Sembunyi

Aku baru beres update status di facebook. Isi statusku berupa beberapa foto di sebuah situs megalitik yang ada di desaku dengan sebuah caption, “piknik!”.

Ada foto beringin tua yang rindang, sumur tua yang tak pernah kering airnya meski sedang musim kemarau panjang dan foto sebuah lempeng batu raksasa yang katanya merupakan peninggalan zaman purbakala.

Belum juga aku beranjak dari duduk ku, ada pesan masuk. Aku segera membaca pesan itu..

“Meysha, kamu di mana?” tanyanya tanpa basa basi.

“Waalaikum salam. Aku ada di rumah.”

“Oh kupikir masih di tempat yang kamu foto itu..” 

“Nggak. Aku dah pulang. Kenapa memangnya?”

“Aku kan sudah bilang, kamu jangan ngambil foto di tempat-tempat seperti itu. Serem tahu! Kamu tahu nggak kalau disetiap foto yang kamu upload selalu ada penampakan?” 

“Nggak. Kan aku nggak bisa lihat penampakan…”

“Sini aku kasih tahu. Setiap foto yang kamu upload itu, baik yang di tepi hutan, di perkebunan ataupun di kebun pisang, selalu ada penampakan. Bukan 1 tapi buaanyak Meysha. Seolah-olah mereka sedang menunggu…”

“Menunggu apa?”

“Aku tidak tahu! Mereka selalu ada di setiap fotomu. Dan sepertinya selalu ada di sekitarmu…”

“Biarin aja yang penting tidak menganggu!” 

“Kata siapa tidak menganggu? aku terganggu!” tulisnya. “Kamu ingat tidak, waktu kamu pamer pohon sukun yang berbuah lebat itu?”

“Itu bukan pohon sukunku..”

“Aku tidak bertanya tenttang sukunnya! Kamu tahu apa yang sedang berdiri dibawahnya?”

“Apa?”

“Wanita berbaju putih dengan rabut panjang tergerai…”

“Wow…. yang benar?”

“Bener! Saat kamu pamer pagar baru, kamu tahu apa yang berdiri berjajar di luar pagar rumahmu?”

“Apa?”

“Makhluk halus dalam berbagai bentuk. Mereka seperti sedang antri…. menunggu…”

“Menunggu apa?”

“Mana aku tahu! Yang jelas mereka selalu ada disekitarmu. Bukan 1 atau 2, tapi banyak. Kamu tinggal di mana sih? Daerah keramat?”

“Tidak! Aku tinggal disebuah daerah yang masih termasuk dalam gugusan bukit barisan…” jelasku.

“Gini deh, daripada kamu posting-posting foto seram begitu, mendingan kamu posting fotomu sendiri. Selama ini, kamukan nggak pernah upload foto sama sekali.”

“Pernah! Tuh foto profil…” 

“Foto bercadar itu? Memang itu fotomu?”

“he em…”

“Itu bukan fotomu! Dalam terawanganku, kamu itu sepertinya berjilbab…”

Aku tertawa tergelak menedengar tebakannya. “Aku memang berjilbab. Tapi kamu nggak perlu menerawang diriku untuk mencari tahu tentang hal itu. Kamu cukup lihat profil Ig atau Twitter ku..”

“Kamu punya IG dan Twitter?”

“Punya dong! Kita kan netizen zaman now… hahaha..”

Lama tidak ada balasan. Dia pasti sedang melihat akun IG dan twitterku.

Lalu dia kirim pesan lagi, “rasanya aku bisa tahu kenapa banyak makhluk halus di sekelilingmu..”

“Iyakah? apa itu?”

“Coba kirim fotomu..!” pintanya.

“Untuk apa?”

“Aku ingin mengenalmu. Kita temanan sudah 5 tahun, tapi kau tidak pernah menunjukan foto dirimu.”

“Fotoku seram. Lebih seram dari penampakan-penampakan itu. Aku takut yang meliat fotoku ketakutan dan kena sawan..”

“Ayolah, jangan becanda! Aku serius! Sekali ini saja. Aku penasaran.”

“Aku dua rius…”

“Kau punya khodam ya?” tanyanya tiba-tiba. “ilmu turunan? zimat?”

“Nggak punya!”

“Pasti punya!”

“Jangan ngeyel. Kalau aku bilang tidak ya pasti tidak!”

“trus kenapa aku tidak bisa melihat dirimu dengan jelas? selalu saja kabur, seperti ada kabut yang menutupi..”

“Masak?”

“Iya. Karena itu aku penasaran, ingin melihat fotomu!”

Akhirnya, demi memenuhi rasa ingin tahunya dan dengan begitu banyak syarat yang harus dia penuhi, akhirnya aku memoto diriku sendiri dan mengirimkan foto itu padanya.

Dan balasan darinya…

“Kamu punya indra ke enam?”

“Tidak!”

“Kamu tahu aku sedang apa sekarang?” 

“Sedang apa?”

“Ayolah, jangan pura-pura! Kamu pasti tahu aku sedang apa! Katakan saja, tidak perlu malu!”

“Malu kenapa? Aku memang tidak tahu kok! Lagian bagaimana bisa tahu, aku di sini dan kamu di sana….”

“Aku yakin kamu bisa melihatku!”

Aku tidak membalas. Dia mengirim pesan lagi dan lagi….

Aku mengabaikannya…

Aku lihat dia uring-uringan dan membanting hpnyaa. Dan tanpa sengaja, hp itu jatuh kedalam bathtub tempatnya berendam. Dia sontak berdiri. Aku melihat tubuh telanjangnya sekilas sebelum aku menarik sukmaku kembali. 

Begitu kembali, aku melihat begitu banyak entitas berdiri diluar pagar rumahku. Menunggu dengan harap-harap cemas. Aku tahu apa yang mereka tunggu. Mereka menunggu pintu batinku terbuka. Agar mereka bisa menyusup masuk. Tapi selama aku tidak bisa melihat mereka, merekapun tidak akan bisa melihatku.

Mungkin mercusuarku sudah mulai terendus, tapi tirai pelindung yang dipasang almarhum eyang akan menyembunyikan aku dari penglihatan mereka. Aku akan aman, sampai waktu yang di tentukan tiba. Dan aku selalu berharap waktu itu tidak akan pernah tiba, sampai ajal menjemputku….

__Posted on
January 18, 2020
__Categories
Creepy Pasta