Sinopsis Gangaa episode 249 by Meysha lestari

Sinopsis Gangaa episode 249 by Meysha lestari. Janvi terus muntah-muntah. Mahdvi menjadi cemas. Begitu pula nenek, karena Janvi adalah tamu mereka, “bagaimana kalau terjadi seuatu?” Gangaa memanggil dokter, “Janvi akan baik-baik saja setelah meminum obat.” Janvi muntah lagi. Gangaa memberinya air minu. Janbi berpikir kalau Gangaa boleh bersikap baik padanya tapi akan ada hal buruk yang akan terjadi padanya. Terdengar suara klakson. Pulkit dan Sagar telah kembali.

Sagar bergegas menghampiri Janvi, “sudah kubilang agar pergi ke dokter bersamaku.” Nenek berkata kalau dirinya akan pergi ke tabib. Sagar melarang, “Janvi tidak terbiasa minum ramuan tabib. Jangan khawatir, dia akan baik-baik saja.” Janvi meminta agar di bawa ke kamar karena dia merasa tercekik di situ. Janvi berdiri dan pura-pura hendak pingsan. Sagar menyambutnya. Dia jatuh dalam pelukan Sagar. Sagar menyuruh Janvi duduk dan bertanya pada gangaa tentang dokter. Ganga menjawab kalau dokter sedang dalam perjalanan. Sagar menjadi tegang.

Dokter datang dan langsung memeriksa Janvi. Dokter mengatakan kalau Janvi lemah karena muntah-muntah. Dia memberinya suntikan dna beranya obat apa yang di berikan padanya. Gangaa menunjukan obat yang di bawanya pada dokter. Dokterberkat akalau Janvi akan baik-baik saja setelah meminumnya. Dia juga memeriksa obat yang di pegang janvi, obat itu berbeda. Gangaa mengatakan kalau dia membeli obat seperti yang tertulis di resepnya. Dokter menunjuk kalau itu adalah obat sangat buruk untuk penderita maag. Sagar menatap Gangaa. Janvi lega, karena drama akan mulai sekarang. Dokter berjanji akan kembali sore hari dan berkata pada Gangaa kalau dirinya berbuat kesalahan karena memberikan obat itu pada Janvi.

Sagar duduk di samping Janvi. Madhvi menanyai Gangaa tentang obat itu, “bagaimana kalau terjadi sesuatu pada Janvi? Kau sangat terpelajar.” Janvi berakting, “kau sangat membenciku sampai kau ingin membunuhku?” Gangaa menyangkal. Tapi Mahdvi mendukung Janvi, “kau bisa memintaku untuk merawat janvi kalau kau tidak mau.” Nenek juga menegur Gangaa. Pulkit ingin mencoba memberi penjelasan dari pihak Gangaa, tapi Madhvi melarangnya bicara. Gangaa menatap Sagar, “aku mengatakan yang sebenarnya. AKu membawa obat yang kau tulis. Apakah kau berpikir aku begitu ceroboh?”

Sagar bingung, “kita semua melihat kau membawa obat yangs alah.” Gangaa merasa terluka, “kalian semua berpikir ini salahku? Kondisi Janvi memburuk karena kesalahanku. Aku layak di hukum.” Gangaa meminum obat yang sama. Semu aorang coba menghentikannya tapi sia-sia. Niru datang dan menyuruh Gangaa memuntahkan obat itu, “kau harus mendengar apa kata ayahmu!” Gangaa segera memuintahkan pil itu. Niru menepuk kepala gangaa dan bertanya apakah dia baik-baik saja? Gangaa mengangguk. Niru bertanya pada semua orang apa yang sudah terjadi.

Janvi menjadi tegang. Niru datang terlalu awal. Madhvi menceritakan semuanya. Niru menyuruh Gangaa menatapnya dan bertanya, “apakah kau sengaja memberikan obat itu?” Gangaa menola, “mengapa aku mau melakukan itu?” Niru menunjukan pada semua orang kalau gangaa tidak pernah bohong, “kalian semua memaksa dia meminum obat itu. Mengapa harus menghukumnya kalau dia tidak melakukan sesuatu yang salah?” Janvi mengatakan kalau dirinya juga tidak berbohong, “pil itu ada di sini. AKu menjadi sakit setelah meminumnya.” Niru berkata dia senang melihat Janvi sehat, “tapi aku yakin Gangaa tidak akan pernah menyakiti siapapun.”

Nenek bertanya pada Niru, “mengapa kau menutupi kesalahan Gangaa?” Niru bertanya balik pada ibunya, “siapa yang membawakan obatmu sejak 10 – 12 tahun yang lalu? Pernahkan dia melakukan sesuatu seperti itu?” Mahdvi juga tahu kalau Gangaa tidak mungkin melakukan itu secara sengaja, “tapi kesalahan ini sangat besar. Konsekuensinya juga besar.” Niru berkata, “mungkin apotekernya salam saat membacanya. AKu bertaruh, Gangaa tidak akan pernah menyakiti siapapun.” Rencana Janvi gagal lagi.

Niru berkata pada gangaa kalau dirinya telah membuat kesalahan, ” semua orang marah padamu, lalu kau menghukum dirimu sendiri? Menjadi pengacara kau harus tahu kalau menyakiti seseorang itu salah, tapi lebih salah lagi kalau sampai menyakiti dirimu sendiri.” Setelah berkata begitu, Niru pergi dari sana.

Sagar membawa Jnvi ke kamarnya. Gangaa menangis. Nenek masih menuduh gangaa telah bertindak ceroboh hari ini, “kau telah menguji kesabaranku. Lain kali, aku tidak akan mengampunimu jika kau membuat kesalahan lagi.” Tak seorangpun mengizzinkan Pulkit bicara. Dia pergi dari sana setelah memastikan gangaa baik-baik saja. Gangaa berdiri di sana dengan mata berlinang.

Gangaa mengucapkan terima kasih pada Niru karena tiba tepat waktu, “kalau tidak, tak seorangpun akan percaya padaku. Aku beruntung mempunyai tuan. Kau mempercayaiku seperi ayahku mempercayaiku.” Niru berkata kalau dirinya dan ayahnya tahu kalau Gangaa jujur, “aku masih ingat hari pertama aku bertemu denganmu. AKu bisa melihat kejujuran didirimu. AKu masih belum melupakannya. Aku masih mengenalinya.” Gangaa mengucapkan terima kasih pada Niru, “aku tidak akan menjadi lemash selama kau mempercayaiku.” Niru mengangguk, “jangan bebuat kesalahan seperti ini lagi. Bagaimana jika sesuatu yang buruk terjaid padamu?”

Janvi mendengarkan pembicaraan mereka, “Sagar selalu mengkhawatirkan Gangaa, sekarang paman yang membelanya. Apa yang harus aku lakukan sekarang?” madhvi menepuk pundak janvi dan bertanya, “apa yang kau lakukan di sini?” Janvi berkata kalau dirinya ingin minum es teh. Madhvi mengantar Janvi ke kamarnya. Dia melihat kearah Niru dan Gangaa. Gangaa menawarkan diri untuk membawakan teh untuk Niru. Niru tersenyum senang.

Gangaa berpi sambil berpikir, “tuan masih mempercayaiku tapi aku tidak melihat kepercayaan itu di mata Sagar hari ini.” Gangaa menyenggol tinta yang di letakan di meja. Botol tinta itu pecah begitu menyentuh lantai. Gangaa segera mengambil lap untuk membersihkannya. Kakinya menjadi merah karena tinta.

Sagar memegangi Gangaa saat dia akan jatuu. Keduanya saling berpandangan. Gangaa mundur dan bertanya, “mengapa kau selalu datang menolongku?” Sagar menjawab kalau dirinya perduli pada gangaa, “apakah kau terluka? Warna merah apa ini?” Gangaa memberitahu Sagar kalau kakinya mengijak i=tinta merah tanpa sengaja. Sagar tersneyum, “terlihat bagus di kakimu. Mirip dengan Alta.” Gangaa berkata kalau hanya Sagar yang memberi warna dalan hidupnya dan dia telah merenggutnya kembali. Sagar menraih tangan Gangaa saat dia akan peri, “aoakah kau mengejekku?”

Gangaa menarik tangannya, “lalu apa yang sudah kau lakukan padaku? Kau menatapku penuh keraguan.” Sagar menjelaskan, “aku tahu kalau aku berteriak padamu karena aku sendang marah. Aku cemas melihat kondisi janvi. Sekarang aku mencarimu agar aku bisa minta maaf padamu. Beri aku kesempatan. AKu tahu kau marah padaku.” Gangaa mengingatkan Sagar kalau orang akan marah hanya pada keluarganya sendiri saja, “kau lupa kalau kita sudah menutuskan segala hubungan. Kita setuju untuk tidak saling berbicara. Mengapa aku harus buruk atas apa yang kau katakan ketika hubungan kita sudag berubah?” Setelah berkata begitu, gangaa pergi meninggalkan Sagar. Sagar menatap tanda merah yang terbentuk di lantai saat kaki Gangaa melangkah… Sinopsis Gangaa episode 250 by Meysha Lestari
PREV          NEXT
__Posted on
March 5, 2016
__Categories
Sinopsis Gangaa