Cinta yang Terkoyak bag 2

Halim tidak mau menerima uang yang kutitipkan padanya untuk bang Hend. Dia menyuruhku menelpon bang Hend dan bicara tentang uang itu padanya. Jika bang Hend setuju, dia akan membawa uang itu kembali padanya. Aku bingung antara menelpon atau tidak.

Cinta yang terkoyak bag 2. Setelah menimbang, akhirnya aku putuskan untuk menelpon. Aku menunggu cukup lama sampai terdengar sapaan dari seberang.

“Hallo….” terdengar suara anak kecil.

Mood ku langsung hilang. Ku matikan hp dan ku hempaskan ke atas meja. Hatiku sakit dan cemburu mendengar suara anak kecil itu. Sudah begitu akrabkah dia dengan anak-anak tirinya, sampai telpon pun harus mereka yang angkat?

“Kenapa mbak?” tanya Halim heran. Aku menggeleng.

Tiba-tiba hp ku berdering. Aku cepat-cepat mengambilnya. Tertera nama bang Hendra di layar hp. Aku males bicara dengannya, maka kuserahkan hp ku pada Halim.

Halim menerima hp yang ku sodorkan. Sebelum mnejawab dia mengaktifkan loudspeaker, lalu menyapa, “hallo… ya bang?”

 “Hany menelpon ku barusan, ada apa?”

“Oh itu… eh mbak Hany cuma mau ambil separuh dari uang kopi yang abang berikan. Sisanya dia suruh aku kembalikan pada abang. Bagaimana?”

“Aku ingin bicara dengannya..” pinta bang Hendra.

Halim menatapku. Aku menggeleng cepat. Dengan polos Halim memberitahu bang Hendra kalau aku tidak mau bicara dengannya. Suasana hening sesaat. Hanya terdengar desahan nafas berat.

“Bagaimana, bang?” tanya Halim lagi.

“Jangan kau ambil uang itu. Tolong suruh dia menyimpannya untuk ku…”

“Ok bang. Itu saja kah?”

“Ya…”

“Ok,” tanpa basa-basi Halim menutup pembicaraan, lalu katanya padaku, “mbak dengar sendiri kan apa kata bang Hendra? Aku tidak boleh mengambil uang itu. Dia menyuruh mbak menyimpannya.”

“Baiklah. Oh ya, aku lupa… kau ingin minum apa Halim? Atau kau ingin makan sesuatu?” tawarku.

“Tidak, terima kasih. Aku mau langsung pulang saja. Lusa sebelum naik, aku mampir kesini…” ucap Halim sambil beranjak dari duduknya.

“Ya. Kau tanya abangmu, dia mau dibawakan apa saja. Nanti aku siapkan. Mungkin tidak sekaligus. Tapi bertahap…” ucapku sedikit ragu.

Halim yang sudah di depan pintu berbalik menatapku dengan tatapan ingin tahu, “mbak tidak akan bersama bang Hend lagi kah?”

Hatiku tersentuh mendengar pertanyaan Halim. Aku tak tahu harus menjawab apa, “entahlah… mbak tidak tahu. Kau hati-hatilah di jalan…”

“Baiklah, aku pulang dulu. Assalamualaikum mbak,” pamit Halim sebelum pergi. Aku menyahuti salamnya dan mengantarnya hingga ke pintu gerbang. Begitu dia melaju diatas motornya, aku membalikan badan hendak kembali ke dalam.

Tapi saat aku menatap ke jendela kamarku yang terbuka, gelombang kesedihan kembali muncul. Rasa sunyi menyelinap dalam relung sanubari ku. Kesadaran bahwa kini aku sendiri, di rumah ini…. membuat hatiku pilu.

Aku tidak menyangka, setelah 10 tahun membina rumah tangga bersama, akhirnya kini harus berpisah.

Sungguh tragis bukan? Perjalanan hidup tidak ada yang tahu. Cinta yang kami perjuangkan sekuat daya, harus berakhir sedemikian rupa.

NEXT

__Posted on
December 14, 2019
__Categories
Novelet