Musim Bunga di kota Liwa bag 2

…begitu aku masuk pintu langsung tertutup. Aku menoleh. Kulihat Pras mengunci pintu kamar hanya dengan berbalut handuk. Tanpa memperdulikannya, aku bergegas menuju lemari pakaian. Mengambilkan kemeja dan celana untuk di pakainya. Pras menghampiriku dan…..

“Pulang dulu, nanti aku kasih tahu…”

“Harus sekarang?”

“Iya. Aku menunggu…”

“Ok…” lalu sambunganpun terputus.

Melissa menatapku ingin tahu, “tante bicara dengan siapa?”

“Om mu. Aku menyuruhnya pulang…”

“Bukannya om sedang sibuk?”

Aku tersenyum.

“Tante keren ya. Cuma ngomong gitu aja sudah bisa membuat om pulang. Kalau aku, pakai alasan anak sakit pun, belum tentu suamiku mau pulang dari tempat kerja. Paling-paling disuruh bawa ke dokter…” keluh Melissa. 

Aku tak menyahut. Tak ingin membuat hatinya tambah sedih karena melihat keberuntunganku memiliki suami sebaik om nya.

****

Aku sedang meng-garu kopi dihalaman ketika Pras datang. Pras langsung merebut garu dari tanganku dan menyuruhku berteduh dari terik matahari. Sementara dia melanjutkan pekerjaaanku, aku pergi ke dapur mengambilkan sebotol air mineral sejuk untuknya dan meletakkannya di meja yang ada di teras. Aku menunggunya sambil membaca-baca berita terupdate di detik.

Setelah semua kopi tergaru rata, Pras menghampiriku. Aku menarik tangannya agar duduk disampingku. Sambil meraih botol air mineral, dia bertanya, “ada apa?”

Aku menunggu dia selesai meneguk air mineralnya. Setelah botol kembali ke meja, aku mulai bercerita. Tentang suami Melissa yang ternyata adalah Sam, ‘kenalanku” saat aku magang di jepang.

“Sam? Sam yang itu?” tanya Pras tak percaya.

Aku mengangguk.

“Melissa tahu?”

Aku menggeleng, “aku tidak ingin dia tahu. Kau tidak akan memberitahu dia kan?”

“As you wish!” sahut pras cepat. Aku menatapnya penuh harap. Pras tercenung diam. Seperti sedang berpikir keras. Aku menyilakan rambut tebalnya yang menutupi daun telinga. Pras menangkap tanganku dan memandangku tepat dimata. Kami saling bertatapan. Aku menduga dia akan mengatakan sesuatu, tapi ternyata tidak. Dia hanya mendekatkan wajahnya dan mencium keningku lembut.

Aku mendorong dadanya, “bau matahari, pergilah mandi!”

“Bukankah kau suka? Bau matahari. Seksi kan?” godanya sambil mengerling jenaka.

“Ishhhh….! Mandi sana!” usir ku.

“Ayo…” ajaknya sambil menarik tanganku.

“Ayo kemana?” ku tarik balik tanganku. Tapi Pras memegangnya erat.

“Mandi..”

“Aku sudah mandi.”

“Mandi lagi!” ajaknya.

Aku menatapnya aneh. Dia mengetipkan matanya dengan mesra. O o…. aku memahami isyaratnya.

“Nggak mau ah. Aku udah mandi, udah keramas….”

“Ayolah….” ucapnya sambil menarik tanganku dengan paksa. Aku dengan enggan berdiri mengikuti tarikan tangannya. Pras tersenyum menang.

Tapi tiba-tiba terdengar suara Melissa menyapa Pras, “om sudah pulang…”

“Oh hai…” balas Pras santai. Dia mengamati Melissa sejenak dan menyempatkan diri menggodanya, “kau sudah rapi, sudah wangi. Mau kemana?”

“Tante belum cerita?” tanya Melsisa padaku.

“Sudah. Makanya, nih suruh mandi dulu, biar fresh.” jawabku sambil mendorong punggung Pras dan menarik tanganku yang ada dalam genggamannya.

Pras tak punya pilihan lain selain melepaskan tanganku.

“Mau ketemuan jam berapa, Mel?” tanya Pras.

“Kata tante habis dzuhur. Sekarang suamiku sedang dalam perjalanan ke KRL. Seperempat jam lagi nyampe katanya..” jelas Mel.

“Tuh…kan? Cepet mandi sana..” usir ku.

“Ya ayooo!” ajak Pras lagi.

“Sana, duluan. Nanti aku ambilin…” ucapku. Pras beranjak pergi sambil melengos kesal. Aku tertawa melihatnya.

“Apa sih te?” tanya Melissa penasaran.

“Baju. Kalau ngak diambilin, selemari bisa acak-acakan…” sahut ku memberi alasan.

Melissa tertawa, “sama dong dengan suamiku…”

Terdengar panggilan Pras lagi. Melissa menunjuk ke arah kamar. Aku mengendikan bahu sambil melangkah pergi. Melissa terkikik geli.

Aku menaiki tangga menuju ke kamar kami di lantai atas. Begitu aku masuk pintu langsung tertutup. Aku menoleh. Kulihat Pras mengunci pintu kamar hanya dengan berbalut handuk. Tanpa memperdulikannya, aku bergegas menuju lemari pakaian. Mengambilkan kemeja dan celana untuk di pakainya. Pras menghampiriku dan…..“Lepaskan, Pras!” pintaku..

===Episode 17 tahun keatas ===

******

Selesai berdandan aku turun. Melissa dan Pras sedang berbincang-bincang di dapur. Paman dan ponakan itu asyik sekali ngobrolnya.

Melihatku, Melissa langsung menyapa.

“Tante, barusan kita keluar untuk beli ini. Masih fresh…” Melissa menyodorkan segelas es krim durian favoritku. “Aku tadi keatas, mau ngajak tante, tapi tante sedang tidur kayaknya. Jadi, aku pergi berdua aja sama Om..”

“Kamu keatas?” tanyaku pada Melissa.

Melissa mengangguk sambil tersenyum penuh arti. Aku melotot ke arah Pras dengan geram. Pras mengendikkan bahu seolah tak mengerti apa yang sudah terjadi.

“Aku mau dzuhuran dulu ya. Biar enak nanti..” pamit Melissa. Aku mengangguk.

Pras menatapku mesra. Aku melemparnya dengan lap yang mengantung di kulkas.

“Kenapa?” tanyanya tak mengerti.

Aku tak menjawab. Males. Selalu menginggatkan hal yang sama berulang-ulang membuatku kesal. Pras terlihat berpikir keras.

Tiba-tiba dia terperangah, “aku lupa menutup pintu kamar ya?”

Aku melengos sebal.

Pras menghampiriku sambil membawa es krim durian yang tadi di sodorkan Melisa kepadaku.

“Maaf, aku lupa… beneran!” ucapnya sambil berdiri disampingku.

Aku mendorongnya pergi, “jangan dekat-dekat! Sana!”

Pras tak mau beranjak pergi. Aku bangkit hendak pergi. Tapi Pras menangkap tubuhku dan memeluk ku erat. Aku menepis pelukannya dengan kesal.

Entah kenapa aku merasa sebal sekali padanya. Setelah apa yang dia lakukan tadi, aku merasa muak melihatnya. Rasanya ingin nonjok wajah tampannya sampai jontor berdarah-darah. Begitu pelukannya terlepas, aku cepat cepat beranjak keluar. Pras mengejarku.

“Aish…!  Aish…. jangan marah begitu…” kejarnya. Dia menangkap pergelangan tanganku.

Aku menepisnnya dengan kasar, “sudah ku bilang, aku tidak suka kalau kau seperti itu…”

“Iya, maaf. Aku kelewatan. Maafkan aku ya!” pintanya dengan nada penuh penyesalan.

Aku tidak mau menjawab. Kepalaku rasanya sangat penuh. Dan aku paling tidak suka kalau kepalaku terasa penuh, karena membuatku susah berpikir jernih. Ini akan mempengaruhi mood dan emosiku. Jadi jangan salahkan aku kalau aku merasa sebal dan kesal padanya. Kalau Pras pintar, dalam situasi seperti ini akan lebih baik kalau dia menjauhiku. Tapi Pras tak sepintar kelihatannya, atau mungkin dia tidak mau menjadi pintar. Karena dia terus saja mendekatiku, membujukku dengan wajah penuh sesalnya. Hingga aku tambah kesal.

“Jauh-jauh sana! Sudah kubilang jangan dekat-dekat. Aku masih kesal padamu. Tak ingin melihatmu!” ucapku lirih namun menghujam.

Pras menatapku putus asa, “aku sudah minta maaf!”

“Sudah ku maafkan. Tapi nggak perlu sok dekat gini juga kali..” usir ku.

“Aku ini suamimu. Siapa lagi yang akan mendekatimu kalau bukan aku?”  tanyanya memaksa.

“Siapa saja….” ujar ku ketus.

“Maksudmu laki-laki itu? Yang akan kau temui? kau masih mengingatnya? Mengingat kenangannya? Begitu?”

“Aku tidak pernah bilang begitu. Aku bahkan tidak mengingatnya sampai Melisa menunjukan fotonya padaku.”

“Tapi kau berharap untuk bisa bertemu dengannya kan?”

“Tidak!! Jangan asal menuduh! Jangan sok tahu!” ucapku menahan marah.

“Aku tidak sok tahu. Itu yang biasanya terjadi pada kedua pasangan yang terpisah cukup lama lalu ketemu kembali. CLBK!”

“Kamu mulai cerewet kayak nenek-nenek!” kataku kesal.

NEXT

__Posted on
January 14, 2020
__Categories
Novelet