Ketika 2 Hati Terpaut bag 2

Sabtu sore aku sudah menunggu kedatangan Roy di ruang tamu. Berbagai perasaaan berkecamuk dibenakku, sebab inilah malam minggu pertama aku di kencani Roy.

Aku melirik terus pada jarum jam yang rasanya tidak mau di ajak kompromi. Tapi…sampai pukul 21.00 malam, Roy belum juga nonggol. Timbul rasa sesal dihatiku kenapa aku terlalu mempercayai omongan Lely. Barangkali, Lely hanya mau menggodaku saja, sebab dia tahu aku menyukai Roy. Memang terhadap Lely aku tidak bisa menyembunyikan perasaanku, sebab kami saling terbuka satu sama lain. Akhirnya kuputuskan untuk masuk kamar saja daripada nungguin orang yang beum pasti muncul.

Keesokan harinya seperti biasa aku pergi ke kampus. Aku pingin ketemu Lely. Pingin menumpahkan kemarahanku padanya, sebab merasa di bohongi.

Sudah kucari kesana kemari tapi tidak juga ketemu batang hidungnya. Akhirnya kuku putuskan untuk kerumahnya saja, lagipula hari itu tidak ada kuliah.

Ternyata Lely sedaang asyik membaca novel saat aku tiba. Tanpa basa-basi lagi, langsung saja ku jewer telinganya.

“Aduh…. apa-apaan sih, datang-datang langsung jewer telinga orang, ” Lely kelihatan gusar.

“Itulah ganjaran bagi yang suka ngerjaain orang!” balasku acuh tak acuh.

“Ngerjain orang?” Lely kelihaatan bingung, “hei..siapa yang kau maksud?”

“Kamu!” tudingku.

“Aku? Kapan… dan dimana?”

“Kamu kan bilang, Roy mau datang malam minggu, ternyata kamu bohong. Padahal aku sudah capek-capek nungguin, nggak tahunya hanya di bohongin, kan jengkel!!”

“Oh itu, sori ddech rin, aku kan hanya bercanda, kamu sih yang nanggapin serius,” Lely meminta maaf. “Tapi memang waktu itu Roy ada nanyain kaamu kok.”

Aku hanya diam saja tidak memberi komentar. Tidak lama kemudian aku pamitan pulang, setelah minum es buah buatan Lely. Yach… lumayan sebagai pereda kejengkelankuu.

Seminggu kemudian aku bertemu dengan Roy di Tunjungaan Plaza. Waktu itu dia jalan dengan seorang cewek. Kami nggak sempat ngobrol lama, sebab dia mau buru-buru pulang karena ada urusan. Tapi dia sempat mengatakan akan main-main ke rumah.

Waktu itu terbersit perasaan cemburu di hatiku, sebab melihat dia bersama cewek lain. Tapi akhirnya ku usir perasaan curiga itu, barangkali saja mereka hanya berteman.

Aku memang tidak sekampus dengan Roy, jadi tidak mengenal teman-temannya. Roy kuliah di Airlangga, sedangkan aku di Petra. Dia juga 2 tahun di atas ku. AKu kenal dengan Roy saat acara ulang tahun Indra, sepupu Roy yaang juga teman akrab ku, walaupun dia satu tingkat di atas ku.

Tidak terasa satu bulan sudah berlalu sejak pertemuanku dengan Roy. Kini, aku sedang duduk nonton acara RCTI, Amerika Funnish Home Video yang di siarkan setiap malam minggu pukul 19.30.

Tiba-tiba bel berbunyi. Dengan malas aku pergi membukakan pintu. Tampak Roy berdiri di depan pintu ddengan senyum khasnya.

“Hai….” tegurnya.

Aku hanya melongo saja saat melihat kehadirannya, dan baru tersadar saat dia berkata, “boleh aku masuk?”

“Silahkan!” jawabku sambil menggeser badanku memberi jalan.

Setelah kupersilahkan duduk, aku meminta ijin ke belakang untuk membuatkan minuman sekalian meredakan debaran jantungku, sebab aku tidak menyangka dia akan datang seperti yang dijanjikannya.

Tidak lama kemudian aku kembali dengan memawa dua gelas sprite dan setoples kue.

“Ayo diminum, “kataku.

“Terima kasih!”

Sesaat kebisuan menyergap kami. Tapi tidak lama kemudian Roy sudah membuka suara.

“kok sepi?”

“Iya, mama dan papa sedang ke pesta, tinggal aku dengan adikku yang jaga rumah.”

“Apa kedatanganku mengganggu acara malam minggumu?” tanya Roy.

“Oh tidak!”

Setelah itu terjalin percakapan diantara kami. Ternyata di keluarganya Roy termasuk anak bungsu dari lima bersaudara yang kesemuanya cowok. Mamanya orang Australia, sedangkan papanya asli jawa. Pantesa wajah Roy rada kebule-bulean…

NEXT

__Posted on
January 8, 2020
__Categories
Cerpen Ria Film