3 Wajah 1 Cinta bag 6 by Meysha Lestari

3 Wajah 1 Cinta bag 6 by Meysha Lestari.  Ruq menghapus airmatanya dan menatap Salima dengan perasaan kesal dan terluka. Salima heran, dia menyentuh pipi Ruq sambil bertanya, “Ruq? Ada apa?” Ruq menepis tangan Salima dan menjauh darinya, “kenapa didi? kenapa merebut dia dariku? Aku menyukai Jay Bhaisa. Aku mencintainya didi…” Salima terkesiap tak percaya, “Ruq?”  Salima mendekati Ruq, Ruq dengan perasaan benci melangkah cepat menjauhi Salima, “tidak! Jangan coba membujukku. Hanya karena dirimu kakak tertuaku, maka kau bisa merebut orang yang kucintai seperti itu? Tidak didi, aku tidak bisa terima!”

Ruq hendak beranjak pergi, Salima memanggilnya, “Ruq kau salah duga…” Ruq membalikan badannya dan menatap Salima dengan tatapan penuh selidik. Salima melanjutkan, “aku tidak tahu kalau kau menyukai Jalal. Perjodohan itu terjadi begitu saja. Aku bahkan tidak tahu bagaimana awalnya..” Ruq menyela, :”lalu mengapa kau menerimanya?” Salima terlihat bingung, “ayah yang mengaturnya. Sungguh aku tidak tahu, Ruq. Aku tidak tahu kalau kau menyukainya. Ayo kita temui ayah.”

Tanpa menunggu sahutan Ruq, Salima mengandeng tanganya dan mengajaknya menemui ayah dan ibunya yang saat itu sedang duduk di ruang keluarga. Salima sambil tersenyum menghampiri ayahnya dan memeluk pundaknya dengan manja,  “ayah, coba tebak. Kabar bahagia apa yang kubawa?” Tuan Bharma mengangkat wajahnya berusaha menatap Salima, “apa?” Menawati menatap heran kedua putrinya, Ruq dan Salima, “kabar gembira apa?”

Salima berkata, “ayah harus membatalkan pertunanganku dengan Jalal, karena Ruqaiya, anak kesayanganmu ini ternyata sangat mencintai Jalal, ayah. Untung aku mengetahuinya… kalau tidak kita pasti membuat hati adik bungsuku merana..” Tuan Bharma kaget dan sontak berdiri dari duduknya, “tidak mungkin!”

Ruq yang raut wajahnya terlihat gembira mendengar perkataan Salima, kini terlihat tegang, “apa yang tidak mungkin ayah?”

Tuan Bharmal dengan dingin bertanya, “sejak kapan anak perempuan di keluarga ini memilih pria untuk dijadikan suaminya? Sejak kapan tradisi kita memberikan keistimewaan itu pada wanita? Pertunangan telah di tetapkan, dan itu adalah antara Salima dan Jalal. Itu yang telah di sepakati sejak lama. Dan kau nona muda, kau harus menunggu giliranmu!”

Ruq membantah, “menunggu giliran tidak masalah, ayah. Tapi masalahnya pria yang akan ayah nikahkan dengan Salima didi adalah pria yang kucintai. Apa yang harus ku tunggu kalau pria yang kucintai akan ayah nikahkan dengan kakaku?”  Tuan Bharmaal tersenyum geli, “kau mencintainya? Tapi apakah dia mencintaimu? Dia tidak menolak ketika ayah memberitahunya tentang rencana pertunangan itu. Kalau dia mencintaimu, dia pasti mengatakan sesuatu.”

Ruq terdiam, Salima yang menyahut, “mungkin karena dia tidak tahu ayah. Kita yang harus memberitahunya.  Dan lagi tidak masalah bukan dengan siapa dia bertunangan? Selama dia bertunangan dengan anak ayah..”

Tuan Bharmal membentak, “siapa yang membuat peraturan itu? Jalal akan bertunangan dengan Salima. Karena dia anak perempuan tertua di keluarga ini. dan itulah yang telah di sepakati sejak dulu.”

Salima membujuk ayahnya, “aku tidak ingin menikah untuk sebuah kesepakatan, ayah. Aku ingin menikah dengan lelaki yang mencintaiku dan aku mencintainya.”

Tuan Bharmal mengangkat telunjuknya, “diam. Jangan membantah. Hormati keputusan ayahmu. Kau akan tetap bertunangan dan akan menikah dengan Jalal. Dan kau Ruqaiyaah, cobalah untuk mengendalikan perasaanmu sendiri. Jalal akan menjadi tunangan kakakmu. Dan Jodha… mana Jodha?”

Menawati menatap sekeliling mencari Jodha, “mungkin dia ada di kamarnya. Aku akan memanggilnya!” Ruq sambil menghapus airmatanya menyahut, “Jodha didi sedang ada tugas di luar kota. Nanti malam baru pulang.” Tuan Bharmal berteriak marah, “nanti malam? Sejak kapan anak-anak ku kelayapan malam? Telpon dia, suruh pulang sekarang juga!” Menawati menengahi, “bukan kelayapan, dia kan kerja, yah. “

Tuan Bharmal masih tidak terima, “kerja? kapan dia pergi?” Ruq menjawab, “kemarin pagi.”  Tuan Bharmal histeris, “apa? Pergi kemarin pagi? Sampai sekarang belum pulang? Di mana dia menginap? Dengan siapa dia menginap?” Tuan Bharma terlihat sangat kesal, “Salima!”

Salima berjingkat kaget di teriaki begitu, “apa kerjamu selama ini? Bukankah sudah menjadi tanggung jawabmu untuk mengurus adik-adikmu? Suruh Jodha pulang sekarang juga! Dan mulai sekarang, sampai kalian semua menikah, ayah tidak akan meninggalkan rumah ini lagi!”  Ruq terkesiap mendengarnya. Dia dan Salima saling berpandangan. Wajah Ruq menyiratkan kepanikan yang amat sangat, kalau ayahnya benar-benar tak akan kembali ke Simla, bagaimana dia bisa keluar malam untuk mengawasi Night Club nya?

Menawati mengelus dada suaminya memintanya agar tenang, “ayah..tenang, jangan emosi dulu. Nanti jantungmu kambuh lagi lho.” Lalu Menawati membantu suaminya duduk, Bharmal menurut, “anak-anak… semakin besar semakin susah di atur.” Menawati mengangguk, “biar aku saja yang bicara dengan mereka. Ayah istirahat saja ya… jangan sampai jantung ayah kambuh. Nanti malam calon besan datang lho. Apa kata Humayun Bhaisa nanti?”

Bharmal mengangguk, “kau urus mereka, pastikan mereka semua sudah siap dan ada di rumah ketika Humayun dan keluarganya datang.” Menawati mengangguk  menyanggupi. Menawati lalu berdiri dan dengan isyarat menyuruh kedua putrinya mengikutinya.

Ketiga wanita itu berkumpul di kamar Salima. Menawati bertanya, “Jodha pergi kemana?” Ruq memberitahu Menawati kemana Jodha pergi dan untuk urusan apa. Menawati menyuruh Ruq menelpon Jodha.  Ruq memberitahu Menawati kalau Jodha sedang dalam perjalanan dan nanti malam baru sampai rumah. Menawati dengan cemas berkata, “suruh dia sampai rumah sebelum jam 7 malam.” Ruq menelpon Jodha lagi dan menyampaikana pesan Menawati.  Menawati bertanya, “apa katanya?” Ruq menjawab, “dia bilang akan di usahakan.”

Menawati mengangguk, meski dengan raut muka tidak puas, “sekarang ikuti perintah ayah kalian. Bersiap-siaplah untuk acara nanti malam. ” Menawati hendak pergi ketika Ruq memanggilnya, “ibu… bagaimana dengan Jay Bhaisa?”  Menawati menatap Salima dan Ruq bergantian, “pria yang menentukan dengan siapa mereka ingin menikah. Perjodohan ini sudah di tetapkan sejak lama, antara Salima dan Jalal. Pihak wanita hanya bisa menurut saja, sementara pria mendapat kesempatan untuk menyuarakan pendapatnyaa. Kalau dia mencintaimu, dia akan mengatakannya. Tapi kalau tidak, buang perasaan itu dari hatimu, karena setelah malam nanti, Jay bhaisamu akan menjadi kakak ipamu. Mengerti Ruqaiyah?”

Setelah berkata begitu, Menawati meninggalkan kedua putrinya. Ruq terduduk lemas di tepi tempat tidur sambil berguman, “ini tidak adil!” Salima mendekatinya dan mengelus rambutnya, “jangan khawatir, sebelum acara nanti, aku akan memberitahukan ini pada Jalal. Tapi berjanjilah padaku, apapun yang terjadi, jangan membuat keributan lagi. Jangan membuat ayah emosi. Apapun keputusannya kau harus menerima…karena aku juga akan melakukan hal yang sama. ” Salima menarik nafas dengan sedih, “aku juga tidak ingin menikah dengan pria yang di cintai adikku, Ruq. Tapi kita hanya bisa berusaha…” 3 Wajah 1 Cinta bag 7 by Meysha Lestari

 NEXT