapi dia tidak menyerah..” Niru mendoakan semoga besok  Gangaa berhasil. Madhvi mengajak Niru pergi.
Nenek terbangun. Dia melihat Gangaa belajar. Nenek berkata kalau Gangaa terus ingin belajar, “bagaimanapun kujelaskan padanya, kalau dia berbeda dengan teman-temannya.. dia tetap tidak mengerti. Setelah kematian suami,wanita tidak berhak bermimpi, Gangaa. Kau harus mengerti hal ini. Akan lebih baik bagimu.”
Esok paginya, Mahdvi membantu Gangaa mengepang rambutnya. Gangaa berkata, “aku akan kepang rambutku sendiri nyonya, mengapa Nyonya repot?” Madhvi tersenyum, “kenapa tidak? Inikah hari penting dalam hidupmu, Gangaa. Kalau ibumu masih ada, dia pasti akan melakukannya. Karena itu aku ingin menyiapkannya untukmu Gangaa.” Gangaa berkata kalau dirinya sudah tidak ingat tentang ibunya, “tapi aku yakin, pasti seperti nyonya.” Madhvi menyela, “lalu kenapa melarangku? Biarkan aku menjadi ibumu!” Madhvi selesai mengepang rambut Gangaa. Dia memuji Gangaa yang terlihat cantik. Niru datang untuk menanyakan Gangaa, “apa gangaa sudah siap? Kita harus pergi.” Gangaa memamerkan rambutnya yang di kepang Madhvi, “Tuan lihat, hari ini Nyonya mengepang rambutku!” Niru tersenyum bangga pada Madhvi, “ya aku melihat sayang. bagaimana ibu jarimu?” Gangaa menunjukan tanganya yang masih di perban. Niu menatapnya dengan cemas, “Gangaa, bagaimana kau bsia menulis?” Gangaa menjawab kalau dirinya akan menulis dengan baik. Sagar datang menyuruh mereka cepat-cepat berangkat. Madhvi mendoakan Gangaa. Niru bertanya apakah Sagar tidak mau mendoakan Gangaa? Sagar menajwab kalau Gangaa tidak membutuhkan doanya, ” dia selalu bilang kalau dirinya tidak membutuhkan orang lain dan berkata kalau pasti akan lulus.” Gangaa mengulangi kata-kata Sagar, “aku akan selalu bilang kalau aku pasti lulus!” Gangaa minta izin untuk berdoa pada tuhan danbapaknya.
Nenek, Prabha, Koki dan lainnya menunggu di ruang tamu. Gangaa melihat nenek, dia mendekati nenek dan meminta restunya. Nenek terlihat enggan. Tapi Gangaa membujuknya, “nenek kau sangat baik, dengan restumu aku pasti lulus ujian..” Lalu dengan terpaksa nenek menyentuh kepala gangaa, “perilah! Bagaimana kau bsia menulis dengan jari terluka?” gangaa menyakinkan kalau dirinya pasti bisa. Semua orang mengucapkan selamat dan mendoakan gangaa. Madhvi menyuapi gangaa danmendoakannya, “semoga tuhan mewujudkan semua impianmu.” Niru mengajak mereka semua berangkat. Madhvi berpesan agar sebelum menulis gangaa berpikir dulu. Merekapun berangkat sekolah. nenek dan Prabha menatap kepergian Gangaa dengan cemas. madhvi optimis kalau Gangaa pasti akan lulus. Prabha berbisik pada nenek, “kalau Gangaa bsia lulus itu karena semua orang mendoakan nya.” Nenek tidak menyahut, di amelangkah pegi sambil berguman, “dewa Krishna Murary…”
Sampai di sekolah, Niru mengantar Gangaa ke kelas ujian. Guru kepala dan guru pengawas telah menantinya. Mereka bertanya tantang orang yang akan membantu menulis. Niru berkata kalau Gangaa akan mengerjakan ujiannya sendiri. Kepala sekolah terlihat sangsi, tapi tidak bsai berbuat apa-apa. Guru pengawas mengajak gangaa masuk ke kelas. Niru menasehati dan memotivasi Gangaa. Niru berkata dirinya akan menunggu Gangaa di luar.
Guru Sagar dan Yash belum datang. Mereka tidak bisa mengambil buku. Sagar terlihat muram. Yash bertanya, “ada apa denganmu?” Sagar mengatakan kalau tidak ada apa-apa.” Yash mengajar Sagar melihat Gangaa ujian. Tapi sagar menolak. Yash memaksanya.
Gangaa masuk kedalam dan duduk di bangkunya. Siswa yang lain menertawakan Gangaa. Guru pengawas menyuruh mereka diam lalu membagikan soal. Gangaa coba membuka kotak pencilnya, tapi tidak bisa. Guru pengawas membantunya.
Gangaa membaca soal dantersenyum karena tahu jawabannya. Dia mengambil pensil tapi kesulitan. Dia juga coba menulis tapi juga kesulitan. Tangannya terasa sakit. Tapi Gangaa tidak putus asa, dia terus mencoba, hingga lukanya kembali berdarah. Niru terlihat khawatir dan cemas.
Madhvi menelpon Niru menanyakan keadaan Gangaa. Sagar dan Yash tiba di sana. Sagar melihat Gangaa kesulitan menulis. Wajahnya meringis kesakitan. Jempolnya berdarah dan pensilnya terjatuh. Sagar tidak tega melihat itu. Yash tertawa melihat Gangaa, “lihat dia, seperinya dia akan menangis, dia tidak bsia menulis.”
Niru memberitahu Madhvi kalau Gangaa sedang mengerjakan ujiannya. Dia terlihat kesakitan tapi tidak mau menyerah. Gangaa meniup lukanya dan mengeluh padanya ayahnya, “sakit sekali ayah…”  Niru berjanji akan memberi kabar pada madhvi setelah Gangaa keluar. Niru menutup telponya. Dia mencari Sagar yang tidak ada disamping Yash.
Ternyata Sagar sudah ada di dalam membantu Gangaa mengambil pensilnya yang jatuh. Kedua itu saling bertatapan. Sagar berkata kalau dirinya akan membantu Gangaa menulis. Gangaa merasa senang. Guru poengawas menghampiri Gangaa dan bertanya, “jadi juru tulismu sudah datang ya?” Sagar yang menajwab, “iya bu guru, aku akan membantu dia menulis jawabannya.”
Sagar menyuruh Gangaa menjawab dan dia yang akan menulisnya. Gangaa membaca soal dan memberitahu jawabannya pada Sagar. Kalau jawabannya salah, Sagar protes, “jawabanmu salah.” Gangaa berbisik, “biar saja. Kau tulis saja yang aku bilang.” Tapi banyak jawaban yang di berikan Gangaa salah. Sagar jadi cemas. Guru memberitahu kalau waktu tinggal 10 menit. Gangaa menyuruh Sagar menulis. Sagar membalas, “aku cuam menulis, kau itu yang berpikirnya lama sekali.”  Gangaa mengalah, “nanti saja bertengkarnya, tulis saja dulu!” Gangaa sangat lambat menjawab soal, Sagar jadi tidak sabar.
Waktu sudah habis. Guru menyuruh semua orang berhenti menulis. Sagar masih menulis. Gangaa merebut pensilnya, “ih..kau tidak dengar yang di katakan ibu guru? waktunya sudah habis. Berhenti menulisnya Sagar.” Sagar protes, “aku itu menulis untukmu!” Gangaa berkat akalu dirinya tdiak mau curang.
Sagar dan Gangaa keluar kelas. Yash kesal pada Sagar, “kenapa kau bantu Gangaa?” Niru menyambut Gangaa danmemuji Sagar, “bagus sekali Sagar, bagus! Bagaiman ujianmu sayang?” Niru melihat luka Gangaa berdarah. Dia mengajak Gangaa ke dokter.  Gangaa terlihat bingung dan sedih. Niru bertanya, “kenapa? Apa kau tidak berhasil menjawab dengan soal ujian” Sagar memberitahu ayahnya kalau Gangaa menjawab semua pertanyaa, “tapi jawabannya banyak yang salah, aku sudah bilang tapi dia…” Gangaa berkata kalau dirinya tdiak mau curang. Sagar bersikaras, “bagaimana mau lulus kalau jawabanmu itu salah?” Niru menengahi mereka berdua, “tidak Sagar, jangan bilang begitu. gangaa sudah berusaha, ini hal besar baginya…kenap aku buat Gangaa marah dengan perkataanmu itu? Pasti ada jawaban yang benar kan?” Sagar berkat abahwa memaang ada yang benar, tapi banyak yang salah, “aku takut dia tidak lulus yah..” Sinopsis Gangaa episode 98 by Meysha Lestari
__Posted on
January 10, 2016