Menunggu

Menunggu

Awalnya, aku berdiri di tepi tebing terjal. Tegap tanpa gentar. Dasar tebing gelap kelabu. Horizon terlihat samar. Angin bertiup, menyapu bulu-bulu lembut di tengkukku.Lalu Langit mulai temaram, awan berarak menghitam.

Tiba-tiba muncul rasa takut. Kaku, dingin…dan beku.Kakiku gemetar, hatiku berdesir. Aku menatap awan hitam dengan kuduk merinding. Rasa tak gentar lenyap seketika. Aku berlari, berlindung di bawah rimbun dedaunan. Agar arak-arakan awan berlalu dan tak melihatku. Tapi kegelapan tak mau pergi. Dia menghalangi mentari yang tinggal setombak tinggi. Membuatku resah, putus asa, dan hilang arah.

Tanpa mentari aku tersesat. Kakiku tersandung lalu aku melayang jatuh. Terjungkal. Terpuruk rendah bersimpuh menyentuh tanah. Rasa sakit menyergap seketika. Aku tak bisa kemana. Ingin kuteriak kan satu nama, tapi tersangkut di lidah. Lalu aku meringkuk diam. Menunggu pertolongan….. yang tidak pernah datang.

***

Itu awalnya…. Awal mula aku terdampar disini. Menjadi penunggu masjid agung di puncak sebuah gunung. Jika kalian dalam perjalanan dari Bandar Lampung menuju daerah Pesisir Selatan, kalian akan melihat Masjid itu berdiri megah di tepi tebing yang curam. Di pinggir jalan raya Lintas Sumatera yang menghubungkan Tanjung Karang – Liwa. Kalian bisa melihat masjid itu, tapi tak kan bisa melihat aku. Karena aku tidak lagi punya raga. Aku adalah sukma yang lepas dari tubuh manusia. Entah sudah berapa lama aku di sini. Aku tidak ingat lagi. Aku bahkan sudah lupa siapa adanya diriku dan darimana asalku. Penantian yang terlalu lama menghapus sebagian besar ingatanku. Tapi aku menyimpan ingatan-ingatan baru..


Tentang orang-orang yang ku lihat dan kutemui. Mungkin kalian salah satunya. Sayangnya aku tidak tahu nama kalian. Tapi aku tahu apa yang kalian lakukan. Ketika mampir ke masjid itu.

Sebagian besar kalian, singgah di masjid bukan untuk sholat. Tapi untuk berselfi kan? Aku tahu kok. Ada juga yang datang untuk pacaran. Mojok di sudut masjid berduaan. Saling pegang, saling raba dan saling berpelukan. Jangan pikir karena berada di pojokkan maka tidak ada yang melihat kalian. Karena aku melihat dan yang lain-lain yang berada disini juga melihat.

Ada yang geram dan kesal dengan tingkah laku kalian, ada juga yang menyemangati kalian. Kalau aku sih, biasa saja. Aku tahu bagaimana rasanya jadi remaja. Dipenuhi oleh darah muda. Selalu penasaran dan ingin mencoba yang di larang. Dan melanggar segala aturan tanpa peduli akan datang sesal kemudian.


Dan sesal itulah yang selalu menjadi pengiringku kini. Andai aku menuruti apa kata ibuku, aku tidak akan terdampar di sini. Amarah membuatku lepas kendali. Karena di larang pacaran dengan pria yang ku cintai, aku pergi dari rumah dan pergi ke tebing ini untuk menenangkan diri. Hanya untuk menenangkan diri saja. Tapi takdir berkata lain. Entah bagaimana aku tiba-tiba berada di dasar tebing. Terpuruk, meringkuk, dalam dingin hingga aku menemukan jalan untuk merangkak ke atas sini. Tapi ketika aku sampai di sini, aku tidak lagi menemukan tebing yang kudatangi dulu. Tapi sebuah masjid yang Indah. Dan aku senang, karena aku tidak lagi sendirin. karena banyak yang datang.

Terkadang ada satu juga dari pengunjung yang ku kenal. Kadang aku ingin ikut mereka pulang. Tapi hati kecilku melarang. Aku di suruh menunggu…
Dan sampai kini, aku masih menunggu. Entah menunggu apa…. aku sudah lupa.

__Posted on
February 10, 2020
__Categories
Creepy Pasta