Sinopsis Siccin 2 bagian 4 by May Zulaikha

Sinopsis Siccin 2 bag 4 by May Zulaikha. Setiap sihir memiliki tujuannya sendiri. Mereka bisa sangat sabar dalam bekerja. Bahkan ada yang memiliki jadwal bekerja.

Hodja memberitahu Hicran kalau salah seorang saudara Hicran menyimpan dendam pada keluarganya. Entah saudara dari pihak ayah atau pihak ibu. Orang itu mengirim sihir 41 jahitan yang di rapal denganberbagai tujuan. Hanya tuhan yang tahu tujuannya apa. Hodja ingin membantu Hicran, tapi pertama-tama mereka harus tahu dulu, siapa yang mengirim sihir itu dan apa tujuannya. Kalau tidak , mereka tidak akan mampu mematahkannya.

Hodja meminta Hicran agar selalu berlindung pada Allah dan menuruh dia memasang kembali kaligrafi ayat kursi yang dia turunkan dari dinding. Hicran kaget. Karennaa tidak ada yang tahu kalau dia telah menyingkirkan ayat kursi itu.

DI rumah, Hicrans sedang menjahit baju ketika tiba-tiba terdengar pintu di buka. Hicran kaget dan melongok ke arah sumber suara, tapi ternyata tidak ada apa.apa. Hicran kembali melanjutkan pekerjaannya. Suara itu terdengar kembali. Hicran bangun dari duduknya. saat menoleh, dia melihat ibunya dnegan wajah mengerikan sedang menjahit lidah neneknya. Hicra berteriak dan menutup mata karena ngeri. Saat dia membuka mata kembali, semu asudah kembali normal. Tidak ada siapa-siap di rumahnya. Dia hanya seorang diri.

Malam itu juga, Hicran pergi kerumah ibunya. Dia bertanya keadaan keduanya apakah baik-baik saja? ibu hicran menjawab kalau keduanya baik-baik saja. Hicran berkata, “tapi kalian berdua tidak terlihat baik-baik saja dalam mimpiku. Karena itu aku memutuskan datang meski sudah larut.”

Ibu Hicran menyahut, “semoga itu tidak buruk. Seperti apa kami dalam mimpimu?”
Hicran berkata sambil tersenyum. “Tidak apa-apa. sudah tak ingat pun…”

Lalu Hicran dan ibunya pergi ke dapur. Ibunya Hicran memasakan sesuatu untuk hicrand an menyuruhnya menyantap. Dalam kesempatan itu, Hicran bertanya tentang bibinya. Ibu Hicran memberitahu kalau dia sedang sakit, Kena kanker payudara.

Lalu Hicran bertanya tentang bibi Zehra yang sudah meninggal. Apakah ibunya masih sering membacakan surat Yasin untuknya? Ibunya mengangguk. “Insyaallah masih.”

Hicran bertanya-tanya kenapa suamii bibinya itu sampai melakukan hal seperti itu, membunuh anak-anaknya, membunuh istrinya lalu bunuh diri.

Ibu Hicran tidak menyahut. Dia terlihat sedih dan menangis. Hicran menenangkan ibunya. Lalu si ibu bercerita kalau paman Hicran sudah terpedaya oleh setan. Dia kalah judi dan bilang kalau tidak bisa mengurus anak-anaknya lagi. Lalu suatu malam dia membunuh Zehra dan kedua anaknya. Padahal dia tidak perlu mengurus anak-anak itu kalau tidak mau. Ibu hicran bersedia mengurus mereka.

Hicran bertanya: “berapa umur anak-anak itu ketika mereka meninggal?
Ibu Hicran menjawab; ” kalau Gulbahar umur 9 tahun dan gulizar umur 4 tahun.”

Hicran minta maaf pada ibunya, karena membuat ibunya sedih dengan menanyakan hal itu. Ibu Hicran berkata kalau dirinya menangisi hal itu selama 25 tahun ini. Sebuah bayangan melintas di benak ibu Hicran. Ibu hicran terlihat tambah tertekan. Hicran menghiburnya.

Hicran menelpon Adnan untuk memberitahu kalau dirinya ada di rumah ibunya. Tapi Adnan tidak mengangkat telpon itu. Dia tak mau bicara dengan Hicran.

Ibu Hicran bersiap untuk tidur. Dar kamar sebelah dia mendengar suara hicran sedang mengadu pada nenek tentang kesedihannya setelah di tinggal mati Birol, putra semata wayangnya. Bahkan karena terlalu sedihnya, Hicran sampai lupa seperti apa wajah Birol. Hicran seperti mau gila di buatnya. Hicran merasa tidak layak berada di mana-mana.

“Kenapa Tuhan membiarkan kita melalui kesakitan seperti ini, nek? Kenapa dia mengambil anakmu, ayahku dan amakku dari kita? mengapa?”

Ibu Hicran yang mendengar keluhan anaknya dari kamar sebelah ikut mennagis.

“Bagaimana kau menanggung semua ini, nek? APakah cukup dengan membisu? apakah kalau aku membisu maka kepedihanku akan hilang?” ucop hicran sambil menangis. Nenek hanya diam membisu.

Tengah malam, ibu Hicran terbangun dari tidurnya. Dia mendengar suara-suara aneh dari bantal yang di tidurinya. Ibu Hicran mengangkat kepala, memeriksa bantalnya tidak ada apa-apa. Dia kembali tidur. Suara itu terdengar lagi. Ibu hicran bangun. Dia kaget saat melihat bantal yang di tidurinya berlubang. Dari lobang itu mengalir darah dan belatung serta benda-benda mengerikan. Di belakang ibu Hicran muncul perempuan-perempuan berbaju hitam. Ibu Hicran berteriak. Semua kembali normal.

Bersambung: Sinopsis Siccin 2 bag 5 (TAMAT)

Read more